Layanan Perpustakaan Kota Surabaya Sentuh Masyarakat Bawah
SURABAYA — “Surabaya Kota Literasi” yang dicanangkan Wali Kota Tri Rismaharini pada 2 Mei 2014 terus menggeliat ditandai dengan kehadiran perpustakaan kota yang modern dengan 1.428 titik layanan baca yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Dari 1.428 titik layanan bacaan itu, sebanyak 395 titik berada di balai-balai rukun warga di perkampungan-perkampungan. Di situ, warga masyarakat diberi taman bacaan,” kata Hamzah, petugas teknis Perpustakaan Balai Pemuda Kota Surabaya, Selasa (16/1/2018).
Selain menyasar warga melalui taman-taman bacaan di Balai Rukun Warga (RW), titik-titik layanan baca Perpustakaan Kota Surabaya itu juga menyentuh perpustakaan sekolah tingkat SD/SMP dan Madrasah Ibtidaiyah/Tsanawiyah, pondok pesantren, dan taman kota.
Layanan baca pun menyentuh warga kota melalui taman bacaan yang hadir di taman kota, rumah sakit, dan kantor polsek, kata karyawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemkot Surabaya yang sudah mengabdi selama tujuh tahun ini.
Sebanyak 525 orang petugas teknis perpustakaan bertugas setiap hari untuk melayani perpustakaan kota dengan 1.428 titik layanan bacaan tersebut. Mereka bekerja di perpustakaan sekolah dari pukul 07.30 hingga 12.00 WIB dan kemudian ke taman bacaan Balai RW untuk melayani warga pada pukul 13.00 – 14.00 WIB, katanya.
Gerakan literasi Pemkot Surabaya itu tidak hanya terbatas pada peningkatan layanan dan revitalisasi perpustakaan sekolah, tetapi juga penerapan kurikulum wajib baca bagi para siswa SD/SMP, serta wajib baca 15 menit bagi siapa pun di lingkungan sekolah.
Melalui kurikulum wajib baca, para siswa SD/SMP di Surabaya mendapatkan materi ajar tentang membaca-menceritakan kembali, membaca-memahami, menulis, meresume, dan “mind-mapping” dari tenaga teknis perpustakaan di perpustakaan sekolah mereka.
“Kegiatan belajar yang dilakukan di perpustakaan sekolah para siswa itu dilakukan saat jam pelajaran Bahasa Indonesia,” kata Hamzah.
Gerakan literasi Pemkot Surabaya yang antara lain dilakukan melalui perpustakaan untuk mendukung tumbuhnya budaya baca masyarakat itu dipandang penting karena tingkat literasi bangsa Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei Universitas Negeri Central Connecticut (CCSU) Amerika Serikat dua tahun silam.
Posisi Indonesia itu hanya setingkat lebih baik dari Bostswana yang berada di urutan paling bontot. Indonesia yang merupakan negara berpenduduk terbesar keempat dunia setelah China, India, dan AS, tingkat literasinya kalah dari tiga negara anggota ASEAN lainnya.
Ketiga negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) itu adalah Singapura yang berada di urutan 36, Malaysia (53), dan Thailand (59) (Ant).