Petani Kelaten Sukses Budidayakan Terong Ungu

LAMPUNG — Menekuni budi daya sayuran menjadi pekerjaan utama bagi Wawan Kurniawan (27). Warga Dusun Sidorejo, Desa Kelaten, Kecamatan ini mengembangkan terong yumi atau terong panjang ungu hibrida. Terong ungu ini ditanam pada lahan seluas setengah hektare.

Wawan menyebut penanaman terong yumi yang mulai bisa dipanen pada usia 48 hari setelah tanam dilakukan. Setelah penanaman sayuran jenis kacang tanah di lahan tersebut dengan jumlah sebanyak 2.000 batang dikelompokkan dengan sistem penanaman berselang waktu.

Proses penanaman berselang waktu disebutnya dilakukan saat 1000 batang tanaman terong yumi miliknya berusia sekitar 25 hari. Selanjutnya ditanam sebanyak 1000 batang dengan tujuan proses pemanenan bisa dilakukan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pengepul di pasar tradisional.

Budi daya tanaman terong yumi sengaja dipilih karena menurutnya sayuran tersebut sangat cocok ditanam pada dataran rendah dan menengah.

“Sebelum menanam terong yumi berbagai jenis sayuran telah saya kembangkan dengan tingginya permintaan akan sayuran terutama sayuran semi organik dengan penggunaan bahan kimia yang minim dan disukai konsumen,” terang Wawan saat ditemui Cendana News, Kamis (25/1/2018)

Bibit terong yumi dibeli dari toko pertanian, yang merupakan bibit berkualitas dengan nomor SK Kementerian Pertanian: 2074/Kpts/SR.120/5/2010, dengan harga per bungkus Rp125.000 dengan jumlah 1000 biji dan disemai pada media tanam khusus sebelum dipindah ke lahan pertanian.

Sistem penanaman berselang diakuinya dilakukan setelah pengalamannya membudidayakan kacang panjang dan gambas pada lahan yang sama dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan melakukan penanaman serentak.

Proses penanaman secara berselang dengan jarak waktu tanam selama 25 hari. Wawan bisa melakukan pemanenan perdana saat terong yumi berusia 48-50 haridengan rata rata sekali petik memperoleh hasil sebanyak 200 kilogram. Total keseluruhan dari jumlah tanam sebanyak 2000 batang dirinya bisa memanen sebanyak 4 ton terong ungu tersebut.

Pemanenan disebutnya kerap dilakukan sehari sebelum hari pasaran sejumlah pasar tradisional dengan harga jual perkilogram pada tingkat petani seharga Rp3.000 per kilogram.

“Saat tanaman tahap pertama sudah dipanen selama lebih dari lima kali proses pemanenan. Tahap berikutnya dari tanaman terong usia lebih muda bisa terus dilakukan maksimal hingga sepuluh kali panen,” terang Wawan.

Satu musim panen terong dirinya menyebut dengan harga rata rata Rp3.000 per kilogram. Dengan hasil panen mencapai 4 ton dirinya bisa memperoleh hasil sekitar Rp12 juta.

Uang yang ia dapat belum termasuk dari hasil penjualan cabai jenis caplak, jagung manis yang bisa memberinya penghasilan sekitar Rp500 ribu sekali petik, dengan jumlah tanaman yang lebih sedikit dengan sistem tanam tumpangsari sehingga dirinya bisa memperoleh hasil dari berbagai jenis tanaman termasuk padi.

Wawan yang dibantu sang isteri bernama Susiani (24) menyebut tanaman terong ungu yang dibudidayakan dengan pertanian organik tersebut dikembangkan pada sela sela tanaman padi varietas Ciherang, yang juga dikembangkan secara organik tanpa zat kimia.

Meski demikian ia menyebut salah satu kendala yang dialami saat musim hujan. Curah hujan tinggi membuat sebagian tanaman terong miliknya mengalami busuk batang, daun berimbas ke buah terong.

“Kami kembangkan tanaman terong dengan sistem irigasi dalam bedengan yang baik sehingga saat musim hujan air tidak menggenang yang berpotensi merusak tanaman terong,” ungkap Wawan.

Terong adalah tanaman semusim. Dengan perhitungan per pohon menghasilkan sekitar 10 hingga 20 kilogram terong tergantung ukuran.

Sebagai efesiensi biaya penanaman ia menggunakan pola penanaman sistem bedengan tanpa menggunakan mulsa, sehingga proses pembersihan dari gulma rumput dikerjakan dengan cangkul.

Selain pola penerapan penanaman terong yumi secara berselang waktu Wawan juga mengembangkan jenis tanaman sayuran lain di antaranya gambas, kacang panjang serta jagung manis yang merupakan pengembangan dari benih bersertifikat.

Benih yang menghasilkan buah cukup subur tersebut diakuinya sudah dilirik oleh perusahaan penyedia bibit untuk dijadikan kawasan kluster khusus penyediaan benih.

“Sedang dalam rencana untuk kerjasama dengan perusahaan penyedia benih karena melihat kualitas sayuran yang saya tanam cukup bagus,” ujar Wawan.

Pengembangan sistem klaster budi daya tanaman sayuran diakuinya sangat cocok dilakukan di Kecamatan Penengahan seperti yang dilihatnya pada pengembangan tanaman sumber benih jenis mentimun di wilayah Kecamatan Rajabasa.

Selain menjanjikan, pengembangan tanaman terong ungu dan berbagai jenis tanaman sayuran dilakukan dengan tersedianya potensi saluran irigasi alam ,yang menyediakan pasokan air sepanjang musim. Pasokan air juga lancar saat kemarau pada area pertanian. Lahan pertanian milik Wawan tidak pernah kekurangan air.

Tanaman terong dipanen sebelum hari pasaran untuk pasokan sejumlah pedagang pengecer -Foto: Henk Widi.
Lihat juga...