Penjualan Sepi, Pedagang Caping di Solo, Pasrah

Editor: Koko Triarko

SOLO — Sejumlah pedagang caping di Pasar Gawok, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah, mengeluhkan lesunya penjualan produk kerajinan anyaman bambu tersebut.  Hal ini karena minat masyarakat terhadap anyaman bambu yang berfungsi sebagai topi petani itu mulai menurun. 

Salah satu pedagang caping, Sumiatun, mengatakan, penjualan caping di pasar yang digelar setiap pasaran Pon dan Legi dalam kalender Jawa itu tidak seramai dulu. Dalam sehari, pedagang yang menyuguhkan berbagai jenis camping itu mengaku tak lebih dari 10 buah caping yang laku terjual.

Kondisi itu jauh berbeda dengan minat pasar yang tinggi sebelum tahun 2000-an. Lesunya pasar caping di pasar tradisional, menurut dia tak lepas dari menurunnya minat gerenasi muda terhadap profesi seorang petani. Bahkan, dari sekian pelanggan setianya, hampir sebagian besar merupakan petani yang sudah memasuki usia nonproduktif.

“Yang beli banyak yang sudah sepuh (tua). Ada yang karena sudah rusak capingnya, ada juga yang membeli untuk persediaan,” ucap Sumiatun kepada Cendana News, Selasa (6/3/2018).

Sumiatun mengakuk sudah lebih dari 20 tahun berjualan caping di Pasar Gawok, Sukoharjo. Sejauh ini, dirinya telah mengalami masa kejayaan dalam memasarkan salah satu kerajinan anyaman bambu tersebut. Sebagai pedagang caping, dirinya juga tak mematok harga yang tinggi. “Ada yang Rp10 ribu, ada pula yang Rp20 ribu hingga Rp30 ribu. Tergantung besar kecilnya caping dan  tingkat kesulitan anyamannya,” jelas dia.

Menurutnya, lesunya pasar kerajinan caping ini telah lama dialami oleh pedagang di pasar Gawok. Sebab, sejauh ini caping belum mampu merebut perhatian masyarakat lainnya, khususnya di luar profesi sebagai petani.

“Meskipun ada, jumlahnya hanya sedikit. Kadang yang  sekadar suka lalu beli satu atau dua,” imbuhnya.

Hal serupa dikatakan Subagyo, pedagang caping di Pasar Gawok lainnya. Menurutnya, caping sebagai produk kerajinan anyaman bambu memiliki nilai seni tersendiri. Meski caping hingga kini masih dikenal sebagai topi petani, pada dasarnya caping dapat digunakan untuk hiasan dinding maupun rumah.

“Tapi yang beli untuk hiasan rumah jumlahnya belum bisa banyak. Mungkin yang perlu ditekankan adalah mencintai produk lokal Indonesia yang memiliki nilai seni dan keunikan tersendiri, seperti caping,” ungkap pedagang 54 tahun itu.

Bagi pedagang caping, lesunya penjualan topi petani ini merupakan hal yang wajar, karena kondisi pertanian di Indonesia yang juga belum bisa membaik. Dia berharap, pemerintah mampu meningkatkan daya saing hasil pertanian lokal Indonesia, sebagai langkah melindungi petani dari kepunahan, karena banyak ditinggalkan oleh generasi muda saat ini.

“Harapannya, profesi tani kembali disenangi. Kalau hasil pertanian bisa menjadi tumpuan untuk mencukupi kebutuhan hidup, otomatis minat ke petani juga akan naik. Mudah-mudahan swasembada pangan bisa terwujud lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...