Perairan Ketapang jadi Sumber Penghasilan Utama Warga

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Sulitnya mencari pekerjaan di sektor formal, membuat warga di wilayah pesisir Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, menjadikan perairan laut sebagi sumber mata pencaharian utama.

Sodik (40), warga Desa Legundi, merupakan salah satu warga yang memanfaatkan potensi perairan dengan menjadi pembudidaya rumput laut jenis eucheuma spinosum atau rumput laut alam.

Sodik menyebut, lapangan usaha dengan memanfaatkan laut menjadi pilihan bagi dirinya dan sejumlah warga lain, dengan bermodalkan peralatan sederhana berupa tonggak kayu, jalur dari tali tambang, pelampung dari botol bekas air mineral.

Memanfaatkan 1.000 jalur, Sodik membudidayakan rumput laut tepat di depan rumahnya yang juga menjadi lokasi pengepulan dan istirahat para pencari kerang bulu. Proses perawatan rumput laut yang mudah dengan masa panen 25 hari sekali, membuat dirinya masih bisa melakukan usaha lain sebagai sumber penghasilan.

“Warga Legundi pernah mendapat pelatihan dari Dinas Kelautan dan Perikanan dalam upaya pemanfaatan potensi perairan sebagai lokasi budi daya, sehingga menciptakan peluang usaha berkelanjutan yang hingga kini masih kami jalankan dengan adanya kesempatan usaha dan permodalan,” terang Sodik, Selasa (6/2/2018)

Setelah mendapat permodalan sistem pinjam lunak, kini Sodik mengaku sudah bisa melakukan usaha budi daya secara mandiri dengan mengembangkan budi daya rumput laut eucheuma spinosum.

Sebelumnya, ia mengaku sudah mengembangkan jenis eucheuma cottonii secara kultur jaringan, meski gagal akibat rumput laut jenis tersebut rawan terserang penyakit dibanding spinosum yang merupakan rumput laut alam.

Masa panen selama 25 hari masih memberinya peluang melakukan usaha sejenis di sektor kelautan, dengan membudidayakan kerang hijau. Bermodalkan ban ban bekas kendaraan roda dua dan roda empat, tiang-tiang pancang sebagai pengikat, ia membudidayakan kerang hijau sebanyak 200 tonggak berdampingan dengan lokasi budi daya rumput laut.

Kondisi perairan yang landai dengan terhalang Pulau Kopiah, Pulau Suling dan beberapa pulau lain menjadikan potensi budi daya rumput laut dan kerang hijau berkembang.

Harga rumput laut kering jenis eucheuma spinosum yang dibeli pengepul seharga Rp4.000 dan hasil panen mencapai 1.000 kilogram saja, ia menyebut bisa mendapatkan omzet sekitar Rp4 juta per bulan. Selanjutnya dilakukan proses penanaman bibit baru.

Sementara, untuk kerang hijau dengan masa panen sekitar 6 hingga 7 bulan  serta panen parsial dengan harga Rp10.000 per kilogram dengan hasil 100 kilogram ia bisa memperoleh hasil Rp1 juta per bulan, dan panen raya dengan hasil minimal 5 ton ia bisa mengantongi sekitar Rp50 juta.

Tinggal di tepi pantai, disebutnya segala peluang usaha tersebut tetap diliriknya, meski salah satu kendala terjadi dengan rendahnya harga jual rumput laut di level pembudidaya. Ia menyebut, rantai distribusi pengiriman dari petani ke pengepul hingga dikirim ke pabrik pengolahan menjadi penyebab pembudidaya menerima hasil yang rendah, meski biaya operasional terbilang tinggi.

Butuh Pabrik Pengolahan Rumput Laut

Sodik dan sejumlah pembudidaya rumput laut lainnya, seperti Amran Hadi, yang tergabung dalam kelompok pembudidaya rumput laut Sinar Semendo I berharap, ada upaya pemerintah dalam menyiapkan pabrik pengolahan rumput laut. Proses pengolahan menjadi serbuk untuk bahan baku agar-agar tersebut diakuinya bisa memutus mata rantai distribusi yang kerap menjadi penyebab murahnya harga komoditas rumput laut.

“Jika pabrik dekat, maka pembudidaya rumput laut bisa memiliki peluang menjual dengan harga yang tinggi, tanpa harus melalui distribusi yang jauh,” beber Sodik.

Beruntung bagi Sodik dan warga lain, potensi perairan desa tersebut yang melimpah dengan adanya hasil kerang putih, kerang bulu dan kerang kampak dan kerang hijau menjadi sumber mata pencaharian pencari kerang hingga pengepul.

Sodik yang memutar uang modalnya secara harian sebagai pengepul kerang menampung kerang untuk didistribusikan kepada penjual di pasar serta usaha pengolahan kerang.

Sodik (baju merah) dan Aminah (paling kiri) pembudidaya rumput laut yang mengisi waktu luang dengan menjadi pengepul kerang bulu [Foto: Henk Widi]
Harga di tingkat konsumen yang bisa mencapai Rp10.000 per kilogram, dari pengepul kerang dibeli dengan harga mulai Rp3.000 hingga Rp5.000 dengan proses pencarian setiap hari, warga bisa memiliki penghasilan seiring tingkat permintaan akan makanan laut (seafood) yang tinggi. Pada musim cuaca baik, hasil pencarian kerang bisa memberi penghasilan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu bagi pencari kerang.

Aminah (40), salah satu wanita yang kerap bekerja sebagai pemasang bibit dan melepas rumput laut saat panen, pada masa sepi pekerjaan memilih usaha jual beli kerang sebagai sumber mata pencaharian. Sebagai pengepul kerang, ia masih mendapat keuntungan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu dengan menyiapkan modal Rp500 ribu untuk membeli kerang dari para pencari kerang.

Pada saat hasil kerang melimpah dengan adanya usaha pengupasan kerang bulu yang terlebih dahulu direbus para wanita di wilayah tersebut, juga memiliki penghasilan sebagai pengupas kerang dengan upah Rp1.000 per kilogram. Kerang bulu yang telah dikupas disebutnya bisa dijual dengan harga Rp12.000, sementara kerang belum dikupas Rp5.000.

Wanita yang memiliki suami sebagai nelayan tangkap tersebut, bahkan kerap membeli hingga 400 kilogram kerang bulu dari pencari kerang untuk dijual kembali ke pasar.

Potensi kelautan di Legundi diakui Aminah memberi penghasilan bagi para wanita yang bisa menjadi buruh dalam usaha budi daya rumput laut. Buruh wanita diakuinya diperlukan saat penalian bibit pada jalur tambang dengan upah Rp3.000 per jalur, dan juga buruh penjemuran dengan upah Rp60.000 per hari. Cuaca yang baik diakuinya menjadi penyokong sektor usaha di wilayah perairan Timur Lampung tersebut tetap berjalan dan memberi penghasilan warga sekitar.

 

Lihat juga...