UM Gelar Aksi Keprihatinan untuk Pak Guru Budi
Editor: Koko Triarko
MALANG – Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka dengan kejadian meninggalnya Ahmad Budi Cahyanto S. Pd., (Bapak Guru Budi) yang tewas dianiaya siswanya sendiri.
Tidak hanya keluarga yang merasa kehilangan, seluruh civitas Universitas Negeri Malang (UM) tempat Budi menimba ilmu kesenian juga turut kehilangan. Hal ini diwujudkan dengan diadakannya ‘Aksi Keprihatinan dan Doa Bersama untuk Guru Budi’, dan penyampaian pernyataan sikap UM terhadap peristiwa yang membawa korban Bapak Guru Budi.
“Tentu, kami sangat berduka dan sedih dengan kejadian ini. Kami juga sedih melihat keluarganya, terutama istrinya yang sedang mengandung lima bulan yang mungkin nanti anaknya akan lahir tanpa sosok seorang ayah,” jelas wakil rektor tiga, Syamsul Hadi, Kamis (8/2/2018).

Selain itu, pihaknya juga merasa sangat kehilangan, karena Pak Guru Budi adalah salah satu alumni UM dari fakultas sastra, sehingga sebagai almamater almarhum, pihaknya sangat berduka.
Lebih lanjut, Syamsul menyebutkan, kejadian meninggalnya guru Budi merupakan fenomena yang cukup mengagetkan dan sangat menyedihkan bagi dunia pendidikan, karena dalam budaya Indonesia semua pasti sudah menyadari, bahwa seharusnya interaksi antara guru dan murid adalah bagaikan hubungan antara anak dengan orang tua, bukan justru sebaliknya.
“Pada karakter dan budaya bangsa Indonesia, seharusnya guru adalah sosok yang harus diagungkan oleh semua murid dan peserta didik. Tetapi, apa yang terjadi di daerah Sampang saat ini justru sebaliknya dan sangat memprihatinkan,”ujarnya.
Menurutnya, peristiwa yang terjadi di Sampang cukup mengagetkan dunia pendidikan. Apakah sudah sebegitu jauh kehilangan rasa hormatnya anak-anak didik kepada seorang guru? Apakah sudah sebegitu jauh ketidakhormatan anak-anak terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan? Apakah sudah sebegitu jauh anak-anak tidak menyadari pentingnya menghormati orang tua dan guru?
“Seiring dengan rasa keprihatinan tersebut, tentunya kami berharap Pak Budi adalah korban terakhir. Dan, apa yang dilakukan oleh siswa di Sampang merupakan peristiwa yang terakhir, sehingga jangan pernah terjadi lagi,” harapnya.
Melalui acara ini, katanya, pihaknya ingin membangun kesadaran masyarakat, para orang tua, para peserta didik dan para pejabat yang bertanggung jawab terhadap dunia pendidikan, untuk menyadari, bahwa kejadian ini bukan merupakan persoalan sepele. Kejadian ini adalah peristiwa yang harus menjadi kepedulian bersama.
“Kita harus bergerak bersama menyadarkan para generasi muda, bahwa belajar menghormati guru adalah bagian dari tugas mereka untuk menghargai ilmu pengetahuan dan pendidikan,”sebutnya.
Syamsul juga berharap, agar pemerintah bisa membuatkan peraturan mengenai perlindungan terhadap guru yang tentunya bukan hanya perlindungan secara fisik, tetapi juga perlindungan terhadap profesinya.
“Kita harapkan pemerintah bisa membuat aturan mengenai perlindungan guru itu. Terutama ketika para guru sedang menjalankan tugasnya,” harapnya.
Ada pun pernyataan sikap UM adalah;
– Mengutuk segala tindakan kriminal yang dilakukan oleh siapa pun dan dalam bentuk apa pun, terhadap para guru dalam melakukan tugas profesionalnya;
– Meminta kepada aparat keamanan dan para penegak hukum untuk melakukan pengamanan dan penanganan secara sungguh-sungguh dan seadil-adilnya terhadap guru yang mendapatkan tindak kekerasan;
– Meminta kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk mengeluarkan peraturan tentang perlindungan profesi guru.
– Mengimbau kepada rekan-rekan guru dan organisasi guru untuk menjalin dan meningkatkan soliditas dan solidaritas, serta empati terhadap teman guru yang menjadi korban berbagai tindak kekerasan.