Ketika Pak Harto berkunjung ke Ndalem Kalitan (tempat saya pernah bertugas), Solo, jauh sebelum masa reformasi, Presiden kedua Republik Indonesia tersebut menyatakan kepada saya, ”Kuwi mengko Habibie bakal ngganti aku (Nanti suatu saat, Habibie bakal mengganti saya, Red).”
Mendengar pernyataan futuristik tersebut, saya tertegun. Tidak lama setelah peristiwa itu, Pak Harto mengangkat Habibie menjadi Menteri Riset dan Teknologi dan berhasil membuat Pesawat terbang. Berdasarkan dua fakta tersebut, saya menduga, sebenarnya, Habibie cukup dekat dengan Pak Harto.
Dugaan saya tersebut semakin terbukti, ketika saya mengunjungi Universitas Nurtanio pada tahun 1988, dengan disambut oleh Habibie dan mendengar paparan darinya langsung. Paparan saat itu, program Nurtanio sedang memproduksi pesawat Helly yang dapat berputar 3600, Pesawat CN 235, dan N250 Tetuko, produksi sayap Pesawat F15, serta ekor Pesawat F 16. Saat itu, Presiden Soeharto sangat mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya program ini.
Saat itu, Habibie menjadi sosok yang berupaya pada pembangunan teknologi, seiring dengan kondisi pemerintahan Pak Harto yang memiliki cukup dukungan dana. Bagi Habibie, ketika Indonesia sudah bisa membuat pesawat, maka tidak akan ada yang bertanya, Indonesia sudah bisa membuat mobil atau belum? Dalam pemikiran Habibie, pembangunan yang maju juga diperlukan sumber daya manusia yang maju juga. Dan ternyata, visi tersebut merupakan langkah awal dari kiprah politiknya membentuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dengan didukung oleh Amien Rais. Langkah politik Habibie menjadi ketua ICMI, meskipun terjadi pertentangan dan penolakan, tapi kemudian banyak yang menyetujui.
Dalam pandangan saya, Habibie menjadi pintu pembuka dari kemelut puncak masa reformasi. Berbagai gejolak dan perubahan terjadi, seiring tampilnya Habibie sebagai tokoh politik, serta peranan ABRI dalam penanganan masalah Timor Timur. Pada periode akhir kepemimpinan Pak Harto, berbagai pemikiran atas perlunya suksesi, sudah bergulir dalam setiap kegiatan dan perkumpulan. Orang berasumsi, yang layak menggantikan Presiden Soeharto adalah Try Sutrisno. Sesuai ramalan Joyoboyo NOTONAGORO, nama akhir Try Sutrisno jatuh pada suku kata No (No= Sukarno, To= Soeharto, No= Try Sutrisno). Ramalan atas Try Sutrisno habis ketika Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden.
Pada akhirnya, ramalan Pak Harto bahwa Habibie akan menggantikannya, ternyata benar. Jika Habibie tidak menjadi Wakil Presiden, apakah reformasi bisa berhasil? Tapi, bagaimana lagi, Pak Harto terlanjur menaruh harapan kepada Habibie. Berbagai catatan saya atas Habibie, didasari atas arsip Timor Timur dari Australia, konsep politik Amerika terhadap Indonesia, rencana Amerika mengakhiri dan membangun struktur politik dan ekonomi dunia baru, serta penyelesaian masalah Timor Timur. Dari semua dokumen tersebut, saya mendapati, pembangunan Indonesia akan berakhir pada tahun 2000, dan kehidupan komunis akan berakhir setelah Leonid Brechnev.
Dalam penelusuran saya, ada hubungan antara kepentingan Amerika dan Timor Timur. Dalam suatu pertemuan di Thailand, seorang Jenderal Amerika yang tergabung dalam pasukan di satuan Asia Pasifik mengatakan, ”Eko, nanti pada tahun 2000, saya akan datang ke Indonesia. Tunggu saja ya.”
”Untuk apa? Bukankah kita sekarang sudah bersahabat baik?” tanya saya balik.
”Ini masalah lain dan memerlukan Amerika di sana,” jawabnya.
Setelah 15 tahun berlalu, baru saya sadar, ternyata Amerika datang ke Timor Timur dan ikut campur kepentingan dalam penyelesaian masalah di Timor Timur. Habibie hanyalah Presiden Transisi. Ketika reformasi bergulir, lalu poros tengah mengajukan konsep reformasi kepada Presiden Soeharto, saya mengawal proses tersebut. Meskipun ditugaskan mengawal proses reformasi, seorang senior saya menghardik dengan kalimat, ”Kamu diam tutup mulut dan saksikan! Nanti kamu akan tahu sebenarnya apa yang terjadi! Sebentar lagi, hidup kita akan menjadi saksi reformasi.”
