Sulit Daratkan Perahu, Nelayan Berharap Sungai Pegantungan Segera Dinormalisasi
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Nelayan Dusun Pegantungan, Desa Bakauheni, Lampung Selatan, mulai kesulitan mendaratkan perahu melalui muara Pegantungan, akibat pendangkalan yang disebabkan material pasir Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan longsoran bukit pematang kubang.
Suyitno, Kepala Dusun Pegantungan, menyebut, pendangkalan sudah terjadi sejak 2014, meski sebelumnya kapal nelayan berukuran panjang 25 meter juga sudah tidak bisa masuk ke alur sungai yang dekat dengan perkampungan nelayan.
Sungai Pegantungan yang sudah mengalami pendangkalan dengan lebar semula sekitar 12 meter, menyebabkan nelayan harus mendaratkan perahu di sekitar muara sungai berjarak 300 meter dari perkampungan nelayan.
Suyitno menyebut, keluhan warga nelayan bagan, nelayan tangkap sudah disampaikan kepada pemerintah Kecamatan dan Pengembang Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
“Koordinasi dengan pengembang Jalan Tol Trans Sumatera kami lakukan, karena sesuai dengan peninjauan, pendangkalan sungai terjadi akibat material pasir dan lumpur yang merupakan dampak pembangunan jalan tol selama tiga tahun terakhir,” terang Suyitno, Rabu (7/2/2018).
Berdasarkan data, menurut Suyitno, di wilayah Pegantungan saat ini warga yang berprofesi sebagai nelayan tergabung dalam kelompok nelayan Citra Bahari dan Daffa, dengan anggota kelompok masing-masing 10 orang nelayan, terdiri dari nelayan pancing dan nelayan bagan, yang kini harus mendaratkan perahu di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Muara Piluk akibat dermaga tambak di Pegantungan rusak sejak 2010.
Berdasarkan rencana, tempat pendaratan ikan di Muara Piluk akan dipindah ke Pegantungan dengan luas lahan sekitar dua hektare, untuk persiapan relokasi area dermaga yang terdampak pembangunan dermaga VII Pelabuhan milik PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni.

Normalisasi dilakukan dengan pengerukan dasar sungai, sekaligus pembuatan talud di sepanjang bantaran sungai, untuk menghindari sungai meluap ke area perkampungan warga seperti yang terjadi pada Selasa (6/2), dan merendam 12 rumah warga di Dusun Pegantungan.
Selain bisa menjadi alur masuk, katanya, normalisasi sungai juga akan memudahkan nelayan melakukan distribusi hasil tangkapan ikan, di antaranya sebagian nelayan produsen perebusan teri.
Singke (45), nelayan tangkap setempat, menyebut dampak pendangkalan dan penyempitan sungai Pegantungan, membuat perahu-perahu kecil berukuran enam meter kini sudah tak bisa masuk ke alur sungai. Sebagian nelayan memilih menambatkan perahu ke wilayah yang jauh dari perkampungan, tepatnya di muara sungai pegantungan yang terus mengalami pendangkalan.
“Warga sudah berusaha melakukan pengerukan pasir secara manual menggunakan cangkul, namun volume material lumpur dan pasir terus bertambah selama proses pembangunan jalan tol trans Sumatera,” beber Singke.
Sebagai upaya melindungi pesisir pantai dari banjir dan terjangan banjir, lanjut Singke, sebagian warga menanam mangrove di alur masuk sungai, sekaligus sebagai penahan terjangan angin saat musim angin barat.