Dinas: Naiknya Harga Beras di Balikpapan Bukan Karena Kelangkaan
BALIKPAPAN — Seiring naiknya harga beras medium yang terjadi di sejumlah pasar tradisional, Pemerintah melakukan operasi pasar (OP) hingga harga turun sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), Rp9.850 per kilogram. Operasi pasar dilakukan Pemerintah Kota Balikpapan bersama Bulog wilayah Kalimantan Timur dan Utara di sejumlah pasar tradisional.
Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan, M Saufan, menjelaskan yang terjadi saat ini harga beras medium di pasar tradisional, khususnya, Klandasan masih berkisar Rp10.000 hingga Rp12.000. Sedangkan HET untuk beras medium di bawah Rp10.000, sehingga dilakukan operasi pasar yang berlangsung sejak satu pekan ini.

“Harga beras medium untuk HET Rp9.850. Kalau di pasar Klandasan harga beras medium di atas het berkisar Rp10-12 ribu. Untuk mengatasi itu dilakukan operasi pasar untuk medium dengan mensuplai beras medium yang disediakan oleh Bulog,” ungkapnya, saat ditemui Senin, (15/1/2018).
Kenaikan harga beras medium yang terjadi di pasar Klandasan bukan karena kelangkaan stok. Menurutnya, stok saat cukup untuk kebutuhan masyarakat Balikpapan setiap bulannya. Bahkan, stok mencukupi hingga 4 bulan ke depan.
“Stok cukup, pokoknya cukup seberapa pun yang dibutuhkan cukup untuk masyarakat Balikpapan. Cukup sampai 4 bulan, kalau angka tidak kami sebutkan,” ucapnya. tanpa merinci stok beras yang tersedia.
Saufan menilai, kenaikan beras yang terjadi ini karena warga Balikpapan menginginkan beras yang kualitas bagus, sehingga harga agak tinggi. “Yang menyebabkan harga itu di atas HET karena pasar Klandasan adalah pasar elite, dan warga Balikpapan inginnya beras yang kualitas bagus, sehingga kadang-kadang beras itu kualitas bagus harga agak tinggi. Bukan karena kelangkaan stok,” sebutnya.
Untuk itu, pihaknya melakukan operasi pasar di Klandasan, guna mengembalikan harga beras medium sesuai HET dan pengawasan terus dilakukan Dinas Perdagangan pada sejumlah pedagang pengecer.
“Sebenarnya sanksinya tidak diaplikasikan, tapi kami mengupayakan harga itu kembali ke HET. Kalau untuk Klandasan ada 10 pengecer, yang empat sudah menjual beras Bulog sesuai HET. Tinggal 6 pengecer. Besok kami lanjut mengundang pengecer untuk sisanya untuk menjual beras Bulog sesuai HET,” tegas Saufan.
Pihaknya menambahkan, tidak dapat memaksa pedagang menjual beras sesuai HET. Namun, pengawasan terus dilakukan oleh dinas terkait untuk memastikan harga. “Memang kita tidak bisa juga memaksa pedagang menjual beras sesuai HET, bila kualitas barangnya bagus. Memang beras medium dan premium beda-beda tipis,” pungkasnya.