LAMPUNG – Puluhan siswa sekolah tingkat TK hingga SMA di Dusun Buring Desa Sukabaru yang bersekolah di beberapa sekolah di wilayah tersebut, mulai mengkhawatirkan kondisi rusaknya jembatan gantung sungai Way Pisang.
Jembatan gantung tersebut baru selesai dibangun sejak bulan November tahun lalu dan dimanfaatkan oleh warga untuk mobilitas warga terutama siswa sekolah. Selain sebagai akses siswa untuk sekolah, sebagian warga yang hendak menuju ke lahan pertanian terutama kaum ibu rumah tangga, juga mengaku khawatir akan kondisi jembatan tersebut.
Ida (12) siswa kelas VI SDN 3 Sukabaru yang setiap hari melintas di jembatan gantung Way Pisang tersebut mengaku, kerap was-was dan harus berpegangan pada pagar pembatas terbuat dari kawat serta pada tali besi yang berada di sisi kanan dan kiri jembatan. Selain kondisi pagar pembatas yang jebol pada beberapa bagian, Ida juga menyebut lantai jembatan terbuat dari bambu sebagian sudah terlepas bahkan terjatuh ke sungai.

Ida yang sejak kelas I berangkat dan pulang menuju sekolah bersama puluhan temannya memanfaatkan jembatan gantung tersebut, pernah beberapa bulan harus berjalan melintasi sungai saat proses pengerjaan jembatan tersebut dikerjakan.
Setelah jembatan gantung selesai dibuat dan sudah bisa dilintasi selama hampir tiga bulan kondisi jembatan gantung tersebut kembali mengkhawatirkan terutama bagi Ida dan kawan-kawannya yang bersekolah.
Hayun, salah satu guru kelas III.B SDN 3 Sukabaru mengungkapkan, berdasarkan data dari sekitar 200 lebih siswa sekolah tersebut, sebanyak 80 di antaranya dominan berasal dari wilayah seberang Sungai Way Pisang yang berasal dari sebanyak 3 RT. Jumlah siswa SD cukup banyak yang melintas melalui jembatan gantung tersebut diakuinya belum termasuk siswa SMP hingga SMA yang akan melakukan kegiatan belajar di sekolah.
“Sebagai guru dan wali kelas tentunya saya khawatir anak-anak didik saya melintas di jembatan gantung yang kondisinya memprihatinkan ini dan berharap pemerintah secepatnya merealisasikan jembatan permanen,” beber Hayun.

Hartini, salah satu ibu rumah tangga yang akan menuju ke lahan sawah miliknya menyebut kerap khawatir saat melintas di jembatan gantung tersebut terutama dengan beberapa lantai jembatan yang sudah lepas. Konstruksi jembatan dengan konstruksi tali sling baja, tali besi, penopang besi dan lantai bambu diakuinya berpotensi rusak dalam beberapa bulan ke depan jika tidak ada upaya perbaikan.
“Harapannya tahun ini segera dibuat jembatan permanen karena jembatan gantung ini hanya sementara dan sudah kami manfaatkan setiap hari agar tidak harus berjalan memutar,” bebernya.
Pantauan Cendana News jembatan gantung sementara tersebut merupakan jembatan yang dibangun dalam rangkaian pembuatan konstruksi pancang penopang jembatan yang akan dibangun secara berkelanjutan.
Proses pembangunan jembatan beton yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang itu dikerjakan oleh PT. Queen Natasya Mandiri bernilai kontrak Rp1.196.430.000 pada tahun anggaran 2017.
