Peternak Terapkan Teknik Pengasapan Lindungi Hewan dari Penyakit

LAMPUNG — Kondisi cuaca yang dominan disertai angin kencang dan hujan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ternak di wilayah Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.

Winarso (30), pemilik sepuluh ekor kambing rambon dan kacang menyebut, saat ini dirinya mengkuatirkan kondisi peralihan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan yang dapat membuat ternak kambing miliknya rentan terserang penyakit kembung, scabies (gudig) dan penyakit ”blendingan” atau ternak terhambat pertumbuhannya walaupun makan teratur.

Menurutnya, pemeliharaan ternak diintensifkan dengan meningkatkan kebersihan kandang, di antaranya dengan menyapu, membuat perapian di sebelah kandang untuk proses pengasapan, yang mempergunakan bahan bakar serabut kelapa dan kayu karet dan dilakukan di bagian bawah kandang dengan sistem panggung kayu tersebut.

“Pada tahun sebelumnya, ada sejumlah hewan ternak yang mati akibat terserang penyakit kembung saat musim penghujan dan masa pancaroba. Para pemilik hewan ternak memang harus waspada terhadap serangan penyakit pada hewan ternak,” terang Winarso, peternak kambing di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, saat ditemui Cendana News, Jumat (5/1/2018) sore.

Winarso mengatakan, di antara penyakit yang dikuatirkan oleh peternak saat musim pancaroba seperti sekarang adalah kembung, gudig dan surra. Surra disebutnya merupakan penyakit infeksi darah yang disebabkan oleh protozoa trypanosoma evansi yang ditularkan melalui gigitan lalat atau nyamuk penghisap darah. Tidak hanya menyerang kambing, surra bisa menyerang ternak jenis kerbau dan sapi milik.

Penyakit surra, menurutnya, gampang menular melalui gigitan nyamuk yang bisa berpindah ke kandang peternak satu ke peternak lain, sehingga perlu diwaspadai dengan ciri- ciri ternak yang terserang penyakit surra, antara lain suhu pada tubuh hewan meningkat, nafsu makan berkurang, bobot badan turun, pertumbuhan lambat, terlihat lesu dan lemah, serta bulu dan kulit hewan kasar dan kering.

“Cara tradisional menghindarinya kami lakukan dengan membuat pengapian untuk mengusir nyamuk secara alami, agar dalam semalaman kondisi kandang tetap hangat dan terasapi dikenal dengan istilah ‘bedian’ bagi peternak,” beber Winarso.

Peternak lain di Desa Tanjungsari, Rasta, menyebut peternak baik individu maupun kelompok di wilayah tersebut mulai mewaspadai penyakit kembung dan scabies atau gudig setelah awal Januari mulai terjadi musim hujan dan di sebagian wilayah Palas dilanda banjir luapan sungai Way Pisang. Sebagai antisipasi kelembaban pada kandang ternak, sebagian besar peternak di wilayah tersebut bahkan membuat kandang panggung.

“Sebagian besar peternak menggunakan teknik kandang panggung dan setiap sore kami membuat pengapian, agar terhindar dari serangan serangga jenis nyamuk dan lalat penghisap darah,” tegas Rasta.

Selain menerapkan sistem kandang panggung, penggunaan limbah penggilingan padi berupa sekam dipergunakan untuk mengusir nyamuk sekaligus memberi kehangatan kepada ternak. Sebagian peternak bahkan membuat bantalan tempat tidur di kandang dari serabut kelapa dan jerami kering, terutama selama musim hujan melanda.

Perawatan tradisional tersebut diakuinya mempertahankan populasi ternak kambing milik peternak yang banyak dipergunakan sebagai investasi jangka panjang dan dijual setahun sekali.

Penggunaan teknik tradisional tersebut diakuinya untuk menghindari kerugian akibat ternak sakit yang berimbas pada rendahnya harga jual ternak kambing. Pada kondisi normal, jenis ternak kambing jantan saat ini dijual dengan harga Rp1,5juta hingga Rp3juta. Namun, saat ternak kambing dalam kondisi terkena penyakit gudik yang menyebabkan harga bisa hanya berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta untuk jenis kambing rambon.

Lihat juga...