Sumbar Bekali Pelaku Usaha Kemampuan Bahasa Asing
PADANG — Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Provinsi Sumatera Barat, turut mendorong perkembangan usaha, dengan memberikan keterampilan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumbar, Zirma Yusri, mengatakan untuk memberikan keterampilan bahasa asing itu akan dilaksanakan pada 2018 ini. Tujuannya untuk menyongsong pelaku usaha yang siap melayani penjualan secara internasional.
“Selama ini, pelaku usaha kita bisa dikatakan tidak ada yang mampu berbahasa asing. Jika tidak ada upaya untuk memberikan pembekalan, produk UMKM kita akan sulit untuk tembus ke pasar internasional,” katanya, ketika dihubungi Jumat (5/1/2018) sore.
Ia mengakui persoalan tidak bisa melayani pembeli dari luar negeri ini, pernah terjadi sewaktu wisatawan asing berbelanja di Kota Sawahlunto untuk membeli songket. Komunikasi antara pelaku usaha dengan wisatawan yang hendak membeli sulit saling memahami.
Belum lagi, ketika wisatawan asing datang ke kawasan wisata, seperti halnya ke wisata Mandeh yang kini turut menjadi tujuan wisata di Sumbar. Mungkin akan banyak hal yang ingin diketahui oleh wisatawan asing tentang Mandeh. Tapi, mengingat terkendala bahasa, masyarakat atau penduduk setempat agak kesulitan berkomunikasi.
Untuk itu, rencana pembekalan bahas asing ini akan diberikan kepada pelaku usaha di seluruh kabupaten dan kota yang dinilai memiliki usaha yang berada di kawasan lokasi wisata.
Selain itu, Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) terus berupaya mengembangkan usaha kerajinan. Output dari pembekalan bahasa asing ialah nantinya di setiap tempat-tempat wisata akan ada oplet khusus untuk menjual dan mempromosikan kerajinan.
Saat ini, telah ada 300 UMKM kerajinan yang sudah ter-database dan merupakan UMKM unggulan dalam bidang kerajinan, seperti sulaman, bordir kerancang, tenun, mukena, dan baju-baju muslim, dan lain-lainnya. Di antara 300 UMKM itu, banyak yang berasal dari Bukittinggi, Kabupaten Agam, dan Limapuluh Kota.
Sementara, salah seorang pelaku usaha di Kabupaten Pesisir Selatan, Fitriwati, berharap dirinya dapat bergabung dalam pelatihan tersebut. “Saya ingin sekali mendapatkan kesempatan untuk belajar bahasa asing. Biar saya bisa mendapatkan pelanggan untuk menjual khas oleh-oleh Pesisir Selatan di kawasan wisata Mandeh,” ucapnya.
Ia mengaku, kebanyakan pelaku usaha tidak memiliki pendidikan yang tinggi, bahkan hanya sampai pada tingkatan SMA. Karena itu, pelatihan tentang bahasa asing merupakan sebuah hal yang sangat membantu pelaku usaha dalam melakukan pengembangan usahanya.