Gendang Beleq, dari Musik Penyemangat Perang Hingga Pameran Kebudayaan

LOMBOK — Salah satu alat musik tradisional masyarakat suku Sasak Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang cukup terkenal dan seringkali dipentaskan dalam setiap acara pemerintahan, Iven, pentas kebudayaan maupun acara lain adalah “gendang beleq” (gendang besar).

Gendang beleq sendiri merupakan alat musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok, berupa gendang berukuran besar menyerupai besuk, dengan cara dikalungkan di leher dan diiringi seruling dan alat musik lain seperti gong, terumpang, pencek, oncer, dan seruling.

Gendang beleq di NTB kerap ditampilkan sebagai musik pembuka maupun penutupan acara – acara resmi pemerintahan. Termasuk acara kunjungan resmi Presiden maupun maupun pejabat pemerintah pusat lain ke NTB.

Musik gendang beleq paling banyak ditampilkan pada pagelaran atau Iven kebudayaan berskala nasional maupun internasional, termasuk sebagai musik pengiring acara “nyongkolan” pada acara pernikahan masyarakat suku Sasak Lombok, dari rumah pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan sebagai rangkaian acara penutup dari sebuah pernikahan.

“Dahulu gendang beleq adalah sebagai musik penyemangat bagi prajurit yang berperang dan yang pulang dari medan peperangan, dengan mendengar musik gendang beleq maka prajurit semakin berani untuk berkorban demi kerajaan,” kata Ketua Majlis Adat Sasak (MAS) Lombok, Mujitahid, Minggu (7/1/2018).

Tapi seiring perubahan zaman dan bentuk pemerintahan, musik tradisional gendang beleq kemudian kerap ditampilkan dalam acara kebudayaan dan acara resmi pemerintahan.

Ketua Majlis Adat Sasak (MAS) Lombok, Mujitahid/Foto : Turmuzi

Dikatakan, untuk bisa memainkan alat musik gendang beleq tidak bisa dilakukan secara sembarangan, selain membutuhkan latihan panjang, supaya bisa menghasilkan seni irama indah, dalam memainkan gendang beleq juga awiq-awiq (aturan) tersendiri dalam memainkan yaitu dimainkan secara berkelompok membentuk okestra yang terbagi menjadi dua yaitu mame (laki-laki) dan nine (perempuan) yang berfungsi sebagai pembawa dinamika.

“Gendang beleq memiliki nilai filosofi bagi masyarakt sasak alat musik ini memiliki nilai keindahan, ketekunan, kesabaran, kebijakan, ketelitian, dan kepahlawanan,” sebutnya.

Ditambahkan, pemain gendang beleq di sebut dengan (sekaha) dan pemain menggunakan pakian adat sasak (gedek nungkek) dan sapuk (ikat kepala khas sasak) dan gedang beleq di gantungkan di leher atau di bahu pemain (sekaha) dan memainkan tanpa kesulitan yang berarti.

Sahabudin, anggota Dewan Kebudayaan NTB mengatakan, musik gendang beleq sekarang ini paling banyak digunakan di tengah masyarakat untuk musik pengiring acara nyongkolan warga masyarakat yang menikah.

“Sekarang ini, selain acara kebudayaan, gendang beleq paling banyak digunakan sebagai musik pengiring acara nyongkolan, selain itu acara resmi pemerintahan,” katanya.

Dikatakan, acara nyongkolan pun tidak semua masyarakat yang menggunakan, hanya sebagian kecil seperti yang keturunan bangsawan, karena harga sewa yang mahal.

Sebagian besar masyarakat lebih banyak memilih musik pengiring berupa kecimol (orgen) dengan alat musik berupa alat musik moderen seperti band, padahal dalam Awik-Awik adat, musik wajib pengatar pengantin melakukan nyongkolan adalah gendang beleq.

Lihat juga...