10 Tahun Bank Sampah Gemah Ripah Bantul Kelola Sampah
YOGYAKARTA – Bank Sampah Gemah Ripah di Dusun Badegan, Bantul, merupakan salah satu pionir keberadaan bank sampah di Kabupaten Bantul, bahkan mungkin di Indonesia. Bank Sampah Gemah Ripah ini sudah berdiri sejak 10 tahun silam, saat keberadaan bank sampah belum menjamur seperti sekarang.
Adalah Bambang Suwerda, pendiri sekaligus pencetus bank sampah Gemah Ripah Bantul. Dosen Politeknik Kesehatan Yogyakarta ini berinisiatif mendirikan bank sampah pascagempa bumi yang melanda Yogyakarta pada 2006. Banyaknya sampah yang bertumpuk selama proses rekonstruksi gempa, mendorongnya mengelola sampah di lingkungan sekitarnya.
Sebelum menjadi bank sampah dengan ribuan anggota dan dikenal sebagai bank sampah berprestasi di Indonesia, bank sampah Gemah Ripah awalnya hanya bank sampah kecil yang dikelola di tingkat RT. Tepatnya di RT 12 Dusun Badegan, Bantul, yang menjadi tempat tinggal Bambang.

“Sebelum menjadi bank sampah, awalnya kita hanya melakukan daur ulang sampah. Barang bekas yang banyak terdapat di lingkungan RT, kita kumpulkan untuk kita olah menjadi barang berguna,” ujar pengurus Bank Sampah Gemah Ripah, Sri Hartini, Rabu (24/01/2018).
Bersama warga lainnya, Bambang kemudian mendirikan bank sampah Gemah Ripah sebagai tempat pengumpulan sampah. Ia tak henti menyosialisasikan manfaat pengelolaan sampah tersebut kepada semua warga. Baik itu di wilayah RT lain, hingga ke tetangga desa. Sasarannya adalah kelompok-kelompok PKK, arisan, dan sebagainya.
“Saat itu, kita masih memanfaatkan rumah milik salah seorang warga untuk lokasi bank sampah. Kita juga hanya buka setiap tiga hari sekali, itu pun hanya sore hari saja. Karena saat itu belum banyak warga yang mau mengumpulkan sampah. Sangat sulit sekali mengajak warga mengumpulkan sampah. Bahkan, selama beberapa bulan, awalnya hanya para pengurus saja yang mau menabung sampah,” katanya.
Dengan sosialisasi yang dilakukan secara terus-menerus tiada henti, secara perlahan semakin banyak warga yang sadar dan mau menyetorkan sampah ke bank sampah Gemah Ripah. Dengan struktur kepengurusan yang jelas dan tertata, bank sampah Gemah Ripah berjalan sebagaimana bank pada umumnya.
Setiap warga yang menabung dalam bentuk sampah akan mendapatkan buku rekening, berisi catatan jumlah uang yang didapat dari hasil menjual sampah. Jika sudah terkumpul banyak, uang tabungan itu bisa diambil oleh setiap nasabah.
“Setelah berjalan beberapa tahun, kita akhirnya memiliki ratusan nasabah. Kita bahkan menyewa tempat khusus untuk menampung sampah warga. Hingga akhirnya kita dibantu pemerintah maupun pihak CSR BUMN, bisa memiliki lokasi sendiri tanpa mengontrak,” katanya.
Kini, Bank Sampah Gemah Ripah memiliki 1.218 nasabah yang secara rutin menyetorkan sampah. Mereka tidak saja berasal dari sekitar Bantul, melainkan juga dari Yogyakarta, bahkan hingga Kulonprogo. Selain kelompok warga, nasabah juga biasanya berasal dari instansi seperti sekolah atau badan pemerintah.
“Belum semua sampah yang terkumpul bisa kita olah atau daur ulang. Sehingga sampah itu kita kembalikan ke pabrik melalui mitra kerja. Biasanya kita panen setiap seminggu sekali. Sekali panen kita bisa mengumpulkan uang hingga Rp500-700 ribu,” katanya.
Selain menjadi bank sampah induk di Bantul, Bank Sampah Gemah Ripah yang pernah ditetapkan sebagai bank sampah terbaik tingkat nasional oleh Kementerian LHK ini, juga rutin dikunjungi pegiat lingkungan dan bank sampah dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri. Mereka datang untuk belajar mengelola sampah.
“Meski telah dikenal dan memiliki ribuan anggota, sampai saat ini kita masih rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Agar semakin banyak masyarakat yang mau mengelola sampah,” pungkasnya.