Budi Daya Ikan, Solusi Nelayan di Masa Paceklik

Ilustrasi -Dok: CDN

NEGARA – Dinas Kelautan, Perikanan, dan Perhubungan Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali, menyatakan pelaksanaan program budi daya ikan saat aktivitas melaut paceklik, membutuhkan komitmen nelayan setempat untuk pengelolaan secara optimal dan berkelanjutan.

“Pemerintah bisa saja memberikan bantuan lewat program budi daya ikan, tapi sering terkendala komitmen nelayan untuk kontinyu memelihara ikan budi daya tersebut,” kata Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Perhubungan Jembrana Made Dwi Maharimbawa di Negara, Selasa (6/2/2018).

Ia mengakui, bahwa beberapa kali program budi daya ikan di kalangan nelayan tidak berjalan sesuai harapan, dan bahkan gagal karena ditinggalkan begitu saja saat kondisi laut kembali melimpah dengan hasil tangkapan ikan.

Padahal, menurut dia, dengan latar belakang pekerjaan mereka sebagai nelayan, hal itu juga potensial untuk membuka usaha budi daya ikan.

Melalui program tersebut, ujarnya, saat paceklik masih ada sumber pendapatan mereka.

“Saat ada ikan di laut, namun budi daya ikan di kolam masih dijaga dan dijalankan, kan bisa menambah kesejahteraan mereka. Kalau paceklik bisa menjadi penyangga alternatif ekonomi nelayan,” katanya.

Ia mengatakan, sampai saat ini hanya segelintir nelayan yang serius melakukan budi daya ikan dengan hasil yang bisa mendukung perekonomian mereka.

Agar program itu bisa berjalan dengan optimal, katanya, harus muncul kesadaran para nelayan, agar tidak hanya mengandalkan penghasilan dari hasil tangkap di laut yang tidak menentu. Mereka didorong untuk merintis usaha alternatif.

“Kami dari pemerintah banyak memberikan bantuan kepada nelayan, seperti alat tangkap dan lain-lain. Namun, bantuan itu tidak banyak membantu nelayan, harus ada usaha di darat untuk menopang ekonomi mereka, salah satunya lewat budi daya ikan,” katanya.

Ia mengatakan, program bantuan keramba apung yang sudah mulai didistribusikan kepada nelayan juga merupakan sarana mereka mengembangkan usaha alternatif.

Namun, ujarnya, mereka harus tetap serius dalam pengelolaan dan pemeliharaannya.

Lewat bantuan keramba apung, katanya, nelayan bisa memelihara berbagai jenis ikan laut yang akan dipanen saat ukurannya sudah sesuai permintaan pasar.

“Cara kerjanya kurang lebih sama dengan membuat kolam di darat, bedanya keramba apung ini tetap ditaruh di laut dengan jenis ikan yang dipelihara dari laut juga,” katanya.

Hampir dua tahun belakangan, nelayan di Kabupaten Jembrana mengalami paceklik hasil tangkap ikan. Hal itu berpengaruh terhadap kondisi perekomomian nelayan.

Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, banyak nelayan yang sementara waktu mencari pekerjaan lain, seperti buruh bangunan dan buruh perusahaan bata merah. (Ant)

Lihat juga...