Hujan Saat Panen Turunkan Kualitas Padi Petani Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Hujan yang terjadi di wilayah Lampung Selatan selama hampir satu pekan, menyebabkan tanaman padi roboh, sehingga menyulitkan proses panen dan tertundanya waktu perontokkan padi.

Sumini (40), petani padi di Sesa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, menyebut, robohnya tanaman padi berimbas pada sulitnya pemotongan batang padi dan memakan waktu lebih lama. Hujan juga membuat petani menunda pemotongan hingga perontokan padi secara tradisional.

Sumini menyebut, saat hujan, selain faktor menjaga kesehatan, sebagian petani terpaksa berteduh menghindari bahaya petir. Pemotongan, menumpuk batang padi hingga perontokan padi dilakukan saat kondisi cuaca terang. Hujan disebutnya kerap datang tiba-tiba dengan waktu yang tidak bisa diprediksi, dan bertepatan dengan puncak masa panen raya padi di wilayah tersebut.

Padi milik Gunawan yang belum kering terpaksa dihamparkan dan diangin-anginkan di teras rumah [Foto: Henk Widi]
“Kami biasanya bisa menyelesaikan proses pemanenan padi dalam waktu dua hari, dari mulai memotong padi, menumpuk hingga merontokkan, namun akibat hujan bisa tiga hari baru selesai,” terang Sumini, Selasa (24/4/2018).

Selain proses pemanenan padi, pengangkutan hasil panen padi juga lebih sulit dibandingkan saat kondisi cuaca panas. Jarak antara sawah dengan akses jalan raya membuat gabah hasil panen lebih lambat diangkut akibat kondisi jalan sawah yang licin, dan kendaraan tidak bisa masuk ke lokasi lahan sawah.

Petani bahkan terpaksa membayar upah kuli angkut yang biasa mengangkut karung berisi gabah ke lokasi pengumpulan gabah, sebelum diangkut menggunakan kendaraan.

Kondisi hujan juga berdampak pada proses pascapanen gabah. Hal tersebut dialami Ngadimin (40), yang sudah membawa pulang hasil panen miliknya. Gabah hasil panen kerap dijemur dengan menggunakan terpal di halaman rumah, namun hujan sepekan membuat gabah miliknya belum kering. Saat kondisi panas terik berlangsung, pengeringan hanya membutuhkan waktu dua hari. Namun, hujan membuatnya membutuhkan waktu hingga empat hari, bahkan sepekan.

Keterbatasan lokasi untuk menjemur gabah pascapanen, membuat petani seperti dirinya memilih menjemur dengan terpal. Bagi pemilik gabah hasil panen dalam jumlah banyak penjemuran kerap dilakukan di lokasi pabrik penggilingan padi.

Lokasi yang luas sekaligus tempat penghampar padi yang berada di dalam ruangan membuat gabah lebih mudah dikeringkan. Penutupan dengan plastik dan terpal bisa dilakukan dengan cepat menggunakan sistem buka tutup.

“Di lokasi penjemuran gabah milik pabrik penggilingan, dibuat alur-alur khusus, sehingga saat hujan air tidak menggenang pada gabah yang dijemur,” terang Ngadimin.

Penggunaan terpal di halaman rumah yang dilipat saat hujan turun disebut Ngadimin masih berpotensi membuat gabah berkecambah. Selain membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan penjemuran normal, penyortiran juga terpaksa dilakukan saat padi berkecambah akibat kadar air yang tinggi. Imbasnya harga jual gabah menjadi turun, demikian halnya saat dijual dalam bentuk beras.

Gunawan (30), pemilik padi sebanyak dua ton juga menyebut, sudah sepekan proses penjemuran padi miliknya belum kering. Sistem penjemuran bertahap dilakukan menghindari padi berkecambah, meski kerap turun hujan tiba-tiba.

Padi yang sudah kering dalam penjemuran selama satu hari selanjutnya diwadahi dengan karung. Penjemuran ulang rencananya akan dilakukan saat musim panas berlangsung.

“Sebagian gabah dihamparkan dan diangin-anginkan di teras, sebagian di dalam rumah, agar tidak lembab, bisa rusak dengan harga jual gabah rendah,” cetusnya.

Akibat hujan dengan kadar air tinggi pada gabah, harga per kilogram gabah panen yang semula Rp4.400, kini menjadi Rp4.100. Saat dijemur dan selanjutnya digiling, sebagian gabah kerap berwarna pucat dan memiliki harga jual yang rendah.

Harga beras normal di penggilingan biasanya dijual Rp9.000 per kilogram, akibat penjemuran tidak sempurna kualitas beras menjadi buruk dan dihargai Rp8.000 per kilogram.

Keterbatasan lahan dan modal, disebutnya membuat petani di wilayah tersebut tidak memiliki ruang penyimpan sekaligus pengeringan. Ia juga menyebut, sistem penjemuran manual masih diandalkan petani setempat. Lahan penjemuran, gudang penyimpanan kering sekaligus alat pengering sebagian hanya dimiliki oleh pabrik penggilingan padi.

Lihat juga...