Kisah Heroik Pak Harto Berjuang Melawan Penjajahan
Editor: Irvan Syafari
JAKARTA — Buku tentang Pak Harto sudah sangat banyak ditulis. Putri pertama Pak Harto, Hj Siti Hardijanti Rukmana atau yang terkenal dengan nama Tutut Soeharto, mengaku, sudah banyak buku tentang Pak Harto yang ia berikan kata pengantarnya.
Tapi tampaknya buku berjudul “Pak Harto Sang Patriot: Opsir Koppig dari Resimen Tiga” berbeda dengan buku-buku lainnya. Buku terbitan Yayasan Harapan Kita, yang disusun Noor Johan Nuh itu mengembalikan kenangan Tutut ke masa-masa heroik Pak Harto berjuang melawan penjajahan dan di saat itu pula Tutut dilahirkan.
Menyimak judul buku ini terdapat kata “Koppig” terdengar asing di telinga kita. Kata ini berasal dari Bahasa Belanda yang artinya adalah keras kepala, di mana Bung Karno menyebut Pak Harto sebagai opsir koppig.
Latar belakang ceritanya mengapa Pak Harto disebut sebagai opsir koppig, dimulai dari penolakan Letnan Kolonel Soeharto terhadap perintah Presiden Soekarno pada 2 Juli 1946, yang merupakan sebuah keberanian yang sangat langka dalam menegakkan dan menjaga hirarki militer.
Ketika itu keduanya berada di dalam peran masing-masing letupan-letupan gejolak dinamika perjuangan sebuah bangsa yang masih sangat muda ketika itu.
Hasilnya, Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Serangan Umum 1 Maret 1949, adalah satu-satunya perwira militer yang disebut “koppig” oleh Presiden Soekarno. Namun, Presiden Soekarno pula yang 16 tahun kemudian melantik Letnan Kolonel Soeharto, sang opsir “koppig” sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat Republik Indonesia pada 14 Oktober 1965. Sejarah mencatat, pada akhirnya Pak Harto yang kemudian menggantikan Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia.
Buku kecil yang padat berisi 145 halaman ini terbagi dalam 12 bagian. Pada bagian pertama, “Membangunkan Raksasa Tidur” menceritakan sosok-sosok tokoh besar dalam sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Panglima Jenderal Soedirman dan Letnan Kolonel Soeharto. Ketiganya bisa disebut “raksasa” yang terbangun dari tidurnya untuk bersatu padu dalam melawan penjajahan.
Selanjutnya, pada bagian kedua, “Sebelum Jagung Berbunga”, membeberkan tentang kemunculan sosok Pak Harto, yang diceritakan seorang pemuda cerdas yang pendiam dan sederhana, namun ia ligat, tegas dan teguh pendirian. Kondisi ekonomi keluarganya membuat pemuda Desa Kemusuk, Godean, Yogyakarta ini hanya bisa bersekolah hingga SMP Muhammadiyah di Yogyakarta. (halaman 15).
“Pada masa itu saya mendengar tentang protes menentang penjajahan Belanda. Tentang adanya rapat-rapat umum di Kota Yogya yang digerakkan pada tokoh politik. Sampai di sekolah pun para pelajar ikut membicarakan apa yang telah didengar di rapat-rapat umum itu. Tetapi saya masih lebih fokus sekolah dan tamat pada 1939,” kata Pak Harto dalam buku “Soeharto; Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”.
Soeharto muda sempat bekerja di bank desa dengan menjadi pembanti klerk, pemberi kredit dan penagih yang berkeliling dengan sepeda dan berbaju Jawa lengkap, blangkon dan surjan. Tetapi bukan itu panggilan jiwanya. Soeharto menyadari panggilannya sebagai pejuang.
Waktu itu ia masih remaja saat mendaftar sebagai tentara Belanda dan diterima bergabung dengan Koninkijk Nederland Indische Leger (KNIL) sejak Juni 1940 dan memilih ikatan dinas kortverband karena perkembangan karirnya lebih menjanjikan.
Ketika itu menjadi serdadu Belanda bukanlah hal yang aneh bagi pemuda pribumi, terutama yang berasal dari daerah tandus dan tidak punya pekerjaan. Sama sekali bukan karena idelogi atau loyalitas kepada Belanda, melainkan lebih kepada memenuhi tuntutan hidup.
Cukup banyak mantan serdadu KNIL yang di kemudian hari memegang peranan besar dalam organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jenderal A.H. Nasution, misalnya. Juga para seniornya yang masa setelah Indonesia merdeka juga menjadi jenderal seperti Urip Sumohardjo, T.B. Simatupang, Ahmad Yani, Alex Kawilarang dan lain-lain,
Setelah itu, bagian ketiga, “TNI Bukan Tentara Biasa” mengungkap fakta sejarah, tentara Republik Indonesia membentuk dirinya sendiri, menentukan panglimanya sendiri, bukan atas keputusan pemerintah. Ini yang membedakan TNI dari tentara di negara lainnya. Sejak awal TNI berdiri memang bukan organisasi biasa. TNI benar-benar anak kandung revolusi kemerdekaan Indonesia.
