Kebudayaan tak Berbentuk Harus Terus Dilestarikan

Ilustrasi - Dok CDN

BANTUL – Wakil Bupati Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Abdul Halim Muslih mengatakan, kebudayaan adiluhung yang tidak berbentuk harus terus dilestarikan karena itu merupakan cerminan kehidupan masyarakat daerah ini.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih di Bantul, Sabtu, mengatakan, kebudayaan itu bentuknya beragam ada yang tampak dan tidak tampak, yang memiliki bentuk dan yang tidak memiliki bentuk, namun semua sama pentingnya karena sebagai hakekat kehidupan masyarakat.

“Tetapi yang tidak tampak dan berbentuk inipun harus kita terus lestarikan karena ini menyangkut identitas dan peradaban kita sebagai masyarakat Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat yang memiliki kebudayaan,” katanya.

Kebudayaan yang tidak tampak dan berbentuk itu seperti ‘unggah-ungguh’ (sopan santun), tepo seliro (tenggang rasa), gotong royong, tulung-tinulung (tolong-menolong). Kebudayaan ini tidak seperti karawitan, alat kesenian yang berbentuk.

“Kebudayaan yang diwariskan para leluhur kita ini telah diakui dunia sebagai kebudayaan adiluhung, bahkan beberapa kali kita kedatangan tamu dari luar negeri, mereka selalu terkagum-kagum dan tidak bisa meniru kebudayaan kita,” katanya.

Ia mengatakan, karena kebudayaan yang sudah jadi tradisi masyarakat Yogyakarta itu pada saat bencana gempa bumi bisa dilakukan mitigasi bencana dan bisa merevitalisasi bangunan-bangunan yang rusak dalam kurun waktu yang singkat.

“Mereka menduga kita punya alat-alat berat, punya sistem informasi teknologi yang canggih tetapi mereka salah, karena yang kita miliki adalah kuatnya kebudayaan gotong royong, tulung tinulung yang ada di masyarakat kita,” katanya.

Wabup mengatakan, karena itu pula orang luar negeri kaget dan mengaku sulit untuk bisa meniru kebudayaan yang ada di Bantul untuk dibawa ke negaranya. Sehingga kebudayaan ini perlu terus dilestarikan.

“Ini menunjukkan bahwa kebudayaan itu sesuatu yang terbangun puluhan bahkan ratusan tahun dan ini tidak boleh punah hanya karena serbuan kebudayaan asing yaitu kapitalisme, paham serba uang, hedonisme atau faham serba menang sendiri,” katanya.

Oleh sebab itu, kata dia, faham-faham yang berakar dari kebudayaan asing tersebut tentu harus diwaspadai agar tidak melunturkan kebudayaan daerah ini, sementara beragam kebudayaan di Jawa harus dipertahankan.

“Bentuk-bentuk kebudayaan kita harus kita pertahankan sampai kapanpun, karena ini menjadi kepentingan kita untuk mempertahankan identitas kita sebagai manusia Jawa, manusia Mataram Ngayogyakarto Hadiningrat,” katanya. (Ant)

Lihat juga...