Brazil Tidak Akan Tutup Perbatasannya dari Warga Venezuela
SAO PAULO – Brazil menyatakan tidak akan memblokir akses warga Venezuela untuk memasuki negara tersebut. Terutama akses melalui perbatasan di negara bagian utara, Roraima.
Hanya saja untuk mengatur arus dan menyediakan sumber daya yang dibutuhkan akan diluncurkan satuan tugas khusus. Terutama di kota-kota dan negara-negara bagian yang menangani pengungsi.
Presiden Brazil Michel Temer terbang ke Boa Vista pada Senin (12/2/2018) dengan beberapa menteri dan pejabat pemerintah untuk bertemu dengan pemerintah daerah guna menilai situasi dengan lebih baik. Presiden berjanji akan memberikan bantuan keuangan untuk Roraima dan akan mengatur arus orang-orang Venezuela di Brazil.
Termasuk kemungkinan untuk mengangkut beberapa pengungsi ke negara-negara lain. Banyak orang yang berasal dari Venezuela yang dilanda krisis berjalan ratusan kilometer untuk mencapai Boa Vista dan telah tidur di beberapa daerah di kota. Pihak berwenang setempat mengatakan bahwa mereka tidak memiliki sumber daya keuangan untuk menangani arus masuk tersebut. Tempat penampungan sementara sudah penuh.
Ribuan warga Venezuela yang melarikan diri dari kelaparan di negara Andean itu telah melintasi perbatasan dengan Brazil dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut menyebabkan status darurat kemanusiaan di Kota Boa Vista, ibu kota Roraima. Pemerintah daerah mengatakan bahwa jumlah pengungsi mewakili 10 persen dari populasi, atau sekitar 40.000 orang, memberatkan pelayanan publik.
Pekan lalu, sebuah rumah di mana puluhan warga Venezuela tinggal di Boa Vista dibakar oleh seorang pria Brazil, yang kemudian ditangkap. “Pemerintah tidak mau melarang arus masuk, tapi akan mencoba mengatur arus,” ungkap Presiden Temer, Selasa (13/2/2018).
Pekan lalu, Kolombia dan Brazil, memperketat pengawasan perbatasan negaranya dengan Venezuela. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi peningkatan ratusan ribu pengungsi Venezuela, yang melarikan diri dari kemelut ekonomi memburuk.
Dalam kunjungan ke perbatasan, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos mengatakan akan memberlakukan pengendalian ketat bagi pendatang. Termasuk dengan upaya menangguhkan kartu masuk harian baru untuk orang Venezuela dan mengerahkan 3.000 petugas keamanan baru di sepanjang perbatasan, termasuk 2.120 tentara tambahan.
Saat berbicara di Cucuta, kota perbatasan Kolombia berpenduduk sekitar 670.000 jiwa, Santos memperingatkan bahwa pemerintahannya akan secara ketat menghukum setiap perilaku melanggar hukum dari orang Venezuela, di tengah kekhawatiran akan peningkatan kejahatan. Dia mengatakan Kolombia menghabiskan jutaan dolar untuk mendukung pendatang tersebut.
Menteri Pertahanan Brazil, Raul Jungmann, yang berbicara di kota perbatasan Boa Vista, mengatakan bahwa pemerintah juga mengerahkan lebih banyak tentara dan mulai merelokasi puluhan ribu pengungsi Venezuela yang telah melewati perbatasan terbuka untuk mencari makanan, pekerjaan dan tempat tinggal.
Kedua negara mengatakan mereka akan mengambil tindakan untuk menghitung jumlah imigran Venezuela yang telah memasuki wilayah mereka. Brazil melalui sensus dan Kolombia melalui sebuah pendaftaran. Langkah untuk memperketat perbatasan dapat mengancam katup pengaman sosial utama bagi warga Venezuela yang putus asa karena hiperinflasi dan resesi parah menguasai negara mereka yang dikenal kaya minyak.
Langkah tersebut juga mengisyaratkan frustrasi regional yang meningkat terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang semakin tidak populer. Manduro disebut-sebut akan mencalonkan diri kembali pada 22 April di tengah kondisi yang menurut penilaian Amerika Serikat dan negara-negara lain diciptakan untuk melawan oposisi yang terbelah. (Ant)