GAPKI Kalsel Gencar Luruskan Isu Negatif Bisnis Sawit
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BANJARMASIN — Isu negatif terkait lingkungan dinilai menjadi salah satu hal yang bisa menyulitkan perkembangan bisnis perkebunan kelapa sawit di masa depan.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Totok Dewanto (GAPKI) Kalsel menyebutkan, terkait hal tersebut, pihaknya lebih menggencarkan diskusi dan sosialisasi kepada seluruh steakholders terkait dan Pemda untuk meluruskan isu yang dianggap menyesatkan tersebut.
“Kita menyadari di Kalsel isu negatif terkait lingkungan pada bisnis kelapa sawit sangatlah besar. Bahkan karena isu tersebut banyak sekali berbagai pihak yang menentang hadirnya perkebunan kelapa sawit di Banua,” jelas Totok Dewanto, Senin (5/3/2018).
Kami tidak ingin isu negatif ini terus berlarut dan bisa membuat bisnis kelapa sawit di Kalsel jadi kurang berkembang. Padahal sebenarnya jika dipahami secara benar banyak manfaat yang diperoleh dari berkembangnya bisnis sawit di Kalsel, tambahnya.
Padahal, bisnis kelapa sawit tersebut dapat ikut menggeliatkan perekonomian di daerah, penyerapan tenaga kerja yang meningkat hingga bertambahnya pengembangan infrastruktur pendukung.
“Efek dominonya banyak sekali, bahkan jika ditambah dengan masuknya perusahaan pengolahan kelapa sawitnya, tentu akan makin terasa,” ungkapnya.
Bedasarkan data yang GAPKI Kalsel miliki, hingga tahun 2018 ini total perkebunan kelapa sawit yang di garap oleh Anggotanya di Kalsel mencapai 250.000 hektar dengan jumlah produksi CPO mencapai 1,2 juta ton pertahun.
Disebutkan, angka produksi tersebut sebenarnya bisa lebih meningkat lagi, jika Pemerintah Daerah mau melepaskan sekitar 10 persen hutan lindungnya untuk dimanfaatkan untuk keperluan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kalsel.