Makang Embo Ma di Lao Ritual Suku Bajo di Sikka Memberi Makan Leluhur
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Setiap ada pesta atau peresmian pembangunan sebuah rumah atau bangunan di perkampungan nelayan Wuring kelurahan Wolomarang kabupaten Sikka, suku Bajo yang menghuni perkampungan ini selalu menggelar ritual adat.
Ritual adat ini juga dilakukan saat peresmian pembangunan Jembatan Tambatan Perahu (JTP) di kampung nelayan Wuring Sabtu (10/2/20180 dimana saat siang harinya suku Bajo dipimpin tetua adatnya menyembelih seekor kambing. Darahnya diperciki di tengah badan jembatan dan kepala kambing diletakan di samping pilar tambatan tali.
“Awal pembangunan juga harus meminta izin leluhur, dimana dalam tradisi suku Bajo yang adalah suku pelaut, harus memberi makan nenek moyang, leluhur kami yang meninggal dengan memberi sesajen di laut,” sebut Muhammad Kasim, tokoh adat kampung Wuring Minggu (11/2/2018).
Dikatakan Kasim, ritual adat awal dengan memberi makan leluhur ini harus dilakukan agar pekerjaan pembangunan jembatan bisa berlangsung dengan lancar. Ritual adat ini wajib dilakukan, baik awal bangunannya maupun saat peresmiannya
“Ritual adat ini disebut Makang Embo Ma di Lao. memberi makan atau sesajen kepada nenek moyang suku yang kami yakini berada di laut. Mereka harus diberi makan agar tidak marah, juga sekaligus meminta izin dan restu agar mereka juga menjaga bangunan jembatan ini,” tuturnya.
Moat Lamong, tetua adat dan tokoh masyarakat Wuring lainnya mengatakan, air kelapa muda dan beras yang ada di dalam nampan setelah digelar ritual Ambor Buas Merci Kamboe, tetua adat bergerak ke ujung jembatan tambatan perahu yang akan diresmikan.
“Beras tadi pun juga dilempar ke laut serta air kelapa muda juga turut diperciki ke laut untuk memberi penghormatan dan meminta restu kepada leluhur yang sudah meninggal,” tuturnya.
Setelah itu dilakukan ritual membuang tanah ke laut. Tanah yang ada di dalam piring tersebut oleh Lamong diambil dan dibuang ke laut.Dalam tradisi suku Bajo tanah yang diambil di kampung Wuring ini merupakan tanah awal saat suku Bajo menetap di Wuring.
“Tanah itu dibuang ke laut sebagai bentuk permohonan maaf kepada leluhur kita di laut sebab sebelum pembangunan jembatan tambatan perahu ini kontraktor melihat ada kuda dan orang besar yang selalu muncul,” ungkapnya.
Orang besar itu sebut lamong, diyakini sebagai leluhur mereka yang merasa terusik sebab rumahnya sudah ditutupi sehingga dia menampakan diri. Makanya kita harus memberi makan atau memberi sesajen kepada mereka.