Anak-Anak Pantai Belebug Kumpulkan Batu Apung Raup Rupiah

LAMPUNG — Tinggal di kawasan pesisir pantai membuat anak anak Dusun Karangendah, Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni akrab dengan Pantai Belebug, yang menjadi objek wisata bahari di wilayah tersebut.

Akses jalan yang memadai dengan rabat beton membuat wisatawan kerap datang ke objek wisata, yang menyajikan pasir putih, bebatuan apung serta keindahan Pulau Sekepol saat akhir pekan. Para wisatawan menikmati suasana sembari menunggu nelayan menepi membawa ikan hasil tangkapan dengan perahu katir.

Pantai juga menjadi tempat bermain bagi anak anak usia sekolah SD hingga SMP yang berlokasi tak jauh dari pantai, sembari menunggu orangtua bekerja di warung di objek wisata Pantai Belebug tersebut.

Susilawati (13), seorang siswi SMP kerap membantu sang ibu pemilik sebuah warung di objek wisata tersebut. Dia rajin mengumpulkan batu apung yang banyak memenuhi area pantai di wilayah tersebut.

“Batu kambang atau batu apung kerap dicari oleh pengepul untuk dijadikan alat mencuci perabotan rumah tangga. Sebagian dipergunakan untuk hiasan. Kami di sini sembari bermain mengumpulkan batu apung,” ujar Susilawati saat ditemui Cendana News, Rabu (24/1/2018)

Batu apung dikumpulkan dalam karung karung bekas pakan udang. Oleh pemesan batu apung per karung dengan berat mencapai 10 kilogram kerap dibeli seharga Rp15.000.

Selain mencari batu apung, Susi mencari cangkang kerang dan batu karang unik yang sudah mati dan kerap diburu oleh para penghobi akuarium.

Setiap dua pekan Susilawati bersama dengan kawan kawannya mengaku bisa mengumpulkan sekitar 10 hingga 20 karung. Saat dibeli oleh pengepul dirinya bisa memperoleh uang sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 dan dipergunakan untuk membeli keperluan sekolah.

Batu apung disebut Susilawati semakin bertambah banyak di sepanjang Pantai Belebug, pasca badai melanda wilayah tersebut. Sebagian batu apung dari wilayah pesisir lain menepi terbawa ombak.

Pencarian batu apung yang dikerjakan secara berkelompok. Hasil penjualan akan dibagikan secara merata saat barang barang tersebut sudah terjual.

Selain batu apung, anak-anak juga mengumpulkan sampah yang bernilai jual. Sampah yang tak bernilai jual tetap dikumpulkan pada satu tempat dan dibersihkan dengan cara dibakar agar objek wisata tersebut bersih dan nyaman.

Beberapa sampah yang memiliki nilai jual disebutnya berupa sampah botol air mineral, hasil buangan pengunjung sebagian dari laut dan terdampar di tepi pantai.

Kegiatan mencari sampah berupa botol-botol air mineral dan plastik disebutnya dilakukan sembari bermain dan sesekali membantu sang ibu yang berjualan makanan dan minuman ringan di kawasan wisata pantai tersebut.

Nuraini (30),sang ibu yang berjualan makanan dan minuman ringan bagi pengunjung objek wisata Pantai Belebug mengaku tidak melarang anaknya bermain di sekitar pantai, terlebih saat kondisi cuaca bersahabat. Angin yang tidak terlalu kencang dan ombak tenang sehingga tidak membahayakan.

Pada hari biasa anak anaknya tetap melakukan kegiatan belajar di sekolah, sementara saat hari libur membantu berjualan di objek wisata tersebut.

“Awalnya anak saya hanya bermain dengan mengumpulkan batu apung. Namun ada yang memesan secara rutin sehingga sembari bermain bisa mencari batu apung dan mengumpulkan sampah,” terang Nuraini.

Saat hari biasa Nuraini membuka warung di Pantai Belebug tersebut sejak pukul 08:00 pagi dan akan pulang ke rumahnya sekitar pukul 17:00. Dia dibantu oleh Susilawati dan rekan rekannya yang datang ke pantai tersebut setelah pulang sekolah.

Meski kerap bermain di tepi pantai dan mencari batu apung untuk mendapatkan uang, Nuraini menyebut tetap meminta anaknya membawa buku dan mengerjakan tugas sekolah, yang bisa dilakukan di warung miliknya di tepi pantai.

Lihat juga...