Perajin Batu Bata Palas Gunakan Tanaman Kayu Lahan Tidak Produktif

Editor: Irvan Syafari

LAMPUNG — Para pembuat batu bata dan genteng dari Dusun Kuningan, Desa Tangjungsari, Kecamatan Palas menggunakan bahan bakar begitu efesien. Mereka memanfaatkan lahan tidak produktif untuk menanam tanaman kayu keras.

Di antara mereka terdapat, Mianto (30) menanam ratusan batang pohon akasia daun lebar dan sengon pada lahan kosong miliknya. Tanaman kayu yang ditanamnya digunakan untuk berbagai fungsi, seperti pembuatan kusen.

Selain memiliki nilai ekonomis dengan harga per kubik Rp800.000 untuk kayu sengon dan Rp1 juta per kubik, untuk kayu akasia daun lebar, kedua jenis kayu bisa menjadi penahan longsor tanah yang berada di dekat aliran sungai tersebut.

“Awalnya lahan yang saya tanami kayu sengon dan akasia daun lebar merupakan lahan bekas pembuatan batu bata. Selanjutnya lahan ini dipergunakan sebagai lokasi penanaman kayu setelah saya memperoleh lokasi baru untuk pembuatan batu bata dan genteng,” terang Mianto saat ditemui Cendana News di lahan kebun akasia daun lebar miliknya, Selasa (6/2/2018)

Akasia daun lebar yang ditanam selama dua kali pada masa panen pertama menghasilkan kayu untuk bahan bangunan pembuatan kusen dan palet. Sementara pada bagian ranting dan kayu potongan bisa dipergunakan untuk membakar batu bata dengan harga jual Rp350.000 sebanyak satu bak truk L300.

Kayu akasia daun lebar kayu sengon bisa dipergunakan sebagai bahan bangunan, juga kerap dipergunakan untuk membakar bata dan genteng.

Lahan yang dpergunakan untuk tanaman kayu umumnya adalah lahan yang tidak rata, setelah diperguanakn bahan pembuatan batu bata. Lahan tidak rata terbengkalai dan kerap menjadi kubangan air. Lahan itu bisa dipulihkan dengan penanaman pohon kayu.

“Manfaat penanaman kayu akasia daun lebar dan sengon selain sebagai konservasi lahan juga sumber bahan bakar,” ujar Mianto.

Selama ini kebutuhan akan kayu untuk membakar batu bata didatangkan dari beberapa wilayah terutama dari sejumlah penggergajian kayu, serta hasil bongkaran tanaman karet yang sudah tidak produktif, termasuk kayu sengon dan akasia yang kerap dijual dengan sistem kubikasi.

Pembuatan batu bata itu juga bisa mengandalkan hasil limbah kayu dari sisa penggergajian kayu dan limbah sekam padi.

Selain sebagai tanaman investasi yang bisa dipanen saat usia enam tahun, ia menanam kayu sengon sebagai bahan kayu bakar untuk memasak terutama pada bagian ranting terutama saat harga gas sulit dicari dan langka.

Kebutuhan akan kayu bakar disebutnya selain bisa menghemat pengeluaran untuk pembelian kayu bakar dalam pembuatan batu bata diakuinya ikut menghemat pengeluaran memasak tanpa harus mempergunakan gas elpiji.

Pembuat batu bata lain di Desa Tanjungsari bernama Nyoto (45) menyebut penanaman kayu akasia daun lebar di wilayah Palas tersebut ikut mendukung usaha pembuatan batu bata, terutama para penanam kayu akasia. Mereka kerap menanam kayu dalam waktu tidak bersamaan sehingga bisa dipanen berkala.

Selain kayu albasia keberadaan penggilingan padi penghasil sekam gabah yang bisa dipergunakan sebagai pelengkap pembakaran batu bata.

“Kayu bakar memang menjadi kebutuhan yang penting dalam usaha pembuatan batu bata, sehingga dengan adanya penanaman kayu akasia dan sengon bisa menyokong para perajin batu bata dan genteng,” ujar Nyoto.

Kayu akasia daun lebar dan sengon juga punya fungsi sebagai konservasi lingkungan di wilayah tersebut. Selain ditanam di pekarangan tidak produktif, sebagian tanaman kayu sengon dan akasia daun lebar juga dipergunakan sebagai peneduh jalan.

Kayu bakar dari hasil penebangan kayu sengon dan kayu akasia daun lebar-Foto: Henk Widi.
Lihat juga...