Kunjungi Yerusalem Castaneda Cari Tempat Untuk Kedutaan Guatemala

Ilustrasi wilayah Gaza/ Foto: Dokumentasi CDN

YERUSALEM – Duta besar Guatemala Sara Castaneda berada di jalanan Yerusalem pada Senin (5/3/2018). Castaneda turun langsung untuk melihat bangunan di wilayah tersebut untuk memindahkan kedutaan negaranya ke Yerusalem.

Guatemala bergabung dengan Amerika Serikat untuk memindahkan keduataan mereka ke Yerusalem. Rencana kedua negara tersebut dianggap oleh Palestina sebagai tindakan tidak sah dan dapat membunuh kesempatan perdamaian.

Duta Besar Sara Castaneda menolak berbicara dengan wartawan yang melihatnya sedang ebrada di kantor agen bangunan di sebelah konsulat Guatemala. Di lokasi tersebut ditemukan juga gedung konsulat AS di Yerusalem barat.

Sactaneda berjalan kaki dengan seorang makelar barang tak bergerak dan seorang pria lain, yang menunjukkan bangunan saat mobilnya berhenti di tepi jalan. Seorang diplomat Israel, yang pernah berhubungan dengan Castaneda menyebut sang Duta Besar sedang mencari tempat untuk kantor kedutaannya.

Guatemala adalah satu dari segelintir negara pendukung pengakuan Presiden AS Donald Trump pada 6 Desember atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sementara sebagian besar negara di dunia menolak keputusan yang diambil saat bagian kota itu direbut selama perang pada 1967 serta dianggap wilayah yang diduduki.

Status Yerusalem adalah salah satu hambatan terbesar dalam kesepakatan damai antara Israel dan Palestina. Keduanya menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka. AS adalah sumber bantuan penting bagi Guatemala dan Trump mengancam akan memotong bantuan keuangan ke negara pendukung resolusi PBB.

Presiden Guatemala Jimmy Morales, yang mendapat dukungan dari basis orang-orang Kristen konservatif mengatakan, bahwa kedutaan tersebut akan pindah ke Yerusalem dua hari setelah AS, pada pertengahan bulan Mei mendatang. Pejabat tinggi Palestina mengatakan bahwa sikap Morales tidak mengherankan karena dia berbagi sikap sama dengan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

“Tambahkan ke bahwa ekstremisme dan literalisme Kristen evangelis dan Anda memiliki kombinasi faktor mematikan yang membuat ketiga orang ini  Netanyahu, Trump dan Morales  bergerak menuju penerapan strategi dan kebijakan yang ilegal dan itu menghancurkan kemungkinan perdamaian,” kata Anggota Komite Pelaksana Organisasi Pembebasan Palestina Hanan Ashrawi.

Sebelum di 1980, Guatemala dan puluhan negara lainnya mempertahankan sebuah kedutaan di Yerusalem. Pernyataan pendek Israel pada Juni 1980 tentang undang-undang yang menyatakan bahwa Yerusalem ibu kota tidak terpisahkan dan abadi menyebabkan resolusi Dewan Keamanan PBB menyeru negara dunia memindahkan kedutaan mereka ke wilayah Tel Aviv. (Ant)

Lihat juga...