Alumni Program Doktor di Jepang Terbaik di Indonesia

GIANYAR – Hasil kajian Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), kualitas lulusan program doktoral dari Jepang meraih posisi teratas di Indonesia. Dari 13.000 pemilik gelar doktor di Indonesia, alumni dari Jepang terbanyak menerbitkan tulisan di jurnal ilmiah internasional.

Bahkan dari catatan Kemenristek Dikti, doktor dari Jepang juga cukup banyak melahirkan inovasi. “Penelitian mengenai dosen berprestasi nasional yang dilakukan sejak 2004 hingga 2017, juara satu, dua, dan tiga sebagian besar merupakan alumni Jepang,” kata Dosen Universitas Udayana Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta Msc yang merupakan mantan Ketua Persada Bali, di Gianyar, Minggu (28/1/2018).

Dewa Ngurah menyebut, di 2012, diminta Kemenristek Dikti untuk memimpin penelitian terhadap para alumni lulusan pendidikan tinggi di luar negeri. “Saya memimpin dewan juri dan juri lain dari berbagai universitas seperti UI, ITB, IPB, UGM, dan berbagai universitas terkemuka di Indonesia,” ungkapnya di depan peserta simposium ilmiah Jepang dan Indonesia – 60 tahun Hubungan Kemitraan dan Prospek untuk Masa Depan, di Gianyar, Bali.

Hadi dalam kesempatan tersebut sebagai pembicara, Konjen Jepang di Denpasar, Hirohisa Chiba, budayawan Prof Dr I Made Bandem, dan ketua Kadin Bali AA Alit Wiraputra.

Dewa Ngurah menyebut, dari hasil riset yang dilakukan, fakta menunjukan bahwa alumni Jepang mempunyai daya saing tinggi. Terutama di bidang pendidikan tinggi dan pengembangan Iptek karena masih memelihara budaya akademik yang dialami selama belajar di Jepang.

“Jika akademisi Indonesia ketemu dengan akademisi Jepang, yang selalu ditanyakan adalah berapa banyak tulisan yang sudah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional dan berapa sudah punya hak paten,” ungkap Prof Dewa.

Menurutnya seorang akademisi seharusnya menjadi malu ketika memiliki gelar akademis yang tinggi tapi tidak pernah melahirkan tulisan di jurnal ilmiah internasional. Sementara ketika tulisan berhasil dipublikasikan di jurnal ilmiah maka akademisi tesebut telah memiliki penemuan baru.

“Belum lama ini, Saya dimintai pendapat oleh kementerian riset, teknologi dan Dikti yang memiliki dana beasiswa ke luar negeri bagi 1.000 mahasiswa Indonesia. Saya langsung usulkan 1.000 mahasiswa itu dikirim belajar ke Jepang dengan dasar hasil riset tersebut,” tambah dosen yang sempat mengecap budaya pendidikan di Jepang selama enam tahun tersebut.

Dosen Fakultas Pertanian tersebut memperkirakan, hasil riset yang dilakukan dimungkinkan menjadi salah satu faktor terjadinya peningkatan yang sangat signifikan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang. Tercatat di 2004 ada 1.500-an orang, dan meningkat menjadi 3.200-an mahasiswa di 2014. (Ant)

Lihat juga...