Dewi Sebenarnya Dewi, 10 Tahun Isi Suara Nobita

JAKARTA — Menjadi dubber atau istilah sekarang pelaku suara profesional tampaknya begitu sangat mengasyikkan bagi Dewi Sartika dalam menggeluti pekerjaannya. ‘Dewi Sebenarnya Dewi’, namanya dalam credit title anime Jepang ‘Doraemon’, itu berpengalaman 10 tahun mengisi suara Nobita menjadi bukti dedikasi dan eksistensinya. Tentu butuh keahlian dan kemampuan khusus yang jarang orang punya, bahkan jarang orang bisa melakukannya. Kepiawaian berakting di teater Ketua Umum SuaraPro, asosiasi pelaku suara profesional Indonesia, itu menjadi bekal dan sekaligus juga modal dasar dalam menekuni prefosi yang termasuk sangat unik tersebut.

“Karena terlalu banyak nama Dewi jadi saya ingin menjadi sebenarnya Dewi yang artinya bidadari, “ kata Dewi Kartika tampak penuh percaya diri berbincang dengan Cendana News, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Lebih lanjut, Dewi menerangkan, awal dirinya menggeluti pekerjaannya sebagai pelaku suara profesional dari 94-an awal adanya telenovela. Kemampuan basiknya teater, ia aktif di teater Hijau di Jakarta Utara. Kemudian, bersama para pelajar turut membentuk FKPJ (Forum Komunikasi Pelajar Jakarta) dengan mendirikan Teater Sederhana.

“Kesempatannya ada distributor film dari luar, mereka mengumpulkan para pemain teater dari sanggar-sanggar dan gelanggang-gelanggang remaja untuk ikut workshop yang kemudian langsung berproduksi, ‘learning by doing’, mengenai ‘dubbing’, kita ditest dan baca naskah serta diajari hingga dapat peran utama menjadi Nobita berlanjut sampai sekarang, “ ungkap alumni SMAN 80 Jakarta.

Dewi mengisi suara karakter Nobita dari tahun 2008, yang sebelumnya suaranya diisi oleh Ivonne Rose, tapi dari permintaan EMG disributor film disini, memang katanya dari Jepang ada pergeseran karakter yang sebelumnya cengeng banget dan sering dibully berubah menjadi berani melawan dan menentang bully.

“Di filmnya ada perlawanan dan tidak mau dibully, karakter Nobita ada sedikit berbeda dengan karakter suara sebelumnya. Saya seneng sekali film Doraemon jadi saya sudah tahu karakter Nobita. Anak-anak biasanya punya sifat bandel dan sekarang berani kalau temannya membully serta ada sifat liciknya. Saya tidak terlalu sulit menemukan karakter suara Nobita karena memang sebelumnya saya sudah senang dengan film Doraeman, “ paparnya.

Dalam menjalin chemistry, Dewi mengaku tak mengalami kesulitam, terlebih dengan Doraemon yang diisi suaranya oleh Nurkhasanah, karena peran Nobita selalu bersama dengan Doraeman. “Nobita yang selalu minta tolong Doraeman. Kami ‘team big five’ ada chemstry dan sampai sekarang kita solid sekali. Apalagi dengan Mbak Nurkhasanah yang dituakan karena sudah senior di dubbing. Manjanya seperti di film, “ ujarnya.

Dewi menilai karakter-karakter dalam animasi Doraemon sesuai dengan para pengisi suaranya. Sampai ada yang menganggap seperti ‘casting’ fisik. “Kalau Shizuka diisi suaranya oleh Maria Ulfah memang kecil orangnya imut dan manja, Giant diisi suaranya oleh Wiwied Kazao memang orangnya besar dengan suara besarnya, Suneo diisi suaranya oleh Santosa Amin dengan karakter anak orang kaya yang sombong suka bepergian kesana-sini, sedangkan Doraemon oleh Mbak Nurkhasanah memang sepuh dan keibuan selalu menjadi solusi buat kita dan aku selalu manja sama Mbak kalau bertemu jadi ngepas semua karakternya, “ urainya.

Sepuluh tahun Dewi mengisi suara Nobita yang termasuk sudah cukup berpengalaman.
Dalam mengisi ‘take’ suaranya dulu mereka selalu bareng tapi sekarang bisa ‘jumping’, sendiri-sendiri, satu suara bisa masuk satu orang karena alatnya banyak. Sekarang mereka jarang ketemu, tapi kalau ada acara ‘off air’ pasti mereka kompak ngumpul bareng.

“Kalau suara masuk mesin itu tidak bisa dibohongin, misalnya kita lagi sedih tapi harus mengisi yang besar dengan gambar besar atau teriak. Kalau animasi itu lebih lebay daripada film biasa jadi gambarnya besar banget kalau tidak mencapai itu, kita diingatkan pengarah dialog. Dulu pengarah dialognya Refi, tapi sekarang Mardi. Animasi harus detail banget. Sedangkan, kalau dubbing film orang itu natural. Karena yang dikejar dalam animasi itu ekspresi gambar jadi harus ikut lebay, “ ceritanya.

Mengisi suara Nobita memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dewi, meski di rumah tidak memakai tv kabel, tapi anaknya rajin sekali nonton Doraeman di Youtube.

“Saya bangga dan terharu anakku senang dengan hasil yang saya kerjakan. Bahkan teman-teman anakku ada yang datang ke rumah khusus untuk ketemu saya, “ ucapnya bangga.

Selain Nobita, Dewi juga mengisi karakter antagonis Maria Seleste dalam telenovela ‘Rosalinda’. Sekarang ia melebarkan sayap dari pengisi suara animasi berkembang ke pembaca sebagai narator berbagai acara infotaiment dan preview pertandangan sepakbola dan profil pemainnya di stasiun swasta.

“Sekarang masih tayang program anak-anak edukasi ‘Perangkap’, dimana suara Nobita bertemu dengan suara Spongebobs yang diisi Santosa Amin, “ katanya.

Profesi pelaku suara profesional sebenarnya basicnya memang kan teater artinya dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan bagaimana menciptakan suara yang bagus. Kalau sudah profesional bisa menyelarasan antara teori dan praktek. “Mudah-mudahan sekarang ke arah kita menjadi praktsi yang ahli. Ada kerjasama dengan dinas Kementerian Pendidikan, karena kita dibutuhkan presentasi, diskusi bagaimana bisa berbahasa yang baik dengan performance yang baik, karena teater luas sekali disitu ada puisi dan prosa. Kita sedang mencoba mengembangkan keilmuan kita, “ paparnya lagi.

Harapan Dewi ke depan terhadap profesi pelaku suara profesional, ia ingin punya sertifikasi. “Harapannya juga saya ingin bisa memberi kontribusi ke dunia pendidikan. Mudah-mudahan sampai didengar pemerintah dalam kebijakannya supaya kita dilibatkan,” tegasnya.

Dewi mempunyai tiga anak, tapi ia bebaskan untuk memilih profesi seusai dengan keinginan dan kemampuannya. Anaknya yang pertama memang di multimedia dan broadcasting kuliah di Bandung, tapi anak bontot, anak terakhirnya, suka puisi dan ‘story telling’. “Mudah-mudahan ada yang mengikuti karir saya sebagai pelaku suara profesional, tapi saya bebaskan anak-anak untuk memilih profesi seusai dengan keinginan dan kemampuannya, “ tandasnya.

Lihat juga...