LAMPUNG – Curah hujan tinggi di sejumlah wilayah Lampung Selatan (Lamsel) berimbas pada berkurangnya pasokan berbagai jenis sayuran di sejumlah pasar tradisional.
Kondisi tersebut diakui oleh Samiyem (40), salah satu pedagang sayuran di pasar tradisional Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang, yang menyebut sejumlah sayuran mengalami kenaikan meski di antaranya stabil bahkan cenderung turun.
Sejumlah komoditas sayuran yang naik terutama sayuran yang berasal dari luar wilayah Lampung Selatan. Jenis sayuran yang mengalami kenaikan di antaranya cabe rawit merah, kol dan kentang yang disebutnya banyak didatangkan dari wilayah Bogor dan sebagian dari wilayah Gisting Kabupaten Tanggamus.
Kenaikan harga disebutnya selain terkendala curah hujan tinggi berimbas pada berkurangnya hasil produksi akibat rusaknya sayuran juga distribusi terhambat dari beberapa wilayah.
“Kenaikan harga sudah terjadi di level distributor sehingga kami pedagang pengecer ikut menaikkan harga agar bisa tetap berjualan. Khususnya stok barang dari luar wilayah hampir merata naiknya,” terang Samiyem, salah satu pedagang tradisional di pasar Desa Sripendowo saat ditemui Cendana News, Kamis (11/1/2018).

Sejak dua pekan terakhir, ia memastikan, harga komoditas mengalami perubahan kenaikan dan penurunan berkisar Rp500 hingga Rp2000. Komoditas tomat sebelumnya Rp8.000 oleh pedagang dijual dengan harga Rp7.000 per kilogram, wortel sebelumnya Rp12.000 menjadi Rp11.000 per kilogram, terong per ikat dijual stabil dengan harga Rp6.000 per kilogram, sawi per ikat seharga Rp3.000, kacang panjang per ikat Rp3.000, bayam per ikat Rp4.000, jagung manis per kilogram Rp7.000.
Selain jenis sayuran tersebut pedagang lain, Sutiah (41) juga menjual sayuran dengan harga yang masih stabil di antaranya labu siam perkilogram dijual Rp5.000 per kilogram, mentimun Rp5.000 per kilogram, jagung muda sayur Rp5.000 per kilogram.
Jenis bumbu dapur di antaranya lengkuas, kunyit, kemiri dan ketumbar disebutnya dijual dengan sistem bungkusan dari kisaran harga Rp1000 per bungkus hingga Rp2.000 terutama jenis bumbu yang sudah diblender siap pakai.
“Faktor hujan memang kerap membuat harga turun naik terlebih jenis sayuran yang saya datangkan dari distributor luar Lampung,” tegas Sutiah.
Sutiah menyebut, jenis sayuran kol yang semula seharga Rp8.000 naik menjadi Rp11.000 terutama sayuran yang didatangkan dari Bogor dan dari Gisting. Ia juga menyebut, cabai rawit lokal atau cabai rawit kampung semula seharga Rp35.000 per kilogram dijual menjadi Rp38.000 per kilogram.
Sementara cabai asal pulau Jawa jenis rawit dijual dengan harga Rp39.000 per kilogram. Jenis bawang asal Brebes disebutnya semula dijual Rp20.000 kini menjadi Rp23.000 dan bawang merah asal Padang dijual Rp21.000 padahal semula Rp19.000 per kilogram. Bawang putih stabil di angka Rp22.000 per kilogram.
Sejumlah ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar tradisional Desa Sripendowo mengaku kenaikan harga sayuran tidak terlalu berpengaruh terhadap daya beli.
Neny, salah satu ibu rumah tangga menyebut, kenaikan harga cukup memberatkan justru pada harga beras asalan dan medium yang mulai merangkak naik. Semula hanya Rp8.000 per kilogram bisa naik hingga ke angka Rp12.000 per kilogram.
Ia berharap pemerintah melalui instansi terkait bisa melakukan operasi pasar beras seiring dengan kenaikan bahan pangan pokok tersebut.
