Review Film ‘Meet Me After Sunset’, Tentang Cinta dan Adat Ketimuran

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Kalau sedang jatuh cinta, apapun akan dilakukan. Tak peduli apa kata orang, yang penting bisa selalu deka. Bahkan rela berkorban untuk mewujudkan impian dan keinginan kakasihnya. Kalau orang sedang jatuh cinta, dunia seperti hanya milik mereka berdua. Demikian yang mengemuka dari film produksi MNC Pictures berjudul ‘Meet Me After Sunset’.

Film ini diawali dengan adegan kepindahan Vino (Maxime Bouttier) dari Jakarta ke Ciwidey, Bandung. Vino yang tidak ingin pindah, sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung menggunakan mobil menunjukkan wajah cemburut. Meski alam yang terbentang indah, tidak dapat mengukir senyum di wajahnya. Berbeda dengan, ayah Vino (Oka Sugawa) yang senyum terus menunjukkan rasa kegembiraannya atas kepindahan itu. Sedangkan Ibu Vino (Feby Febiola) tidak bisa dipungkiri begitu gelisah, meski harus tetap gembira juga.

Begitu sampai Ciwidey, Vino tampak tertidur lelap. Rencana Ibu Vino untuk membangunkan dicegah dan ayah Vino yang menyarankan untuk membiarkannya bangun sendiri. Ketika Vino bangun barulah sang ayah yang bijak itu mengajaknya untuk masuk ke rumahnya yang baru.

Vino tampaknya masih kesal karena orangtuanya pindah tanpa meminta persetujuannya. Ia ogah-ogahan melangkah, bahkan begitu berat hati masuk ke dalam rumahnya yang baru. Tapi sebisa mungkin kedua orangtuanya memberikan pengertian karena kepindahannya tentu demi kebaikannya sendiri.

Pindah rumah baru, Vino juga pindah sekolah baru. Sebagai siswa baru tampaknya ia menjadi pusat perhatian siswa-siswi di sekolah baru itu. Saat pelajaran tiba, ia diperkenalkan oleh guru (Iszur Muchtar) pada teman-teman sekelasnya. Icha (Margin Wieheerm), salah seorang siswi yang cantik, tampak menatap Vino dengan sorotan mata penuh cinta. Icha tampak begitu terlihat sekali menyukai Vino.

Saat malam menjelang, Vino yang masih kesal dan susah tidur itu terjaga. Saat itulah ia melihat Gadis (Agatha Chelsea) berjalan sendirian sambil membawa lampu teplok antik. Gadis berjalan penuh keriangan. Langkahnya begitu ringan menuju ke arah bukit. Vino sangat tertarik dan langsung melompat dari jendela kamarnya. Vino mengikuti Gadis yang berjalan menembus malam di antara rimbun dedaunan. Saat sampai bukit, Vino yang melihat kecantikan Gadis langsung menyapa. Tapi yang disapa tampak begitu terkejut dan langsung menghilang ditelan kabut.

Keesokannya, Vino kembali melihat Gadis ke bukit dan kembali mengikutinya. Gadis yang memang cantik menawan membuat Vino jatuh cinta pada pandangan pertama. Kali ini, ia kembali mencoba untuk bisa berkenalan, tapi begitu mendekat ia disemprot dengan cairan yang membuatnya kelabakan. Kini Gadis dengan tenang pergi menghindari Vno.

Besoknya, Ibu Vino mengajak Vino untuk berkenalan dengan tetangga. Sebagai warga baru tentu ia memang harus memperkenalkan diri pada tetangga sekitar rumahnya. Sebenarnya, Vino tidak mau berkenalan dengan tetangganya karena matanya masih sakit kena semprot cairan pedih dari Gadis, tapi ibunya mengancam kalau tidak mau menemani maka sang ibu tidak mau memberinya uang saku kalau ke sekolah. Vino terpaksa mau menemani ibunya, tapi betapa Vino terkejut karena ternyata tetangganya adalah guru sekolahnya. Tapi lebih terkejut lagi, ternyata Gadis adalah anak guru sekolahnya.

Vino semakin menunjukkan kesukaan pada Gadis, tapi ternyata Gadis dekat dengan petugas penjaga hutan bernama Bagas (Billy Davidson). Mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil. Vino berharap bisa kembali bertemu dengan Gadis, tetapi perempuan cantik itu tak pernah terlihat di siang hari. Gadis memang keluar rumah di saat semua orang sedang lelap tidur. Vino terpaksa melawan dinginnya malam, demi untuk bisa bertemu dengan Gadis.

Film ini cukup memberi hiburan, tapi juga memberi sesuatu yang kini hilang. Kisah hubungan remaja yang sehat dengan mematuhi adat ketimuran. Meski masih tetap ada unsur kekinian dengan menghadirkan medsos, seperti facebook, instagram, bahkan viblog yang sekarang sedang digandrungi anak jaman now.

Dalam film ini, sutradara Danial Rifki tampak memberi warna yang beda dari film-film drama remaja sekarang yang rata-rata berkiblat pada kebarat-baratan. Tampaknya ada yang ingin disampaikan dari sutradara bertangan dingin itu, yaitu adat ketimuran yang adiluhur harus kembali dihadirkan.

Alur cerita film ini mengalir lancar. Haqi Achmad penulis skenario spesial drama remaja semakin menunjukkan kepiawaiannya. Dalam film ini, ia dibantu Fatmaningsih Bustamar dalam menangani dialog-dialog romantis nan puitis. Haqi memang tahu betul apa yang dilakukannya. Pengalaman mengarap sekitar 15 skenario yang membuatnya memang perlu bantuan orang lain dalam menggarap skenario film yang memang ditaburi kata-kata romantis nan puitis ini.

Akting Maxime Bouttier semakin matang, bahkan dalam film ini ia tampak begitu pas berperan sebagai Vino, sebagai bad boy yang kemudian jadi baik hati karena jatuh cinta. Dalam film ini, ia tampak gokil, jahil bahkan bisa membuat kesal Gadis sekaligus juga memberi kesan yang begitu mendalam pada diri perempuan cantik menawan hati. Dibanding film-film sebelumnya, Vino tampak lebih matang dan maksimal aktinnya dalam film ini.

Sedangkan, Agatha Chelsea tampil begitu mempesona. Seperti putri dalam dongeng, tapi juga menjadi perempuan biasa yang penuh kelemahan. Chelsea memantaskan diri menjadi rebutan hati dari dua lelaki ganteng, yaitu Maxime Bouttier dan Billy Davidson. Aura kecantikannya begitu tampak dan natural.

Adapun Billy Davidson bisa menjadi idola baru. Meski dalam film ini karakternya begitu dingin. Sosok lelaki yang tak gaul. Bahkan ia diolok-olok temannya karena tak bisa romantis. Aktingnya mencuri perhatian penonton. Gayanya persis seperti Nikolas Saputra dalam Ada Apa dengan Cinta?. Hanya saja wajah indonya jadi tampak ia seperti aktor Hollywood.

Menonton film ini tak seperti drama remaja biasanya. Ada yang dihadirkan yakni Adat Ketimuran yang selama alpa dalam film-film Indonesia yang hampir rata-rata berkiblat Barat. Namun kemasan film ini tak bisa dipungkiri juga tetap berbau Hollywood, seperti film-film fantasi produk Dusney yang mengisahkan negeri dongeng. Tapi meski demikian, kita tentu tetap memberi apresiasi, usaha untuk menghadirkan Adat Ketimuran yang dibarengi dengan keindahan alam yang begitu memanjakan indra penglihatan kita.

Lihat juga...