BERLIN – Jerman dan Prancis sepakat memperdalam kerjasama yang sudah dilakukan. Pada Minggu (20/1/2018), Kanselir Angela Merkel dan Presiden Emmanuel Macron menyebut, kerjasama dilakukan juga untuk memberi Uni Eropa menuju integrasi yang lebih erat.
“Kami melakukan itu untuk membawa orang-orang di negara kami lebih dekat lagi. Dan kami melakukannya untuk memberi dorongan baru bagi seluruh Eropa, untuk membuatnya lebih kuat lagi,” kata Merkel membeberkan kesepakatan yang dilaukan dengan Presiden Macron, Minggu (20/1/2018).
Setelah bertemu di Paris pada Jumat (19/1/2018), Merkel dan Macron mengemukakan prospek untuk menyetujui reformasi zona euro. Keduanya juga bersepakat untuk memperkuat blok tersebut. Salah satu isu utama yang menjadi sumber perpecahan di antara negara-negara Uni Eropa adalah isu migran.
Badan perbatasan Eropa memperkirakan peningkatan lebih lanjut jumlah pendatang gelap ke Spanyol melalui laut pada tahun ini. Laporan terbaru menyebut, angkanya meningkat dua kali lipat dibanding 2017 lalu. Aksi migrasi secara ilegal tersebut banyak dilakukan dengan penggunaan kapal cepat.
Sekitar 22.900 orang terlacak saat mencapai Spanyol melalui Maroko atau Aljazair pada tahun lalu. Jumlah tersebut meningkat dari jumlah 10.231 pada 2016. Kenaikan itu adalah peningkatan tajam, yang didorong perpindahan dari kedua negara Afrika utara tersebut.
Direktur badan perbatasan Frontex Fabrice Leggeri mengatakan, sementara kedatangan imigran di Italia dan Yunani melalui Libya mengalami penurunan. Jumlah yang menggunakan jalur tersebut tetap di atas dari jumlah yang menuju ke Spanyol dan tidak ada tanda perubahan besar.
“Perantau ekonomi tidak ingin berakhir di sebuah negara (Libya) tempat terjadi bentrokan di antara kelompok bersenjata. Ada yang mempertimbangkan untuk menemukan jalur lain. Tapi, jumlahnya (kecil) tidak memungkinkan untuk mengatakan ada perpindahan,” kata Leggeri.
Leggeri menyebut, badan perbatasan Uni Eropa memantau dengan seksama apakah ada pergeseran. Upaya tersebut dilakukan dengan melihat negara-negara seperti Niger dimana migran dapat memilih untuk pergi melalui Libya ke Italia atau melalui bagian utara atau barat Afrika ke Spanyol.
Masalah di wilayah utara Maroko, bersamaan dengan membaiknya situasi ekonomi Spanyol telah berperan mendorong meningkatnya kedatangan imigran ilegal ke semenanjung Iberia. “Namun ada juga warga sub-Sahara yang menyeberang di sana,” tambah Leggeri.
Hampir 40 persen migran yang dicegat saat menyeberang melalui laut ke Spanyol adalah warga Aljazair dan Maroko. Arus yang tiba dari negara-negara Maghreb ke Spanyol sangat mungkin meningkatkan jumlah imigran pada 2018. Pada pekan lalu, pihak berwenang di Libya bagian timur mengatakan telah menangkap dan akan mendeportasi 81 migran dari Eritrea, Ethiopia dan Somalia yang telah melarikan diri dari penyelundup manusia setelah gagal mencapai Eropa. (Ant)