TNI dan Warga Bangun Talud Antisipasi Banjir Bengawan Solo
Editor: Koko Triarko
SOLO — Antisipasi bencana banjir, masih menjadi prioritas utama bagi warga yang tinggal di bantaran Sungai Bengawan Solo maupun anak sungainya. Personel Kodim 0735/ Solo pun turut diterjunkan untuk membangun talud bagi warga yang kerap terkena banjir luapan Sungai Bengawan Solo.
Salah satunya adalah pembangunan talud di Kampung Bibis Wetan, RT 4, RW 21, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Melalui program Karya Bakti Daerah (KBD) tahap I 2018, prajurit TNI selama 21 hari diterjunkan untuk membantu warga membangun tanggul di pemukiman yang menjadi langganan banjir.
“Diturunkannya prajurit dalam kegiatan ini supaya bekerja sesuai kemampuan masing-masing dengan rasa iklas, demi membantu meringankan beban masyarakat. Melalui Karya Bakti Daerah, kita tingkatkan pemberdayaan masyarakat dan lingkungan untuk pencegahan bencana banjir,” kata Komandan Koramil 02/Banjarsari, Kapten Inf. Paidi, di sela kegiatan KBD, Selasa (20/2/2018).
Dipilihnya lokasi Kampung Blibis Wetan, jelas Kapten Inf. Paidi, karena merupakan pemukiman warga di bantaran Kali Anyar sebagai anak Sungai Bengawan Solo yang rawan longsor. Dibangunnya talud itu, diharapkan dapat meminimalkan terjadinya longsor dan juga sebagai penahan air, agar warga tak lagi terkena banjir saat hujan deras mengguyur wilayah Solo.
“Kami juga ingin mempercepat akselerasi pembangunan di daerah, guna memperkokoh persatuan dan kesatuan menuju terwujudnya ketahanan wilayah yang tangguh,” tekannya.
Pembangunan talud sepanjang 50 meter dan tinggi 6 meter itu menghabiskan dana Rp160 juta, yang berasal dari APBD Kota Surakarta dan swadaya masyarakat. “Untuk APBD Kota sebesar Rp150 juta, sedangkan yang Rp10 juta dari swadaya masyarakat,“ tambah Lurah Gilingan, Joko Partono.
Joko Partono menyampaikan, KBD merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa melalui percepatan pembangunan di daerah. Kegiatan ini membuktikan, bahwa masyarakat dan aparat dapat bersinergi dalam pembangunan, baik fisik maupun nonfisik dalam menjaga keutuhan NKRI.
“Program ini sekaligus bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian budaya gotong-royong untuk mendukung pembangunan Infrastruktur di lingkungan masing-masing,” pungkasnya.