Petani Tanjungheran Kembangkan Kelapa Kopyor
LAMPUNG — Kelapa puan atau dikenal dengan kelapa kopyor yang memiliki rasa gurih sebagai bahan minuman serta bahan baku pembuatan es krim dengan harga jual tinggi, menjadi tambahan penghasilan bagi petani pekebun di wilayah Desa Tanjungheran, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Rasmin (44), petani pekebun di Dusun Luah Baru, yang memiliki sekitar 200 batang pohon kelapa dan lima di antaranya merupakan kelapa puan yang bisa dijual kepada sejumlah restoran sebagai sajian minuman istimewa es kelapa puan.
Rasmin menyebut, bibit kelapa kopyor usia 25 tahun sebagian merupakan peninggalan orang tua dan mulai dikembangkan dengan proses pembibitan dari pohon yang sudah menghasilkan kelapa puan. Saat ini, ia juga mulai mengembangkan 100 bibit dari kelapa puan untuk meregenerasi tanaman kelapa biasa di lahan seluas 1 hektare lebih, yang juga ditanami kelapa, pisang, alpukat, jengkol dan berbagai jenis tanaman lain.

Rasmin juga menyebut, sudah menyiapkan lahan satu hektare untuk pengembangan buah kelapa kopyor. Hasil per pohon dalam per tiga bulan menghasilkan tiga hingga lima buah kopyor, sisanya bisa dijual sebagai kelapa biasa.
Menurutnya, harga kelapa kopyor per buah di tingkat petani kini mencapai Rp30.000 per butir, sementara dalam satu tandan bisa menghasilkan dua hingga tiga butir kelapa kopyor.
Pengembangan kelapa puan tersebut diakuinya telah menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan dengan pengembangan kelapa biasa yang saat ini dijual hanya seharga Rp4.000 satu gandeng untuk kualitas kelapa super berukuran besar dan ukuran kecil hanya Rp2.000 per gandeng.
Kelapa puan disebutnya dikembangkan juga oleh petani di Dusun Jati, Dusun Tarik Kolot, dengan sistem pengembangan menggunakan kelapa yang sudah tua.
“Pengembangan kelapa puan memang lebih sulit dibandingkan kelapa biasa, namun karena sudah banyak yang menanam kelapa kopyor, maka mudah memperoleh bibitnya,” terang Rasmin.
Ia menyebut, beberapa pengepul kopyor kerap mengumpulkan sekitar 40 hingga 50 kopyor untuk dikirim ke sejumlah restoran dengan harga sudah mencapai Rp30.000 bahkan Rp40.000 per butir, dan akan semakin meningkat harganya saat bulan Ramadhan dengan harga paling murah Rp50.000 per butir.
Rasmiati (39), menyebut dari hasil kebun kelapa puan yang dipanen sang suami, dirinya kerap menjual es kelapa kopyor dengan harga Rp15.000 per gelas. Sementara untuk es kelapa muda biasa hanya dijual Rp5.000 per porsi.
Selain dijual sebagai menu kuliner di warung miliknya, sebagian kelapa muda tersebut dijual ke wilayah Jakarta sebanyak 1.500 butir dari lahan miliknya, bahkan mencapai 3.000 butir saat bulan Ramadan.
“Kalau secara ekonomis memang menguntungkan es kelapa puan, namun produksinya terbatas, sehingga suami terus mengembangkan kelapa puan di kebun,” beber Rasmiati.
Selain mendapat keuntungan dari menjual kelapa puan dengan nilai jual yang tinggi, Rasmiati juga bisa memiliki keuntungan berlipat, karena selain bisa dijual dalam kondisi muda juga bisa dijual saat kelapa sudah tua sebagai bumbu dapur.