BAMAKO – Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita mengatakan, rakyatnya tidak akan takut dengan serangan barbar. Pernyataan tersebut dilontarkan menanggapi aksi kekerasan sekelompok orang bersenjata tidak dikenal di sebuah kamp militer setempat.
Laporan yang diterima menyebut, serangan tersebut mengakibatkan tewasnya 14 orang anggota tentara. Kamp militer di Kota Soumpi, yang terletak di pusat negara di dekat perbatasan selatan wilayah Timbuktu di Mali, diserang Minggu (28/1/2018) sebelum fajar.
Tidak ada klaim yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. “Jumlah korban sementara adalah 14 orang tewas, 17 terluka dan dua musuh tewas. Pencarian tersebut masih berlanjut untuk yang hilang,” kata salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya, Minggu (28/1/2018).
Sumber kedua mengatakan sekitar 15 tentara telah terbunuh. “Para prajurit meninggalkan tempatnya. Dan musuh membawa pergi sejumlah barang,” kata sumber yang tidak ingin namanya dipublikasikan karena tidak berwenang untuk berbicara dengan media.
Petempur Muslim, menguasai wilayah gurun utara Mali pada 2012 sebelum didorong mundur oleh intervensi pimpinan Prancis setahun kemudian. Namun, terlepas dari kehadiran misi penjaga perdamaian PBB dan pasukan yang beroperasi di bawah misi anti-militan regional Prancis, kekerasan kembali meningkat dan serangan menyebar ke selatan menuju ibu kota, Bamako.
“Serangan biadab ini tidak akan membuat kita takut, sebaliknya, mereka memperkuat tekad kita untuk berperang melawan teroris,” kata Presiden Keita, saat berbicara di desa Mali, Boni, di mana 26 orang terbunuh pada Kamis (25/1/2018).
Korban tersebut bepergian dari negara tetangga Burkina Faso ddengan sebuah kendaraan penumpang sipil saat menabrak ranjau darat. Dalam insiden terpisah pada hari yang sama di kota terdekat Youwarou, militer Malian mengatakan pasukannya mematahkan serangan oleh tersangka petempur.
Wilayah Sahel di Afrika barat mengalami lonjakan kekerasan oleh kelompok militan. Beberapa di antaranya memiliki kaitan dengan Alqaida dan kelompok IS. Kondisi tersebut menarik respons yang semakin agresif dari sejumlah negara termasuk Prancis dan Amerika Serikat.
Mali dan negara tetangganya Senegal berencana untuk mengerahkan 1.000 tentara segera dalam sebuah operasi untuk menenangkan Mali tengah dan menahan para gerilyawan yang sebelumnya telah ditahan di wilayah Sahara di utara.
Namun para pakar meragukan bahwa mereka akan dapat melakukannya semata-mata melalui cara militer. Kelompok gerilyawan mengeksploitasi keluhan penggembala ternak Fulani dan perselisihan mereka dengan petani lokal mengenai akses ke lahan penggembalaan.
Tindakan keras pemerintah terhadap tersangka para gerilyawan cenderung menyasar kelompok Fulani, mendorong sejumlah dari mereka ke dalam jangkauan kelompok-kelompok bersenjata. (Ant)