BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar Festival Balaganjur dan Parade Ogoh-Ogoh di Desa Karetan, Purwoharjo. Kegiatan tersebut untuk menunjukkan adanya kerukunan umat beragama di Banyuwangi.
Festival digelar dalam rangka menghadapi Hari Raya Nyepi umat Hindu tersebut mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat di Purwoharjo. Wilayah tersebut merupakan kecamatan yang dihuni berbagai umat beragama. Tempat ibadah dari berbagai agama terletak berdekatan di kecamatan tersebut.
Meski festival digelar dalam rangka Hari Raya Nyepi, semua masyarakat dari berbagai agama membaur di festival tersebut. Tidak jauh dari lokasi parade, ribuan umat Islam menggelar pengajian di Pondok Pesantren Salafiyah, Al Falah Purwoharjo. Usai pengajian mereka ikut menyaksikan Festival Balaganjur tersebut.
Bahkan sebelum membuka Parade Ogoh-Ogoh dan Balaganjur, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyempatkan untuk hadir dalam acara pengajian. “Hari ini kita menyaksikan bagaimana kerukunan umat beragama di Purwoharjo. Mari kita terus jaga kerukunan semacam ini,” kata Anas di depan masa pengajian.
Festival Banjaran yang digelar murni swadaya oleh masyarakat mulai 2018 ini masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Keberadaanya diharapkan Anas bisa semakin menguatkan kerukunan antarumat beragama. Parade diikuti oleh 35 ogoh-ogoh berbagai bentuk, mulai dari karakter hanoman, rahwana, dan karakter lainnya. Satu ogoh-ogoh rata-rata harus digotong oleh 10 orang.
Di belakang ogoh-ogoh terdapat barisan balaganjur yang mengiringi. Terdapat 45 grup balaganjur. Balaganjur berasal dari kata Bala dan Ganjur. Bala memiliki arti pasukan atau barisan, sedangkan Ganjur berarti berjalan. Balaganjur berarti pasukan atau barisan yang sedang berjalan, dengan membawa gamelan. (Ant)