Petani Bantul Masih Butuh Subsidi Benih dari Pemerintah

YOGYAKARTA – Keberadaan program subsidi benih dari pemerintah masih menjadi tumpuan bagi para petani untuk mendapatkan produk benih unggul berkualitas. Tanpa adanya subsidi dari pemerintah, petani mengaku kesulitan mendapatkan produk benih berkualitas dengan harga murah. 

Hal itu diungkapkan para petani Bantul, menanggapi rencana perubahan mekanisme penyaluran subsidi benih oleh Kementerian Pertanian mulai 2018 ini. Sebagaimana diketahui, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, pemerintah akan menghapus subsidi benih bagi para petani.

Hal itu dilakukan karena serapan subsidi benih sangat minim, sehingga pemerintah berencana mengalihkan anggaran subsidi benih untuk penyaluran benih secara langsung.

“Apa pun itu, kita berharap tetap bisa mendapatkan benih berkualitas dengan harga murah. Karena jika harus membayar mahal, kita para petani tidak akan mampu,” ujar salah seorang petani Bantul, Sahromawadi, Senin (22/1/2018).

Sahromawadi yang merupakan Ketua Kelompok Tani Sedyo Rukun, Pulokadang, Canden, Jetis, Bantul itu juga berharap, mekanisme penyaluran benih bersubsidi dapat diperbaiki. Pasalnya, selain penyaluran kerap tidak merata, subsidi benih terkadang juga disalurkan tidak tepat waktu, serta tidak sesuai kebutuhan petani.

“Tidak semua kelompok tani di desa kami mendapatkan alokasi subsidi benih. Padahal, benih berkualitas dengan harga murah sangat dibutuhkan semua petani,” katanya.

Saat musim tanam seperti sekarang ini, keberadaan benih berkualitas menjadi kebutuhan utama para petani. Adanya subsidi benih akan sangat membantu petani mendapatkan benih berkualitas dengan harga yang jauh lebih murah.

Jika di pasaran benih padi jenis ciherang dijual Rp45 ribu per kemasan 5 kilogram, dengan adanya subsidi benih petani hanya perlu membayar Rp25 ribu saja. Setiap 5 kilogram benih bisa digunakan untuk lahan seluas 30 hektare.

“Seperti halnya pupuk, untuk mendapatkan benih bersubsidi kelompok harus mengajukan RDKK (Rencana Devenitif Kebutuhan Kelompok) terlebih dahulu. Jika disetujui, baru kelompok bisa mendapatkan benih bersubsidi,” katanya.

Tak hanya berharap dapat disalurkan merata ke semua petani, penyaluran benih bersubsidi juga diharapkan dapat dilakukan tepat waktu, yakni saat masa tanam tiba. Sehingga benih dapat benar-benar langsung dimanfaatkan dan tidak kedaluarsa karena datang terlambat. Termasuk juga kualitas benih harus sesuai dengan keterangan yang tertera pada setiap kemasan.

“Untuk musim tanam kali ini kita sebenarnya sudah tidak mendapatkan (jatah subsidi benih). Namun, kita beruntung karena kita masih bisa mendapatkan, dari hasil pembagian dengan kelompok lain,” katanya.

Lihat juga...