Kemenag Lamsel Perjuangkan Kelas Layak untuk MI Nurul Hidayah
LAMPUNG – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) melalui Kepala Kantor Kementerian Agama Lampung Selatan, Drs. H. Sukandi, mendatangi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah di Desa Padan Kecamatan Penengahan.
Kedatangan Kepala Kantor Kemenag Lamsel tersebut, setelah mendapat laporan siswa sekolah tersebut harus belajar di lorong kelas bahkan sebagian belajar dengan menggunakan kelas yang disekat.
H. Sukandi mengaku sangat prihatin melihat kondisi sekolah tersebut, sehingga kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berada di bawah Kementerian Agama tersebut memanfaatkan dua bangunan lokal yang ada selama bertahun-tahun. Usia bangunan yang cukup tua juga memaksa kegiatan belajar mengajar harus mengalami tampias dan ruang kelas yang kerap bocor di kelas 4 dan kelas 6.
“Saya baru mengetahui kondisi madrasah yang dalam proses kegiatan belajar mengajar mempergunakan kelas yang minim. Kemenag akan secepatnya merespon dengan mengusulkan ke pemerintah pusat agar alokasi pembangunan ruang baru bisa dilakukan,” terang Kepala Kantor Kementerian Agama Lampung Selatan, Sukandi, saat ditemui Cendana News di MI Nurul Hidayah, Kamis (11/1/2018).

Ia sudah berusaha mengusulkan proses perehaban sekolah dan pembuatan ruang kelas baru (RKB) kepada pihak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Lampung Selatan dan Pemerintah Daerah Lampung Selatan.
Usulan sarana dan prasarana (sarpras) tersebut diakuinya memerlukan verifikasi dan nominasi karena berdasarkan data saat ini beberapa sekolah di bawah Kemenag juga kondisinya sudah memprihatinkan.
Beberapa sekolah di Lampung Selatan di bawah Kemenag Lamsel sebagian kondisinya memprihatinkan sehingga perlu ada skala prioritas. Selain dari pemerintah, ia juga berharap agar pihak swasta bisa ikut memberi perhatian melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).
“Tetap kita upayakan dengan mengusulkan namun butuh verifikasi dan nominasi dari pemerintah agar mengalokasikan dana untuk perbaikan khusus bagi sekolah yang membutuhkan perbaikan akibat kerusakan,” beber Sukandi.

Terkait hal tersebut, Dra. Siti Nurjanah selaku Kepala Sekolah MI Nurul Hidayah mengungkapkan, sekolah tersebut sudah mengusulkan bantuan ke pihak terkait di antaranya melalui bupati Lampung Selatan agar memberi perhatian dengan menyampaikan ke Kemenag. Termasuk penyampaian proposal langsung ke Kemenag untuk perehaban sekolah yang rusak dan pembangunan RKB.
“Usulan bantuan penambahan lokal sesuai prosedur dengan proposal dan foto kondisi faktual sekolah yang kondisinya terbatas sudah kami kirimkan ke Kemenag. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan terutama kondisi sekolah saat hujan kerap bocor dan belum memadai untuk belajar,” terang Siti Nurjanah.
Sekolah dengan nomor induk madrasah NIM. 111.218.010 tersebut, saat ini memiliki sebanyak 10 tenaga pendidik termasuk kepala sekolah dengan jumlah siswa pada tahun ajaran 2017/2018 berjumlah sebanyak 79 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Keterbatasan jumlah ruang kelas membuat siswa kelas 3, 4 dan 5, 6 belajar di dalam satu ruangan sementara kelas 1 belajar di satu kelas dan kelas 2 belajar di lorong pemisah antara lokal kelas dan ruang guru.
Siti Nurjanah berharap pada tahun 2018 usulan untuk memperoleh ruang kelas baru bisa direalisasikan oleh pihak terkait agar siswa yang belajar di sekolah di Desa Padan Kecamatan Penengahan dan ada di lereng Gunung Rajabasa tersebut, bisa melakukan aktivitas kegiatan belajar mengajar seperti sekolah lain.
Perbaikan sarana dan prasarana sekolah dengan keterbatasan yang ada bahkan terus diusulkan agar siswa yang belajar dengan sekat dan di lorong bisa belajar dengan normal.
“Pernah kami terapkan belajar pagi dan siang, namun dengan keberatan dari para orang tua jika anaknya sekolah siang, akhirnya para siswa seluruhnya sekolah pagi meski harus disekat,” terang Siti Nurjanah.
Keterbatasan sekolah yang kondisi bangunannya bocor pada beberapa ruang, kegiatan belajar mengajar disekat dengan papan, membuat warga yang memiliki anak usia sekolah memilih menyekolahkan anaknya di sekolah lain.
Ia mencatat, penurunan signifikan dari jumlah siswa terlihat sejak tahun ajaran 2016/2017 jumlah siswa mencapai 91 siswa tahun ajaran 2017/2018 menjadi hanya 79 siswa.
“Strategi pengaturan kelas termasuk penggunaan lorong kita lakukan karena memang sekolah kami minim fasilitas dan menunggu ada perhatian dari pemerintah,” beber Siti Nurjanah.
Akibat kondisi yang minim, ia menyebut, terjadi penurunan jumlah siswa. Meski masih beruntung bagi MI Nurul Hidayah, sebab beberapa MI bahkan diakuinya sudah tutup akibat tidak memiliki murid dan memilih bersekolah di sekolah lain.