Saat itu, Reformasi yang dikawal Habibie mengamanatkan, kegiatan reformasi akan dilakukan secara bertahap, yaitu masa transisi, penyelenggaraan pemilu, dan pembentukan pemerintahan reformasi. Para pelaku reformasi dari kalangan kiri, tidak berani secara terang-terangan menyatakan, PKI akan bangkit, pemahaman Pancasila lahir 1 juni 1945, kemudian maraknya paham komunisme di kalangan mahasiswa.
Bagi saya, lepasnya Timor Timur adalah blunder seorang Habibie. Segala blunder Habibie di Timor Timur telah saya torehkan dalam buku saya yang berjudul Seroja yang Hilang. Semua dokumen, saksi, dan pelaku sejarah menyebut adanya peranan Habibie. Bahkan, beberapa dokumen menyebut, betapa sinisnya Habibie memandang kebijakan Indonesia terhadap Timor Timur. Salah satu sumbernya adalah media Kompas. Berikut ini berbagai kutipan kalimat Habibie yang sangat blunder ketika diwawancara Media Massa ;
”Apa kamu bilang mempertahankan Timor Timur? Timor Timur hanya menimbulkan masalah dan menjadi beban bagi bangsa Indonesia. Mengerti?!”
”Sudah. Saya tidak mau tahu, ini Timor Timur bukan urusan saya, tetapi urusan kamu semua. Pokoknya masalah Timor Timur harus selesai dan Timor Timur akan lepas secara resmi dari kita pada bulan Februari 2000.”
”Sudah, kita lepas saja Timor Timur. Masalah beres. Timor Timur Lepas, Indonesia akan bebas dan tenang.”
Bagi saya, cara Habibie berpolitik ini adalah politik amputasi. Sebagai seorang Insinyur lulusan Jerman, Habibie terlalu teknis dalam mengatasi masalah politik. Perspektif terlalu teknis ini, menjadi fatal ketika menangani masalah di Timor Timur. Tanpa berkoordinasi dengan staf, ahli tata negara, serta sejarawan Indonesia, Habibie langsung bertindak sendiri. Habibie hanya berpikir untuk kepentingan program, tanpa berpikir panjang terhadap masa depan bangsa Indonesia. Untungnya, Habibie menjadi Presiden hanya beberapa tahun. Saya tidak bisa membayangkan, bila sampai satu periode, berbagai masalah lain akan diselesaikan dengan cara lebih parah. Jika Habibie diberi kesempatan menggunakan politik amputasi, maka pelan-pelan, Indonesia akan raib, hanya tersisa Pulau Jawa dan Madura. Bangsa Indonesia perlu belajar, menjadi seorang Presiden tidak bisa hanya bermodalkan kepintaran saja, melainkan diperlukan faktor pendukung lain.
Melihat kejadian lepasnya Timor Timur dari Indonesia, Pak Harto sangat menyesal dan sedih mendalam. Pak Harto sangat kecewa kepada Habibie. Bahkan, Pak Harto berulang kali mengatakan soal Timor Timur, ”Kenapa harus seperti itu?”
Blunder Habibie, selain lepasnya Timor Timur, yaitu berakhirnya Dwi Fungsi ABRI. Pak Harto menyebut, ”Membangun integrasi (Timor Timur) tidak mudah, yaitu dengan darah dan pengorbanan nyawa.”
Yang membuat kita terhenyak, Pak Harto gamblang menghardik,”Habibie itu bagaimana? Aku presidennya. Kok aku malah ora ngerti (kok saya tidak tahu)?”
Bagi saya, Habibie melakukan blunder ketika malah menjadi bagian dari reformasi dan tidak membantu menyelesaikan masalah. Hingga menjelang wafat, Pak Harto tidak mau bertemu dengan Habibie. Hubungan Habibie dan Pak Harto adalah gambaran tentang manis dan lembutnya persaudaraaan dan pahit getirnya sebuah permasalahan. Ini semua merupakan bagian dari perjalanan sebuah bangsa yang di dalamnya memerlukan peranan Pak Harto dan Habibie. Maka, berlaku ungkapan orang bijak yang menyatakan, ”Kalau berteman jangan terlalu akrab. Semakin dekat kita berteman, maka semakin dalam luka yang ditimbulkan.”
*Eko Ismadi adalah Pengamat Sosial Politik dan Militer