Jalan Rusak di Lamsel Sebabkan Kenaikan Biaya Distribusi Barang
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Musim panen jagung di wilayah Lampung Selatan, mengakibatkan mobilitas kendaraan pengangkut dari sejumlah kecamatan di Lampung Selatan, di antaranya Kecamatan Penengahan dan Ketapang, meningkat. Namun, mobilitas kendaraan terhambat oleh rusaknya jalan, bahkan tak sedikit mobil pengangkut mengalami patah pada bagian as roda.
Salah satu petani di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, yang juga pengepul jagung, Rudi, menyebut saat ini dalam sehari dirinya bisa mengirim empat ton jagung pipilan ke gudang untuk dijual. Namun, kendala rusaknya jalan membuat dirinya dan sejumlah pengemudi kerap mengalami keterlambatan dan kerusakan kendaraan dalam perjalanan.
Kerusakan kendaraan di antaranya bagian as yang patah dan bahkan terguling, diakui Rudi pernah dialaminya sehingga biaya operasional menjadi tinggi. “Kami tidak memiliki pilihan jalan lain, karena akses di jalan lintas provinsi lintas Ketapang yang terdekat, namun baru dua bulan diperbaiki kembali rusak dengan bagian aspal mengelupas dan digenangi air,” terang Rudi, Selatan, Senin (5/1/2018).
Selain Rudi pengendara kendaraan roda empat yang mengalami kerusakan kendaraan di titik jalan yang rusak, tepatnya di dekat Dusun Siring Dalem, Desa Sripendowo, Sutrisno, menyebut as roda kendaraannya patah saat melintasi jalan yang amblas. Peristiwa tersebut terjadi saat kendaraannya harus berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan, sehingga truk bermuatan tiga ton jagung miliknya miring. Akibat miring dan menahan beban jagung pada bagian bak belakang as roda kendaraan truk miliknya bahkan mengalami kerusakan.
Ia menyebut, dengan standar jalan provinsi setidaknya jalan tersebut bisa dilalui oleh kendaraan bertonase lebih dari lima ton, namun kini sudah amblas dan mengalami kerusakan. Imbasnya ia harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp2 juta untuk perbaikan dan pembelian onderdil baru.

Sutrisno juga menyebut, perbaikan pada jalan lintas Ketapang di bawah kewenangan provinsi tersebut baru selesai diperbaiki menggunakan aspal, dan sebagian rigid beton.
Ia berharap, pelaksana proyek yang mengerjakan jalan tersebut bisa mengecek kembali konstruksi jalan yang disebutnya kurang kuat, terutama di beberapa titik.
Pada beberapa titik sepanjang 300 meter dan 500 meter di Desa Sripendowo dan Karangsari, disebutnya pembangunan dengan sistem rigid hanya dilakukan pada bagian jalan turunan dan tanjakan, sementara pada jalan mendatar sebagian hanya dibuat jalan aspal. Minimnya saluran drainase yang ada di tepi jalan bahkan disebutnya menjadi penyumbang kerusakan jalan saat air meluap ke jalan.
Fredi, salah satu aparatur sipil negara di Kecamatan Ketapang juga mengaku kerusakan jalan membuat mobilitas kendaraan dari Kecamatan Penengahan dan Ketapang menuju ke Lampung Timur lebih lambat dibanding sebelum jalan rusak. Kerusakan jalan tersebut diakuinya sudah disampaikan ke pihak Dinas Bina Marga Provinsi Lampung untuk upaya perbaikan, meski belum ada realisasi.
Selain itu, ia menyebut mobilitas tinggi truk-truk pengangkut jagung dengan tonase di atas 10 ton ikut menyumbang kerusakan jalan yang terjadi di jalan lintas Ketapang tersebut.
Selain faktor tonase berlebih, ia bahkan melihat lapisan aspal yang digunakan untuk perbaikan terlalu tipis, sehingga kerap rusak ditambah kondisi cuaca hujan deras membuat jalan berubah menjadi kubangan air mempercepat pengelupasan aspal dan kerusakan jalan.