Puncak Panen Petai, Pekebun dan Pemborong Lamsel Raup Laba
Editor: Irvan Syafari
LAMPUNG — Sejumlah pemilik kebun dengan penanaman sistem “multy purpose tree species” (MPTS) di Lampung Selatan mulai melakukan pemanenan komoditas pertanian petai (parkia speciosa).
Menurut seorang pekebun, Zaldi (40) sebagian besar warga desa Klaten pemilik kebun yang masih luas menanami kebun miliknya dengan tanaman petai, bahan lalapan dan kuliner tersebut. Ia sendiri menanam petai sejak sepuluh tahun silam. Dia menjual hasil petai ke pedagang sayuran, pengepul dan sebagian dikonsumsi sendiri.
Zaldi mengatakan, sebanyak sepuluh batang tanaman petai miliknya bisa memproduksi rata rata 8 hingga 10 empong pada tanaman usia 8 hingga 10 tahun. Sementara pada tanaman muda usia 5 hingga 6 tahun bisa mendapatkan sebanyak 10 hingga 20 empong buah petai. Semakin tua umur pohon petai, berdampak pada penurunan produksi petai yang banyak diminati oleh penyuka lalapan tersebut.
“Sebagian tanaman petai yang saya tanam merupakan jenis petai kualitas bagus yang sudah bisa berbuah usia tiga tahun. Sementara sebagian pohon petai warisan orangtua berasal dari jenis petai alam yang baru berbuah usia enam tahun,” kata Zaldi saat ditemui Cendana News di kebun petai miliknya, Senin (19/3/2018)
Komoditas pertanian petai kerap ditanam dengan sistem MPTS bersama beberapa jenis tanaman kelapa, durian, jengkol, rambutan serta jenis tanaman menahun lain. Sistem pertanian tersebut diakui Zaldi umum dilakukan oleh petani di Lampung Selatan untuk memperoleh hasil maksimal. Pada lahan perkebunan jagung, pohon petai sengaja ditanam di sepanjang tepi jalan dan batas kebun sebagai peneduh.
Zaldi mengungkapkan tingkat konsumsi yang tinggi akan petai membuat harga petai cenderung stabil meski mengalami kenaikan saat pasokan kurang. Zaldi mulai menjual petai dari harga semula perkeris atau papan seharga Rp300 hingga kini Rp1.000 per keris di tingkat petani. Harga tersebut bahkan lebih tinggi di tingkat pengecer yang ada di pasar dan pedagang keliling hingga Rp4.000 bahkan Rp5.000 per keris.
Selama menanam pohon petai Zaldi mengaku menjual dengan sistem borongan bahkan kepada para pemborong atau dikenal penebas. Pemborong akan datang ke kebun dan melakukan estimasi jumlah buah yang bisa dipanen. Harga yang ditawarkan pemborong Rp500 per keris hingga Rp600 atau mencapai Rp50.000 hingga Rp60.000 per empong dengan ukuran satu empong sebanyak 100 keris.
“Perhitungan pemborong di antaranya buah petai ada yang dimakan bajing, sehingga kualitas jelek dan kesulitan memetik buah petai dengan sistem panjat,” terang Zaldi.
Memiliki sebanyak sepuluh pohon dengan rata rata mendapatkan delapan empong atau sekitar 800 keris, dirinya bisa mendapatkan Rp480.000 sekali panen. Meski sudah diborong, ia menyebut kerap masih bisa memanen sisa pemborong karena buah petai yang belum tua, masih akan menjadi hak pemilik kebun. Selain hasil panen petai dirinya pun masih bisa memperoleh hasil dari beberapa hasil kebun di antaranya kelapa, pisang dan jengkol.
Januri (40), salah satu pemborong atau penebas buah petai menyebut sudah menjadi pemborong sejak tiga tahun terakhir. Selain petai jenis komoditas perkebunan yang kerap diborong di antaranya durian, jengkol, rambutan, pisang serta buah buahan bernilai jual. Khusus untuk petai dirinya mengaku, melakukan proses memborong pada masa panen Februari hingga Maret.
“Pekan pertama bulan Februari memang sudah ada yang berbuah, namun belum banyak. Baru pada Maret panen petai sudah merata di kebun warga,” beber Januri.
Setiap hari Januri mengaku berkeliling untuk mencari pemilik kebun petai. Beberapa pemilik kebun petai disebutnya kerap tidak menjual petai yang dimiliki. Sementara sebagian sengaja menjual terutama yang memiliki banyak pohon petai.
Proses tawar menawar disebutnya kerap dilakukan hingga harga jadi dan buah petai akan dipanen pada saat sudah berisi. Umumnya pemilik akan menjual dengan harga Rp60.000 per empong dengan isi 100 keris.
Januri menyebut harga tersebut akan lebih tinggi saat dijual ke pengepul dengan harga perempong mencapai Rp90.000 hingga Rp100.000 atau seharga Rp900 hingga Rp1000 per keris.
Syarat petai berkualitas baik yang diterima pedagang berwarna hijau segar, tanpa bercak sehingga bisa disimpan lama. Para pengepul akan menjual ke pengecer dengan harga Rp120.000 hingga Rp150.000 per empong sesuai jarak masa panen.
“Saat belum puncak masa panen harganya masih mahal namun saat sudah puncak masa panen stok melimpah harga bisa lebih murah,” beber Januri.
Selain dijual dalam bentuk empong dan keris, pada pedagang pengecer petai disebutnya dijual dalam bentuk kupasan. Satu kilogram petai disebutnya diperoleh dari sekitar 15 keris bahkan kurang tergantung isi petai yang dipanen.
Pembeli disebutnya, merupakan pedagang kuliner yang membuat sambal dan sayur dengan campuran pelengkap petai dan dibeli Rp50.000 per kilogram.
Masa panen petai disebut Januri, ikut menjadi sumber pendapatan baginya yang kerap menjadi tukang ojek. Kerap berkeliling mengantar pelanggan ojek disebutnya memberi peluang usaha sebagai pemborong buah diantaranya petai.
Buah petai yang sudah dibeli dari petani selanjutnya dijual ke pengepul hasil pertanian di desa Kekiling untuk dikirim ke Jakarta bersama komoditas lain.
Januri menyebut salah satu kendala sulitnya mencari petai akibat sebagian pemilik kebun banyak yang menebang pohon tersebut. Ia berharap, petani yang memiliki lahan bisa memanfaatkan tanaman petai untuk sumber penghasilan.
Harga yang menjanjikan dan permintaan tinggi untuk usaha kuliner diakuinya bisa memberi penghasilan bagi petani dan pemborong dari kebun yang ditanami berbagai jenis pohon termasuk petai.