Layu Fusarium Turunkan Produksi Tanaman Pisang

LAMPUNG – Sebulan terakhir petani pemilik tanaman pisang sebagai salah satu komoditas perkebunan di wilayah Desa Klaten Kecamatan Penengahan mengaku, mengalami kerugian dampak dari penurunan produksi buah pisang akibat serangan penyakit layu fusarium.

Menurut Sumino (34) salah satu pekebun pisang di Desa Klaten Kecamatan Penengahan, penyakit layu fusarium diduga akibat faktor cuaca ekstrim dengan angin barat yang melanda sebagian wilayah tersebut.

Sumino memperkirakan, dari total tanaman miliknya yang berjumlah sekitar 300 tanaman sekitar 40 persen di antaranya sudah terserang penyakit layu fusarium sehingga tidak bisa dipanen bahkan terpaksa dimusnahkan.

Serangan akibat jamur fusarium oxysporum tersebut diakuinya terakhir menyerang pada tahun 2014 sehingga petani pekebun pisang terpaksa beralih menanam tanaman jenis lain akibat serangan hama fusarium.

Layu daun dan bakal buah menyerang tanaman pisang milik petani [Foto: Henk Widi]
Serangan penyakit jamur tersebut diakuinya memiliki ciri fisik yang mudah terlihat dengan bagian daun, pelepah, batang hingga bakal buah mulai menguning dan layu akhirnya mati. Sejumlah pohon yang terserang saat buah sudah tua bahkan tidak bisa dipanen karena kondisi bagian dalam buah menghitam dan membusuk berimbas tidak bisa dijual bahkan terpaksa ditebang.

“Secara kasat mata para pembeli pengepul buah pisang sudah mengetahui adanya serangan hama layu fusarium dan tidak pandang bulu hampir menyerang semua varietas pohon pisang yang kami tanam,” terang Sumino, salah satu pemilik lahan kebun pisang yang ada di Desa Klaten Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News, Senin (22/1/2018).

Ia menyebut, estimasi kerugian akibat hama layu fusarium tersebut bisa mencapai jutaan rupiah. Sebab produksi setiap rumpun tanaman pisang miliknya bisa menghasilkan dua tandan pisang terutama jenis pisang kepok dan raja nangka dengan nilai jual mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000. Penghasilan setiap setengah sebulan sekali diakuinya mencapai Rp500 ribu namun kini ia sudah tak bisa memanen buah pisang dampak serangan layu fusarium.

Suwarti (33) pemilik puluhan tanaman pisang jenis kepok, raja bulu, ambon, muli dan sereh mengaku, sejak sebulan terakhir hampir tidak bisa memanen buah pisang. Meski dari luar buah yang ada di pohon cukup baik namun di bagian dalam busuk dan tak bisa dimanfaatkan. Faktor cuaca yang kerap cepat berubah terkadang hujan dan tiba-tiba panas membuat jamur menyerang dan menjalar ke tanaman lain akibat angin sekaligus kurangnya kebersihan lahan.

“Kami umumnya memang menanam pisang sebagai selingan dengan tanaman lain sehingga proses perawatan kurang maksimal. Sabit pemotong juga kadang kurang dibersihkan berimbas tanaman lain ikut tertular,” beber Suwarti.

Berdasarkan konsultasi dengan petugas penyuluh lapangan perkebunan yang telah memeriksa, Suwarti menyebut, mendapat bantuan obat Trichoderma Sp namun serangan hama yang sudah terlanjur parah membuat obat hayati tersebut tidak bekerja maksimal.

Tanaman pisang milik warga Desa Klaten, Desa Pasuruan mengalami pembusukan daun dan batang [Foto: Henk Widi]
Selain merugi jutaan rupiah karena tidak bisa menjual buahnya, Suwarti juga merugi ratusan ribu dari daun yang kerap dipesan oleh produsen kue dan tempe kedelai sebagai pembungkus akibat daun layu dan kering.

Langkah dampak kematian tanaman akibat layu fusarium tersebut, diakui Suwarti bersama sang suami, dalam waktu sepekan lagi akan melakukan pembongkaran tanaman dengan menebang dan memusnahkan melalui proses pembakaran batang pisang yang terimbas layu fusarium.

Setelah proses pemusnahan ia akan melakukan penyemprotan dengan herbisida dan fungisida sembari menunggu cuaca membaik serta mencari bibit pisang baru yang lebih sehat.

Hasil produksi pisang menurun akibat serangan hama fusarium [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...