Gerilyawan IS di Filipina Rencanakan Serangan Baru
MANILA – Sekitar 300 anggota kelompok bersenjata pendukung Islamic State (IS) di Filipina disebut-sebut kembali menggalang diri dan merencanakan serangan baru. Kelompok tersebut pada tahun lalu menguasai kota di Filipina Selatan selama lima bulan.
Juru bicara divisi infanteri pertama angkatan bersenjata Filipina Mayor Ronald Suscano mengatakan, gerilyawan dari kelompok Maute merupakan unsur terbesar dari kelompok tersebut. Mereka berhasil melarikan diri sebelum militer mengambil alih kota Marawi dan menewaskan pemimpin utama mereka.
Pertempuran di Marawi adalah kemelut keamanan terbesar di Filipina sejak Perang Dunia Kedua. Amerika Serikat pada pekan lalu menyatakan Maute sebagai kelompok teroris. “Mereka kembali mengorganisir diri, kembali menggelar pelatihan dan perekrutan untuk serangan lain,” kata Suscano, Senin (5/3/2018).
Dari investigasi yang dilakukan, kelompok tersebut memecah diri menjadi beberapa kelompok kecil. Beberapa di antaranya berhasil menyelinap ke Manila untuk melancarkan pengeboman.
Filipina adalah negara dengan mayoritas penduduk Kristen, namun kelompok yang mengatas-namakan Islam di kawasan selatan telah mengangkat senjata di negara tersebut selama bertahun-tahun. Beberapa di antara mereka punya hubungan dengan kelompok internasional seperti Al Qaeda dan IS.
Polisi setempat mengatakan, dua gerilyawan Maute telah ditangkap di dekat sebuah stasiun kereta di kawasan padat Tondo di Manila. Mereka diparmerkan di depan media dan mengaku sebagai anggota Maute. Namun, dua orang itu mengatakan berada di Manila untuk bersembunyi dan bukan untuk melancarkan serangan.
Kepala Angkatan Bersenjata Filipina, Letnan Jenderal Rolando Bautista, mengatakan, bahwa mereka yang lolos dari pertempuran di Marawi membawa serta banyak uang tunai hasil rampokan. Uang itu membantu mereka melakukan rekruitmen baru dan membeli senjata untuk menggelar serangan di kota lain.
Penundaan pembangunan kembali Marawi juga membantu kelompok itu merekrut para warga yang kecewa. Mereka yang disasar umumnya adalah pemuda dengan pendidikan rendah.
Sementara itu, kepala kelompok separatis Kubu Pembebasan Islam Moro, yang mencapai kesepakatan damai dengan pemerintah dan menolak kehadiran IS, pada Senin (5/3/2018) kembali mengingatkan bahwa para ekstrimis tengah mengorganisir diri di selatan.
Pada bulan lalu, dikabarkan bahwa pemberontak berencana menyerang dua kota kawasan selatan, yakni Iligan dan Kotabato. Aksi yang disusun direncanakan dengan bantuan gerilyawan asing, yang terusir dari Suriah dan Irak. (Ant)