Pangeran Alwaleed Dibebaskan dari Tahanan
RIYADH – Hartawan Arab Saudi Pangeran Alwaleed bin Talal dibebaskan dari penahanannya, Sabtu (27/1/2018). Pembebasan tersebut disampaikan anggota keluarganya.
Sebelumnya, Alwaled selama lebih dari dua bulan ditahan sebagai bagian aksi yang disebut oleh kerajaan untuk penumpasan terkait korupsi. Pembebasannya terjadi beberapa jam setelah Alwaled mengatakan bahwa ia bersih dari perbuatan salah dan akan dibebaskan dalam beberapa hari kedepan.
Belum diketahui jelas mengenai alasan pembebasan tersebut dan pejabat Saudi belum dapat dimintai tanggapan. Tetapi, keputusan pembebasan Alwaled dan pembebasan beberapa taipan terkenal lain pada Jumat (26/1/2018) menggambarkan adanya upaya untuk membuat situasi lebih tenang.
Sebelumnya, tindakan tegas terhadap pelaku korupsi di negara tersebut membuat kaget beberapa kalangan kelompok mapan di sektor bisnis dan politik Saudi. “Dia sudah tiba di rumah,” kata sumber di keluarga Alwaleed.
Pangeran Alwaleed dikurung di Ritz-Carlton sejak awal November 2017. Penahanan dilakukan bersama puluhan pejabat senior dan pengusaha lainnya. Penahanan merupakan bagian dari rencana Putera Mahkota Mohammed bin Salman untuk mereformasi Arab Saudi sebagai adi daya minyak dan mengonsolidasikan kekuasaannya.
Pada awal pekan ini, Kejaksaan Agung mengatakan 90 orang yang ditahan dibebaskan setelah dakwaan terhadap mereka dibatalkan. Sementara yang lainnya telah membayar baik dengan uang tunai maupun dengan aset seperti real estat dan aset-aset lainnya bagi upaya pembebasan. Pihak berwenang setempat menyebut, masih menahan sekira 95 orang. Dan sebagian akan segera diajukan ke pengadilan.
Pada Jumat (26/1/2018), sebuah sumber resmi Saudi mengatakan beberapa pengusaha terkenal telah mencapai penyelesaian finansial dengan pihak berwenang. Salah satu yang turut dibebaskan adalah Waleed al-Ibarahim, pemilik jejaring televisi regional MBC.
Belum diketahui alasan mengapa dia dibebaskan. Pihak berwenang Saudi mengatakan, pemerintah setempat akan memperoleh dana 100 miliar dolar AS jika melalui penyelesaian dengan cara tersebut. Dana tersebut akan menjadi pemasukan bagi negara, yang keuangannya bermasalah akibat harga minyak rendah. (Ant)