Jaga Kelestarian Alam, Wisata Jatiluwih Dilengkapi Mesin Pencacah Plastik

TABANAN — Kawasan persawahan Jatiluwih telah menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang ada di Pulau Bali. Hamparan pemandangan sawah dan perbukitan telah menjadikan objek wisata ini ramai dikunjungi baik mancanegara maupun domestik.

Namun disamping itu, pengelola wisata Jatiluwih tidak lupa mempersiapkan wahana wisata yang terletak di Desa Jatiluwih Kecamatan Penebel, Tabanan ini untuk ramah terhadap lingkungan. Salah satunya dengan menargetkan diri sebagai obyek wisata bebas sampah baik organik maupun plastik.

Selain bentuk upaya menjaga ekosistem kawasan Jatiluwih, niat tersebut sekaligus upaya memanjakan para wisatawan yang berkunjung.

“Sebagai upaya untuk mendukung itu semua, jumat (18/1/2018) kemarin, kami sudah meresmikan tempat pengelolaan sampah dengan menerapkan tiga konsep yaitu Reuse, Reduce, dan Reycle, (TPS 3R),” ucap Manager DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa kepada Cendana News, Minggu (21/1/2018).

Tempat pengolahan sampah ini berdiri diatas tanah milik DTW Jatiluwih seluas 10 are dan telah dibangun bersumber dari anggaran APBD Tabanan sebesar Rp644 juta lebih. TPS yang kewenanganya dikelola oleh Manajemen DTW Jatiluwih akan melayani sampah di delapan banjar dan sejumlah restourant.

Namun tidak semua sampah plastik yang dihasilkan baik oleh penduduk maupun sampah dari wisatawan bisa dikelola. Hal tersebut disebabkan karena belum lengkapnya mesin pengolahan sampah.

“Sampah plastik yang dihasilkan memang belum bisa dikelola di TPS ini. Ya ada sekitar 10 persenlah dari total sampah yang diproduksi, namun dari hasil pemilahan itu khusus sampah plastik akan kami jual ke pengempul,” tegas Sutirtayasa.

Diakui, TPS terbentuk berawal dari permasalahan masyarakat yang buang sampah ke kuburan atau ke got. Mengingat Jatiluwih kawasan wisata jika dibiarkan ke depanya akan berakibat fatal.

Terkait anggaran TPS, ia menjelaskan bahwa semuanya dibantu oleh Pemkab, sementara pihak DTW Jatiluwih sebagai pengelola penuh kegiatan ini.

Manager DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtaya (memakai polo t-shirt ungu) saat monitoring pemilahan sampah masyarakat di objek wisata Jatiluwih-Foto: Sultan Anshori

Sutirtayasa pun optimis TPS 3R ini akan berjalan lancar. Tidak ada macet dan lainnya. Sebab sampah sampah organik sekitar 30 persen yang dihasilkan, akan dibuat pupuk dan dijual, begitu juga akan dibuat kerajinan seperti membuat cendramata.

“Disini juga akan didukung desa dan adat kami optimis sekali bisa berjalan dengan baik,” Imbuhnya.

Sementara itu, dihubungi secara terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan, Anak Agung Raka Icwara menyebutkan, terkait belum adanya mesin pengolah plastik, nanti pihaknya akan mengajak pihak pengelola belajar membuat paping plastik ke pabrik plastik di Jember.

Diakuinya, TPS 3R ini bersumber dari anggaran APBD Tabanan sebesar Rp 644 juta lebih. Diawali pembangunan di Bulan Juli 2017 dengan tanah seluas 10 are.

“Saya harapkan ini berjalan maksimal, terkait dengan sisa pengolahan atau residu akan kami ambil untuk dibuang ke TPA Banjar Mandung, Kerambitan,” jelasnya.

Sspeti yang diketahui, saat ini, volume sampah baik rumah tungga dan sejumlah obyek wisata di DTW Jatiluwih berkisar 20 meter kubik per hari. Bahkan 10 persen dari volume sampah tersebut, tidak bisa dikelola dengan baik. Keterbatasan mesin pengolahan merupakan salah satu kendala yang ada.

Lihat juga...