JAKARTA – Pebulu tangkis dunia menilai kebijakan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang mewajibkan pemain top dunia mengikuti setidaknya 12 turnamen dalam setahun dinilai cukup memberatkan.
Pemain tunggal putri peringkat tujuh dunia asal Jepang Nozomi Okuhara, di Jakarta, menilai peraturan tersebut terlalu berat untuk atlet karena dituntut bermain di semua tingkat. “Menurut saya cukup memberatkan untuk atlet karena dituntut bisa bermain di semua tingkat yang pastinya rawan cedera,” kata Nozomi di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (22/1/2018).
Hal senada dikatakan pemain spesialis ganda putra asal Denmark, Mads Conrad-Petersen. Pasangan dari Mads Pieler Kolding yang saat ini menempati peringkat enam dunia tersebut juga menilai kebijakan BWF cukup berat. Dengan kebijakan tersebut, pebulutangkis diharuskan turun bukan hanya di turnamen tur dunia tetapi juga harus ikut bermain di turnamen mayor seperti Piala Thomas dan Piala Uber, Piala Sudirman, Kejuaraan Kontinental, Kejuaraan Dunia dan Piala Sudirman.
“Dengan begitu mungkin bisa 15 turnamen yang harus diikuti. Belum lagi kami harus menyediakan waktu bersama keluarga. Belum lagi ada jadwal yang berturut-turut sebelum turnamen mayor. Lebih bagus mungkin hanya 10-12 turnamen secara total,” kata petersen.
Adapun pemain spesialis ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir juga menilai kebijakan tersebut cukup memberatkan. Pasalnya, jika sebelum-sebelumnya Dia dan pasangannya, Tontowi Ahmad, selektif dalam memilih turnamen. Kini dengan kebijakan tersebut mau tidak mau harus ikut serta di banyak turnamen.
“Masalahnya jika berurutan agak repot karena faktor usia juga, apalagi ada kejuaraan seperti Asian Games, Kejuaraan Dunia dan lainnya, sementara jika tak ikut kena denda. Beda halnya kalau masih muda. Bagi yang senior repot,” ujar Liliyana yang saat ini bertengger di peringkat tiga dunia.
Kendati demikian, ada juga pemain yang menilai aturan baru tersebut tidak bermasalah, seperti pemain tunggal putra Indonesia berperingkat 13 dunia, Jonatan Christie. Jonatan menilai aturan tersebut tak merubah apapun di setiap musim pertandingan. “Tahun lalu saya main hingga 13 sampai 14 turnamen. Yang jelas saya harus selektif memilih turnamen agar tidak kehabisan energi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Susi Susanti menilai, kebijakan tersebut butuh peninjauan lebih lanjut. Dari perhitungan peraih Medali Emas Olympiade Barcelona tersebut, jumlah turnamen ideal bagi seorang pebuljutangkis adalah 10 turnamen dalam satu tahun musim pertandingan.
“Dengan 12 turnamen, itu berarti satu bulan satu turnamen, menurut saya kebanyakan sih. Harusnya 10 turnamen, masalahnya jumlah 12 itu belum sama turnamen mayor. Kita harus mengerti yang ditakutkan pemain adalah cedera. Ini memang harus dibicarakan lagi,” ujar mantan Andalan Indonesia di Bulutangkis di Nomor Tunggal Putri tersebut.
Diketahui, pada 2018 BWF mewajiban para pemain baik tunggal atau ganda untuk mengikuti 12 turnamen dalam setahun. Di mana para pemain tunggal yang ada di jajaran peringkat 15 besar dunia, serta pemain ganda di 10 besar dunia, berkewajiban untuk mengikuti setidaknya 12 turnamen yang terdiri dari tiga turnamen level 2, lima turnamen level 3, serta empat dari tujuh turnamen level 5. (Ant)