KPPU Temukan Penjualan Beras di Atas HET di Balikpapan
BALIKPAPAN — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan, menemukan penjualan beras dengan harga melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) di pasar tradisional dan distributor beras.
Temuan itu setelah KPPU Balikpapan bersama Tim melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke distributor dan pedagang sembako di pasar Klandasan Balikpapan, Selasa (23/1/2018).
Kepala KPPU Balikpapan, Dewi Sita Yuliani, memaparkan dalam sidak beras kali ini KPPU lebih pada validasi data untuk jumlah pasokan dan kebutuhan masyarakat. Sehingga dari pantauan sidak yang dilakukan dari stok yang tersedia masih aman hingga 1,5 bulan ke depan, dan akan datang lagi setiap minggunya.
“Kalau tadi datang langsung ke distributor, stoknya aman saja untuk medium dan premium. Distributor mendatangkan dari Jawa, dan memang ada kenaikan sejak November 2017,” katanya, usai sidak beras.
Sedangkan temuan yang harganya melebihi HET itu untuk beras premium. Menurutnya, dari Kementerian Perdagangan HET sebesar Rp13.400 per kilogram, namun dari salah satu distributor melebihi dari harga itu.
“Jadi, harga jual di atas HET yang ditentukan Kementerian Perdagangan. Di sini ada harga beras premium seperti bondi dan tiga mangga di atas HET. Mungkin ini perlu perhatian dari Dinas Perdagangan,” beber Dewi.
Ia mengatakan, adanya kenaikan harga dikarenakan proses repackging yang dilakukan distributor, sehingga pedagang juga menjual lebih mahal. “Untuk HET yang menindaklanjuti Dinas Perdagangan, karena yang punya kewenangan mereka. Sedangkan kami lebih pada validasi data untuk jumlah pasokan dan kebutuhan,” tukasnya.
Selain itu, pihaknya juga menemukan ada penjualan beras raskin kepada pedagang. “Kemasan 15 kg dia jual tidak sampai Rp50 ribu. Pedagang jualnya bisa Rp100 ribu. Jadi, peruntukkan tidak sesuai sasaran,” paparnya.
Sementara Itu, pemilik UD Gunung Sari selaku distributor beras di Balikpapan, Yudi Hartanto, mengungkapkan kenaikan harga beras terjadi sejak November 2017, dan terjadi kenaikan harga pada beras medium dari HET, sehingga banyak masyarakat yang beralih ke premium.
“Memang ada kenaikan harga di beras medium yang sudah melebihi HET. Kami itu tiap bulan datangkan dari Jawa sekitar 50 ton,” sebutnya.
Meski mengalami kenaikan, lanjutnya, tidak mempengaruhi angka permintaan beras. Namun, masyarakat beralih ke premium, karena harganya tak berbeda jauh dari medium. “Sama saja permintaan walau naik, tidak ada pengaruhnya,” pungkasnya.