Akademisi: Orang Utan Diduga Pernah Hidup di Pulau Jawa
YOGYAKARTA – Spesies orang utan diduga pernah hidup di daratan pulau Jawa. Hal itu terindikasi dengan ditemukannya fosil orang utan di daerah Pacitan, Jawa Timur. Namun, adanya konversi lahan akibat peningkatan populasi manusia diduga menyebabkan orang utan di wilayah pulau Jawa punah.
Hal tersebut diungkapkan mahasiswa program pascasarjana Fakultas Biologi Dr. Ike Nurjuita, saat mengungkapkan diseminasi hasil penelitiannya tentang adaptasi orang utan di hutan lindung setelah dilepas dari pusat rehabilitasi, di Fakultas Biologi UGM, Jumat (19/1/2018).
Ike menyebut, orang utan diduga kuat awalnya hanya berasal dari satu spesies. Namun, saat ini ditemukan dua spesies di Pulau Sumatera, yakni orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dan orang utan Sumatera (Pongo abelii). Sedangkan satu spesies lagi adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang ada di pulau Kalimantan.
Munculnya dua spesies orang utan di Sumatera, kata Ike, besar dugaan akibat perubahan genetik akibat letusan Toba. “Dugaan awal karena adanya Gunung Toba meletus sehingga ada barrier dari letusan itu,” katanya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, orang utan diketahui memiliki perilaku suka hidup di daerah dataran rendah. Kesukaannya yang mencari makan di dataran rendah menyebabkan sering berhadapan dengan manusia.
“Orang utan dan manusia sama-sama senang hidup di dataran rendah. Di Kalimantan itu mereka terfragmentasi karena di sana dataran tinggi hanya 700-800 mdpl. Bahkan di Sumatera, sekitar 75 persen hidup berada di luar kawasan konservasi,” kata Ike.
Ike menilai, kesukaan orang utan yang hidup di dataran rendah yang menyebabkan populasi mereka terus menyusut, apalagi satwa yang dilindungi ini juga suka mengkonsumsi pakan berupa buah-buahan, daun, rotan dan serangga.
“Orang utan memang mengeksplorasi habitat alaminya. Namun, pergerakan mereka mengikuti sebaran pohon sarang dan pohon pakan,” katanya.
Seperti diketahui, Orang Utan merupakan salah satu dari empat hewan kera besar yang hidup di benua Asia, namun saat ini hanya ditemukan di pulau Sumatera dan Kalimantan.
Berdasarkan estimasi terakhir, sekitar 14.470 orang utan masih tersisa di Sumatera dan 57.350 orang utan di Kalimantan. Populasi mereka semakin berkurang akibat habitatnya berganti, akibat konversi lahan untuk sawit dan tambang, perburuan dan perdagangan liar.
Berdasarkan penelitian terhadap 16 orang utan yang dilepas ke bukit Batikap, diketahui orang utan memiliki umur rata-rata yang hampir sama dengan manusia, yakni 60-65 tahun, bahkan ada yang berumur sampai 70 tahun. Namun, orang utan yang tinggal di hutan rata-rata hanya berumur 55 tahun.
Selama umur 0-8 tahun, orang utan menyusui dengan induknya. Hingga menjelang remaja 12 tahun, biasanya orang utan masih mengikuti sang induk. Orang utan jantan dewasa suka menjelajah hutan bertahun-tahun lamanya, namun setelah tua akan pulang ke habitat awalnya. “Bisa dibilang pulang kampung,” katanya.
Orang utan umumnya melakukan aktivitas sejak matahari terbit hingga menjelang matahari terbenam. Mereka sering memakan buah-buahan, dedaunan, rotan, madu, dan minum air dari batang pohion. ”Saat kita teliti di hutan, ada yang unik, orang utan betina suka menggunakan stik saat makan serangga. Ini yang kita temukan di bukit Batikap,” katanya.