Peringatan HPN, Iwan Piliang: Jangan Lupakan Adinegoro
Editor: Irvan Syafari
PADANG — Djamaluddin Datuak Marajo yang merupakan seorang tokoh di Indonesia yang lahir Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, memiliki sejarah yang cukup besar di dunia pers Indonesia. Mungkin tidak begitu banyak yang tahu dengan nama Djamaluddin.
Jika pun mengenalnya, mungkin saja Djamaluddin yang lain dikenal di sekitar Anda, seperti seorang guru sekolah, dosen, ustad, atau yang lainnya.
Djamaluddin Datuak Marajo yang juga merupakan seorang adik dari Pahlawan Nasional Prof. Mohammad Yamin itu, juga dikenal dalam sebuah penghargaan bergengsi bagi pers di Indonesia yaitu Adinegoro.
Penasehat Asosiasi Pemilik Media Online (Aspemo) Iwan Piliang memiliki catatan rentetan sejarah tentang sosok Adinegoro dan cerita tentang perjuangannya dalam menulis.
Djamaluddin merupakan seorang pelajar yang menempuh pendidikan di Sekolah School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) kodokteran. Ketika itu, Djamaluddin tidak diperbolehkan menulis. Namun, dikarenakan keinginan menulis itu, Djamaluddin menggunakan nama Adinegoro.
Ketika itu Adinegoro melakukan perjalanan ke Belanda. Di sana ia menulis buku yang berjudul ‘Melawat ke Barat’. Lalu, buku itu dikirim secara berseri dalam tiga jilid ke Indonesia, yang ditujukan kepada Panji Pustaka, yang merupakan cikal bakal Balai Pustaka.
“Saya pernah memberikan kuliah umum ke Fakultas FISIP Universitas Indonesia tentang Adinegoro. Sekitar seribu mahasiswa di sana hening dan tidak tahu, ketika saya menanyakan sudahkah membaca buku Melawat ke Barat,” ujarnya, ketika dihubungi Cendana News, Kamis (8/2/2018) malam.
Hal tersebut menunjukkan, bahwa sosok seorang Adinegoro telah terlupakan.
Menyikapi momen penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Sumatera Barat, Iwan melihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) lupa dengan sosok seorang Adinegoro, kelahiran Sawahlunto.
Kini, peringatan HPN diselenggarakan di Sumatera Barat, sosok Adinegoro seakan tidak diperkenalkan dalam momen HPN yang diselenggarakan di kampung halamannya sendiri. Bahkan, hampir setiap memperingati HPN, Penghargaan Adinegoro yang merupakan penghargaan bergengsi bagi insan pers, terus berkumandang untuk memperebutkan penghargaan tersebut, tetapi sudahkah mengenal siapa itu Adinegoro? Dan, apakah ia kelahiran Pulau Jawa atau Sumatera Barat?
“Silahkan jika pemerintah di Sumatera Barat mencocok-cocokkan tema HPN dengan pariwisata. Tetapi, tentang Adinegoro perlu untuk diingat, sehingga namanya dalam peringatan HPN itu ada makna yang perlu dipahami,” sebutnya.
Iwan Piliang juga menyebutkan, persoalan membaca yang perlu dilakukan oleh insan pers saat ini, karena pada dasarnya pers itu adalah insan yang suka membaca.
Membaca sastra dan menghasilkan karya sastra, dan karya itu menjadi rujukan hati nurani dan budi. Sementara esensinya, pers itu verifikasi dengan kerendahan hati tiada henti.
Momen HPN adalah momen yang perlu menjadi evaluasi bagi insan pers. Sudahkah menjalani profesi dengan baik? Apakah insan pers melakukan pemberitaan yang memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat? Maka, insan pers diharapkan memperbanyak membaca.
Kini, dengan adanya kedatangan Presiden Joko Widodo ke Sumatera Barat dalam rangkaian kegiatan HPN 2018, Iwan Piliang mencoba menyampaikan kepada Presiden, agar bersedia mendatangi Kampung Talawi, yang merupakan ahli waris keluarga Adinegoro.
Diharapkan, kedatangan Presiden Jokowi juga bukan hanya kegiatan rutin bersifat seremoni, yang justru akan terlihat lebai. Tapi, dengan kedatangan Presiden ke kediaman Adinegoro dan memberikan apresiasi, maka akan memberikan bobot tersendiri dalam peringatan HPN, dan mengingatkan sosok jurnalis sejati. Bahwa, ada sejarah besar di Sumatera Barat ini, karena salah satu tokoh pers Indonesia lahir di Sumatera Barat, yakni di Kota Sawahlunto.