Aan Ratmanto Menguak Sejarah ‘Jogja Kembali’
JAKARTA – Menjalani profesi sebagai seorang peneliti tentu punya tantangan tersendiri bagi Aan Ratmanta. Apalagi penelitian sejarah, yang bisa dibilang “kering”. Artinya tidak menghasilkan nominal besar.
Padahal, sebuah negara besar adalah negara yang menghargai sejarahnya. Aan termasuk jeli menguak sejarah yang tak terjamah. Berangkat dari tesis dengan kelangkaan studi pusaka, ia menemukan dua bundel di perpustakaan Museum Kodam IV/Diponegoro, Semarang, yang mengantar namanya sebagai peneliti muda yang handal.
“Dari mulai S1 saya kajiannya memang revolusi periode 1945-1949, skripsi saya tentang Pasukannya Soeharto namanya Wehrkreise III yang terlibat dalam Serangan Umum 1 Maret,“ kata Aan Ratmanto kepada Cendana News, menuturkan awal ketertarikan meneliti saat bertandang ke kantor Cendana News, Selasa (9/1/2018).
Lebih lanjut, lelaki kelahiran Bantul, Yogyakarta, 25 Juni 1983, itu menerangkan, skripsinya berjudul ‘Pasukan Wirkres III Penjaga Kedaulatan Republik Indonesia di Jogjakarta’, dibuat karena dulu Yogyakarta sebagai Ibukota Indonesia, yang jelas sebagai penjaga simbol Kedaulatan Republik Indonesia. Pasukan tersebut sangat berperan dalam Serangan Umum 1 Maret.
Menurut Aan, dalam perjuangan, diplomasi sangat mendongkrak. Nanti sampai ke Persetujuan Roem Royen, efeknya memang untuk membantu perjuangan diplomasi. “Karena di PBB, menurut Muhammad Roem, hebatnya pertempuran suatu wilayah di daerah konflik bisa jadi bahan untuk disidangkan di Dewan PPB. Makanya, Serangan Umum 1 Maret menjadi bahan mereka untuk berdebat dengan Belanda dan akhirnya jadi terbukti, “ ungkap jebolan S-1 Jurusan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, yang kini sedang menempuh pendidikan S-2 Jurusan Sejarah Universitas Gajah Mada.
Aan menyampaikan sewaktu tesis, ia menemukan dua bundel arsip di Perpustakaan Museum Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, yang pertama judulnya ‘Laporan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tentang situasi politik’, dan yang kedua, ‘Laporan Penarikan Tentara Belanda dari Jogjakarta’.
“Yang kedua dinamakan Jogja Kembali, yang saya jadikan tesis. Sedangkan, yang pertama saya jadikan buku berjudul ‘Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia Yogyakarta 1949’,“ paparnya.
Penarikan Tentara Belanda ternyata belum banyak dibahas orang, dan orang Belanda pun belum ada yang membahas. “Makanya, saya tertarik. Penarikan Tentara Belanda di Indonesia itu pertama kali di Yogyakarta, karena sebagai Ibukota. Nah, itu belum ada yang menulis selama saya studi pustaka dari 2009 sampai sekarang, saya belum menemukan buku yang khusus membahas itu,” paparnya lagi.
Padahal, Jogja Kembali punya nama besar. Di Jogja ada Monjali (Monumen Jogja Kembali), banyak orang yang mengira itu, padahal bukan. “Belum banyak yang menangkap dari perspektif, bahwa Jogja Kembali itu transfer kekuasaan sipil-militer dari tangan Belanda ke tangan Republik sebelum pengakuan kedaulatan,“ tegasnya.
Jadi, sebelum Pemerintah RI dipulihkan ke Yogyakarta. Tentara Belanda ditarik dulu dan dikosongkan sesuai Resolusi PBB 28 Januari. “Kemudian disepakati antara Belanda-RI lewat Persetujuan Roem Royen yang salah satu isinya penarikan Tentara Belanda,” tandasnya.