Geliat Nelayan Pesisir Bangun Bagan Baru Awal 2018

LAMPUNG — Sejumlah nelayan tangkap ikan dengan sistem bagan apung di wilayah pesisir pantai Lampung Selatan mulai kembali bergeliat pasca badai menerjang wilayah pantai tersebut. Badai merusak sejumlah peralatan tangkap ikan di antaranya perahu nelayan, rumpon, keramba jaring apung dan bagan apung.

Angga (30) salah satu pekerja pembuat bagan apung milik Siswanto (40), warga Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni menyebut sudah membuat bagan apung baru sejak bagan apung lama mengalami kerusakan.

Proses pengerjaan dengan sistem borongan dilakukan oleh sebanyak tiga pekerja membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Mereka mengerjakan mulai dari proses perakitan bahan pembuat bagan berupa kayu mahoni dalam bentuk papan, balok, bambu serta peralatan lain.

Semua bahan tersebut diakuinya sudah disediakan oleh pemilik bagan dengan jumlah 5 kubik kayu mahoni dan kayu mangga, 50 batang bambu hitam, blong atau pelampung sebanyak 14 buah, tambang sebanyak 3000 meter, waring 10 meter, lampu LED sebanyak 10 buah.

“Pengerjaan kita lakukan dengan sistem borongan berkisar sepuluh juta sehingga pemilik bagan terima beres untuk proses pencarian ikan di perairan yang bisa dioperasikan akhir bulan,” terang Angga salah satu pekerja pembuat bagan apung milik nelayan setempat saat ditemui Cendana News tengah melakukan penyelesaian pembuatan bagan apung, Rabu (3/1/2018)

Angga memastikan bagan apung yang terbuat dari bambu tersebut sudah akan selesai pada akhir pekan ini pada bagian tempat berteduh atau saung, tiang penyangga serta bagian lantai.

Setelah proses pembuatan bagan selesai ia menyebut proses penyempurnaan akan dilakukan dengan memberi lampu LED, blong pelampung, mesin diesel serta peralatan tambahan lain untuk pengoperasin bagan untuk mencari ikan.

Pembuatan bagan apung untuk mencari ikan disebut Angga membutuhkan biaya sekitar Rp30 juta hingga Rp40 juta untuk proses pembelian bahan baku pembuat bagan dan peralatan bagan hingga siap dioperasikan. Bagi nelayan pemilik modal besar Angga menyebut sebagian memiliki bagan sebanyak 1 hingga 3 unit dengan ukuran lebar 4 meter dan panjang 10 meter.

Angga menyebut bagan yang dibuatnya sejak awal dirinya menjadi tukang pembuat bagan sudah berjumlah sekitar 10 bagan milik beberapa nelayan setempat.

Sebagian besar bagan disebutnya bisa bertahan selama setahun lebih meski sebagian rusak akibat pengaruh badai dan faktor cuaca yang menerjang di wilayah perairan dan merusak bagian tiang penopang dan lepasnya blong.

Salimin (40) salah satu pemilik bagan yang mengalami kerusakan satu bagan dari dua bagan yang dimilikinya mengaku sempat mengalami kerugian hingga mencapai 10 juta. Bagan miliknya harus dibawa ke tepi pantai untuk dilakukan perbaikan.

Kerusakan akibat badai disebutnya membuat bagan apung miliknya harus diganti dengan blong baru. Satu blong plastik disebutnya dibeli dengan harga Rp200 ribu dengan kebutuhan blong sebanyak 14 buah.

“Satu bagan saya aman dari terjangan badai sehingga perbaikan hanya saya lakukan pada satu bagan agar bisa dipergunakan pada awal tahun ini,” beber Salimin.

Bagan apung yang dibuatnya menurut Salimin bisa menghasilkan tangkapan ikan setiap hari mencapai 100 kilogram ikan berbagai jenis dengan omzet bisa mencapai ratusan ribu rupiah, sehingga dalam beberapa bulan ia memastikan biaya operasional pembuatan bagan bisa ditutup dari penjualan ikan.

Beberapa jenis ikan yang kerap ditangkap menggunakan bagan apung disebutnya cukup beragam mulai tongkol,teri,cumi serta berbagai jenis ikan bernilai jual tinggi.

Selain Salimin,sebanyak lima belas bagan apung milik sejumlah nelayan bahkan menjalani proses perbaikan bahkan sebagian nelayan mengawali 2018 dengan membuat bagan baru dan perahu tangkap di Pantai Minang Rua.

Selain berprofesi sebagai nelayan bagan dan perahu sebagian nelayan tradisional di wilayah tersebut juga menggunakan sistem tangkap ikan dengan pancing rawe dasar, jaring, keramba dan alat tangkap tradisional lain.

Cuaca yang bersahabat dengan kondisi angin yang tenang dan perbaikan peralatan tangkap ikan  membuat sejumlah nelayan mulai menggeliat mengawali awal 2018 dengan bagan apung baru yang selesai dibuat dan sejumlah bagan yang selesai diperbaiki.

Bagan apung milik Salimin dan sejumlah nelayan yang menghasilkan tangkapan ikan disebutnya kerap menjadi pemasok utama kebutuhan ikan bagi sejumlah usaha kuliner dan sejumlah pasar untuk melayani kebutuhan masyarakat akan ikan segar.

Angga,salah satu pekerja membuat bagan apung baru pengganti bagan yang rusak paska terimbas badai -Foto:Henk Widi.
Lihat juga...