Petani Palas Integrasikan Tanaman Pisang dan Kelapa
LAMPUNG—Komoditas pertanian pisang dan kelapa masih menjadi andalan utama petani pekebun di Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.
Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Mat Sumadi (38), yang mengembangkan pertanian pisang dan kelapa sejak enam tahun silam. Ia bahkan secara khusus mengembangkan pisang khas Lampung yang dikenal dengan pisang muli, pisang dengan rasa manis yang kerap menjadi buah segar pencuci mulut.
Pada lahan satu hektare, sebanyak 700 batang pohon kelapa hibrida yang dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan gula kelapa, sebagian menghasilkan buah kelapa bahan kopra dan dijual dalam kondisi kelapa muda.

“Sebagian pabrik pengolah serabut kelapa mulai mengurangi permintaan, sehingga limbah serabut kelapa banyak yang dikumpulkan. Sebagian saya gunakan sebagai pupuk,” terang Mat Sumadi, petani pekebun pisang dan kelapa saat ditemui Cendana News di Desa Kalirejo, Rabu (10/1/2018).
Mat Sumadi mengaku sengaja mengintegrasikan tanaman kelapa dan pisang dibandingkan dengan jagung, mempertimbangkan kebutuhan pupuk kimia bersubsidi yang diakuinya sulit diperoleh tanpa menjadi anggota kelompok tani (poktan).
Selain itu, juga karena kedua tanaman tersebut bisa ditanam secara bersamaan tanpa saling mengganggu, bahkan memberi keuntungan cukup menjanjikan.
Hasil kelapa sebanyak 700 batang disebutnya dari sekitar 1.000 buah kelapa atau 500 gandeng, dirinya memperoleh Rp2j uta setiap bulan dari jenis kelapa tua yang akan dipergunakan sebagai bumbu dan dibuat kopra dengan harga Rp4.000 per gandeng.
Sementara itu dari hasil kelapa muda, dirinya bisa memperoleh Rp750.000 setengah bulan sekali dengan harga Rp2.500 per gandeng untuk dijual kepada sejumlah pedagang kuliner.
“Kelapa kerap tidak mengenal musim, sehingga sepanjang tahun ada kelapa muda hingga tua yang seluruhnya memberi keuntungan ekonomis,” bebernya.
Menanam kelapa dengan proses pembersihan serabut kelapa di lahan miliknya, membuat ia mengalami kesulitan membuang limbah, sehingga ia menempatkan sebagian limbah tersebut di beberapa sudut kebun untuk proses menjadikan serabut kelapa sebagai pupuk.
Serabut kelapa yang sebagian dipendam dan menjadi pupuk, selain menjaga kebersihan lingkungan juga meminimalisir penggunaan pupuk kimia.
Sementara itu untuk pisang, saat ini Mat Sumadi menanam sebanyak 1.500 batang, 1000 batang di antaranya berupa jenis muli dan sisanya jenis pisang ambon, kepok dan raja nangka yang ditanam di tiga lokasi. Penggunaan pupuk organik berupa pupuk kandang dan serabut kelapa hasil panen membuat dirinya bisa menghemat pengeluaran biaya operasional pemupukan.
Ia menyebut, jenis pupuk bersubsidi Urea, NPK dan SP-36 yang kini dibanderol dengan harga Rp100.000 hingga Rp130.000 per sak, diakuinya hanya bisa diperoleh melalui kelompok tani, sehingga ia tidak mempergunakan pupuk kimia.
Sementara untuk penggunaan pupuk nonsubdisi penyubur tanaman jenis Mutiara, per sak atau ukuran 50 kilogram disebutnya sangat mahal, yakni Rp450.000.
“Solusi mengatasi harga pupuk kimia yang mahal pupuk organik kami gunakan karena hasilnya juga tetap maksimal untuk tanaman pisang dan kelapa,” terang Mat Sumadi.
Jenis pisang muli untuk buah yang dibeli pengepul saat mulai tua dengan harga Rp11.000 per tandan, disebutnya mampu menghasilkan uang sebesar Rp500.000 dalam waktu sepuluh hari sekali.
Selain pisang muli, jenis pisang rebus di antaranya kepok, raja nangka dan tanduk yang dipanen setiap setengah bulan sekali mampu memberikan hasil Rp300.000. Tak mengherankan dari keseluruhan panen rata-rata per bulan dari 1.200 batang ia memperoleh hasil sekitar Rp3,2 juta dari menanam pisang.
Mat Sumadi mengungkapkan, integrasi pertanian dengan sistem tumpangari disebutnya lebih menguntungkan di samping jenis komoditas pertanian yang ditanam tidak memerlukan pemberian pupuk kimia yang berlebih.
Selain bisa memanfaatkan lahan sela penanaman kelapa limbah panen kelapa disebutnya bisa dipergunakan untuk pemupukan tanaman pisang dengan hasil panen keduanya menjanjikan secara finansial.