Pedagang Kecil di Lamsel Keluhkan Naiknya Harga Tepung
LAMPUNG — Sejumlah pedagang kuliner tradisional seperti somay, empek-empek, bakso, kerupuk kemplang dan sejenisnya, di Lampung Selatan, mengeluhkan naiknya harga tepung aci yang merupakan bahan utama pembuatan beragam jenis makanan tradisional tersebut.
Ria Haryati (29) pemilik warung Demen yang menjual bakso jumbo menyebut, kenaikan harga tepung tapioka berkisar Rp2.000 untuk tepung kualitas bagus, dan Rp1.000 untuk tepung kualitas sedang.
Menurutnya, kenaikan harga tepung tapioka tersebut disebabkan musim panen singkong yang merupakan bahan baku pembuatan tepung tapioka masih belum maksimal. Ditambah dengan kondisi musim hujan, sehingga proses penjemuran singkong terhambat. Selain itu, tren kenaikan harga tepung tapioka jug disinyalir akibat terpengaruh kenaikan harga beras dan sejumlah komoditas lainnya.

Sejumlah pedagang kuliner lain seperti soto ayam dan berbagai jenis minuman tradisional juga mengungkapkan, harga tepung tapioka ukuran 25 kilogram saat ini seharga Rp170.000, atau rata-rata per kilogram mencapai harga Rp6.800. Harga ini naik sekitar Rp1.000 dari sebelumnya yang hanya Rp145.000 untuk ukuran 25 kilogram atau Rp5.800 per kilogramnya.
Tepung tapioka dengan harga tersebut, merupakan jenis tepung tapioka asal Lampung yang diproduksi oleh pabrik pembuatan tepung tapioka berbahan baku singkong hasil perkebunan petani. Sejumlah tepung tapioka yang didatangkan dari wilayah lain, bahkan mengalami kenaikan harga mencapai Rp2.000 per kilogram, terutama dengan merk ternama.
Sebagai strategi untuk tidak menaikkan harga jual kuliner bakso, Ria mengaku terpaksa mengurangi takaran pembuatan bakso dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya, meski untuk bakso jumbo tetap berukuran sama.
“Kalau harga yang kita naikkan, pasti konsumen mengeluh dan berisiko kapok datang ke sini, sehingga ukuran bakso kita kurangi untuk bakso ukuran kecil,” terang Ria Haryati.
Harga jual satu porsi bakso yang dijual seharga Rp15.000 hingga Rp20.000, katanya, tetap memperhatikan biaya operasional yang dibutuhkan seiring kenaikan harga bahan baku tepung tapioka.
Ia pun berharap, dengan penurunan harga bahan baku tepung tapioka yang ada di pasaran tidak memberatkan pemilik usaha kuliner seperti dirinya.
Usaha kuliner yang ikut mengalami dampak dari kenaikan harga tepung tapioka, di antaranya Sukiman (50), pedagang keliling somay dan empek-empek tradisional. Ia menyebut, sebagai upaya efisiensi terpaksa mempergunakan tepung tapioka yang sebagian diolah sang istri dari singkong hasil kebun miliknya sendiri.
“Saat ini, pemilik usaha kuliner memang harus menghadapi kendala naiknya harga bahan baku tepung tapioka dan cabai, sementara hasilnya untuk membeli beras yang harganya juga melonjak,” beber Sukiman, warga Desa Klaten tersebut.
Ia juga menyebut, dengan harga tepung tapioka ukuran 25 kilogram seharga Rp170.000, kerap dipergunakannya dalam waktu dua pekan, untuk membuat empek-empek dan somay yang dijual sang istri di warung dan sebagian dijual secara keliling.
Harga eceran tepung tapioka di sejumlah warung, menurutnya, saat ini bisa mencapai Rp7.000 per kilogram, meski disebutnya dengan membeli dalam jumlah banyak hanya seharga Rp6.800 per kilogram, yang sebelumnya hanya Rp5.800 per kilogram.
Kenaikan harga tepung tapioka juga dikeluhkan pemilik usaha pembuatan kerupuk kemplang bernama Sulistiono, di Desa Klaten. Ia pun menyiasatinya dengan membuat cetakan kerupuk yang lebih kecil dari biasanya, dengan komposisi bahan yang tidak dikurangi.