Pemda Produksi Cokelat Lewat Sikka Inovation Center

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Sebagai sebuah daerah penghasil kakao, pemerintah kabupaten Sikka sejak tahun 2013 mulai mencanangkan agar daerah ini memiliki sebuah pabrik pengolahan skala manengah yang bisa memproduksi barang setengah jadi atau barang jadi lewat produk cokelat batangan dan cokelat bubuk yang bisa diminum.

“Produksi cokelat sudah kami hasilkan di gedung Sikka Inovation Center (SIC) dengan merek produk Cho Sik singkatan dari Chocolate Sikka dimana yang kami hasilkan dari kakao ada beberapa macam, baik setengah jadi dan barang jadi yang sudah dikemas,” ujar Okto Suban Pulo Kepala UOT SIC, Minggu (11/2/2018).

Untuk cokelat setengah jadi, sebut Okto berupa lemak kakao dan bungkil kakao. Selain itu, SIC sudah menjalin kerja sama dengan Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI) atau Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember Jawa Timur

Selain itu di SIC juga diproduksi barang jadi berupa cokelat bar atau cokelat batangan dan ada bubuk cokelat yang dibagi atas dua produk yakni cokelat murni dan Tri In One yang bisa langsung diminum sebab sudah ada gula di dalamnya.

“Pruduk yang dihasilkan sudah menjalani uji kelayakan dan mutu dan izin untuk Produk Industri Rumah Tangga dari dinas Kesehatan. Sementara untuk bubuk cokelat masih diajukan izin di BPOM,” ungkapnya.

Berdayakan Petani

Kapasitas produksi untuk mesin hulu dari pemecah buah, pemisah lender dari biji, mesin penghasil nata the coco sekitar 100 kilogram per hari dan masih bisa ditingkatkan. Bahkan ada mesin yang kapasitas produksinya 500 kilogram per hari sementara mesin hilir kapasitasnya 25 kilogram per hari.

“Kita tidak hanya bermain di barang jadi tapi juga di barang setengah jadi sehingga berapun produksinya pasti akan terjual sebab permintaan akan produk cokelat lumayan bagus,” sebut Okto.

Untuk mendapat pasokan biji kakao terang Okto, SIC memberdayakan kelompok tani sehingga hanya mengambil kakao fermentasi dari kelompok tani. Kakao harus difermentasi agar bisa menjaga mutu dan cita rasanya.

“Sebelum kami membangun rumah produksi kita membangun kemitraan dengan 35 kelompok tani di kecamatan Nita, Mego dan Lela. Sementara ini mereka masih bisa supply ke SIC 100 kilogram per hari,” terangnya.

Yang paling penting tegas Okto, petani sudah beralih menjadi petani yang menjual kakao fermentasi bukan lagi menjual kakao gelondongan dimana kakao fermentasi harga jualnya 38 ribu rupiah sementara kakao gelondongan hanya di bawah 15 ribu rupiah.

“Petani selama ini kesulitan produksi kakao fermentasi sebab selama ini banyak investor yang mau membeli kakao fermentasi tapi tidak terealisir. Sehingga dengan hadirnya SIC membangkitkan petani untuk menjual kakao fermentasi,” ungkapnya.

Produk yang dihasilkan beber Okto, dijual di seluruh wilayah di Indonesia. Untuk cokelat Milk keunggulannya, kandungan kakao aslinya 51 persen sementara untuk cokelat Dark kandungan kakaonya 69 hingga 71 persen.

“Dalam satu dua tahun kita masih konsisten dengan 100 kilogram per hari dan bila kita sudah memiliki brand ke depannya, maka pasti kita akan pikirkan penambahan alat produksi,” tuturnya.

Investasi yang dikeluarkan Pemda Sikka jelas Okto, sebesar 1,1 miliar rupiah dan saat ini masih bisa produksi dengan lima orang karyawan yang bisa melaksanakan semua kegiatan produksi. Para karyawan dilatih khusus selain sebagai operator juga sebagai teknisi.

“Harga jual produksi di SIC berupa cokelat batangan, cokelat tri in one dan bubuk cokelat bervariasi dari 20 ribu rupiah hingga 40 ribu rupiah. Kita berharap inovasi ini bisa dikembangkan lagi agar bisa membuat petani sejahtera dengan menjual produknya dengan harga tinggi,” sebutnya.

Sikka Inovation Center
Okto Suban Pulo kepala Unit Pelaksana Teknis Sikka Inivation Center dengan produk olahan kakao yang sudah dikemas menjadi cokelat yang siap dipasarkan. . Foto : Ebed de Rosary

Sementara itu kepala Bappeda kabupaten Sikka Adrianus F. Parera, MSi mengatakan, dengan hadirnya SIC sejak tahun 2015 yang dianggarkan melalui dana APBD Sikka secara bertahap dilakukan guna mendorong kemajuan daerah dalam teknologi inovasi sektor-sektor unggulan.

Sikka Inovation Center (SIC) sebagai pusat penerapan teknologi untuk pengolahan pasca panen serta menjadi tempat pelatihan, pemagangan, pusat disseminasi teknologi dan pusat advokasi bisnis kepada masyarakat.

“Dengan diluncurkan SIC dimana sudah memproduksi berbagai jenis cokelat dan juga aneka kerajinan hasil tenun lewat sentra tenun ikatnya diharapkan bisa mengangkat nama masyarakat Sikka lewat produk unggulannya. Juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...