Bagian keempat, “Pertempuran-Pertempuran Awal”, membahas pasukan Mayor Soeharto yang telah dibentuk pada era Barisan Keamanan Rakyat (BKR) menjadi sangat terkenal setelah sukses melucuti senjata pasukan Jepang dalam pertempuran di Kotabaru. Pertempuran ini terjadi 7 Oktober 1945, di kawasan yang semula menjadi hunia favorit orang-orang Belanda di Yogyakarta.
Bagian Kelima, “Opsir Koppig dari Resiman Tiga, merupakan pembahasan mengenai keberanian Letkol Soeharto yang menegakkan hirarki militer, meski bertentangan dengan perintah Presiden yang juga adalah Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia. Bung Karno sampai marah dan menyebut Letkol Soeharto sebagai opsir koppig karena berani melawan perintahnya.
Bagian Keenam, “Met of Zonder Pemerintah” membahas suasana tegang yang terus meningkat antara Indonesia dan Belanda, yang akhirnya meletup juga, yaitu agresi Belanda yang kedua, pada 19 Desember 1948, tentara Belanda menyerang Yogyakarta, setelah agresi pertama gagal pada 21 Juli 1947, dua tahun lalu dalam perang di Surabaya dan Ambarawa.
Bagian Ketujuh, “Tunggu Perintah Saya” mengungkapkan, sehari setelah pendudukan Belanda di Yogyakarta, Letkol Soeharto langsung mengkonsolidasikan pasukannya yang tersebar di sekitar Yogyakarta.
Bagian Kedelapan, “Kisah Seorang Pengawal”, menceritakan tentang Kapten Tjokropranolo, pengawal Panglima Besar Soedirman, yang diutus menyampaikan surat untuk Sultan Hamengku Buwono IX di Keratn Yogyakarta.
Bagian Kesembilan, “Serangan Umum 1 Maret 1949” mengungkapkan, ketika Letkol Soeharto memimpin langsung 2000 pasukannya menyerang Belanda dari empat penjuru Yogyakarta.
Sebuah pertempuran yang memancing emosi manusia dari sisi yang tidak biasa. Betapa tidak, di sepanjang jalan besar dan kampung-kampung sederhana di luar kota Yogya yang dilalui pasukan TNI, penduduk sipil membekali para pejuang dengan berbagai bentuk ransum logistik berupa makanan, air minum dan perlengkapan lainnya.
Bagian Kesepuluh, “Bunga Pertempuran”, yang menguak tentang Panglima Besar Soedirman yang sangat puas dengan keberhasilan serangan Umum 1 Maret 1949. Dalam salah satu suratnya kepada Pak Harto, Pak Dirman menyebut Pak harto sebagai “Bunga Pertempuran”.
Bagian Kesebelas, “Jangan Bilang TNI Tidak Ada”, membahas tentang eksistensi pasukan TNI dengan segenap aparat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta.
Kesempatan masuk ke Yogyakarta itu digunakan Letkol Soeharto untuk bertemu dengan Ny Siti Hartinah, yang baru saja melahirkan Siti Hardijanti Hastuti, putri sulung mereka. Kesempatan yang sudah berbulan-bulan dinantikannya.
Terakhir, Keduabelas, “Saya Percayakan Keselamatan Negara Kepadamu”, membahas tentang Letkol Soeharto yang dapat meyakinkan Panglima Soedirman untuk kembali ke Ibu Kota Yogyakarta. Karena memang hanya Letkol Soeharto yang diinginkan Panglima Soedirman untuk menyakinkannya dan membawanya ke Yogyakarta.
Dalam bagian ini, terkuak pesan terakhir Pak Dirman yang mempercayakan keselamatan negara dan keselamatan dirinya kepada Pak Harto. Hingga kelak, Pak Harto, “Sang Bunga Pertempuran” menunaikan takdirnya sebagai orang nomer satu di negara ini, Presiden Republik Indonesia.
Buku ini cukup mendetail dalam menceritakan babak-babak sejarah penting Indonesia. Penuturannnya runut sekali. Referensinya sangat banyak yang menjadi bobot buku ini memang patut dan layak dibaca dan diapresiasi.
Data Buku:
Judul Buku: Pak Harto Sang Patriot; Opsir Koppig dari Resimen Tiga
Penulis: Noor Johan Nuh
Penerbit: Yayasan Harapan Kita, Jakarta
Terbitan: Maret 2018
Halaman: 145 halaman
Harga: Rp. 30.000,-