Tingkatkan NTP Holtikultura, Tiga Cara Dilakukan Pemda NTB

MATARAM – Masih rendahnya Nilai Tukar Petani (NTP) dibandingkan komoditas pertanian lain yang masih berada di bawah 100 persen diakui Dinas Pertanian NTB menjadi pekerjaan yang harus segera dituntaskan.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) NTB, Husnul Fauzi mengatakan, soal masih rendahnya NTP holtikultura tidak harus diperdebatkan. Sebab Pemprov NTB sekarang sedang berupaya bagaimana supaya NTP holtikultura bisa dinaikkan dari 84,36, setidaknya berdasarkan hasil rilis BPS bisa mengalami kenaikan lebih tinggi.

“Tahun ini sebelum tutup tahun, NTP kita targetkan bisa naik menjadi 99 atau bahkan bisa naik lebih tinggi sampai 100 persen,” kata Fauzi di Mataram, Selasa (5/12/2017).

Menurutnya, ada tiga faktor yang menyebabkan kenapa NTP holtikultura masih di bawah 100 persen. Pertama terkait tidak adanya standar harga yang jelas sebagai regulasi yang melindungi petani dalam bentuk Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Tanaman cabai. Foto: Turmuzi

Karena itulah, menyikapi hal tersebut, Pemprov NTB telah bersurat kepada Presiden Jokowi, supaya beberapa jenis tanaman holtikultura seperti cabai, bawang putih dan tomat bisa dibuatkan HPP.

“Dengan adanya HPP tersebut, selain melindungi petani dari kerugian, petani juga bisa menikmati keuntungan seperti halnya petani jagung dan bawang merah yang lebih dahulu telah memiliki HPP dan sudah kita lakukan, tinggal menunggu persetujuan Presiden,” kata Fauzi.

Komoditas pertanian holtikultura juga kerap menjadi pemicu inflasi. Selanjutnya yang kedua adalah memperbanyak tempat pasokan atau pasar di setiap lini, termasuk mengatur bagaimana kalau sudah jadi petani tidak perlu jadi pedagang, sehingga petani ada, pengepul dan yang memasarkan juga ada.

Selanjutnya lagi, yang ketiga, mengedukasi petani, supaya dalam menanam tanaman holtikultura jangan terlalu banyak pupuk. Supaya jangan cepat hancur kalau cabai banyak pupuk, misalnya yang seharusnya memakai empat kuintal pupuk, dipakai lebih dari itu.

“Tanaman holtikultura yang terlalu banyak bahan kimia seperti cabai misalnya, ketika berbuah, memang buahnya besar. Tapi kalau terlalu banyak bahan unsur kimianya, ketika kena air cepat rusak atau membusuk,” terangnya.

Tapi, lanjutnya, kalau unsur kimianya pas-pasan, walaupun pohonnya dicabut, bisa bertahan sampai berhari-hari. Itu yang harus diedukasi kepada masyarakat, baik petani, pengepul maupun pedagang.

Sebelumnya, hasil survei BPS NTB, dibandingkan bulan November 2017, Nilai Tukar Petani (NTP) dari semua jenis komoditi pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kenaikan, yakni sebesar 107,63 persen, lebih besar dibandingkan bulan Oktober yang hanya sebesar 107,20 persen, ada kenaikan sebesar 0,40 persen.

Pada bulan November 2017 tercatat NTP tanaman pangan sebesar 111,47 persen, NTP holtikultura 84,36, NTP tanaman perkebunan rakyat 96,59, NTP peternakan 120,52 dan NTP perikanan 105,59.

Untuk NTP perikanan dirinci lagi menjadi NTP perikanan tangkap tercatat sebesar 114,24 dan NTP perikanan budidaya tercatat 91,64, sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) bulan Nopember 2017 sebesar 116,02 atau meningkat 0,77 persen dibandingkan dengan bulan Oktober 2017 sebesar 115,13.

“Sebagian besar NTP bernilai di atas 100 persen kecuali untuk subsektor holtikultura yang masih tetap berada di bawah 100 persen, yaitu sebesar 93,33,” katanya.

Ditambahkan, untuk NTP sub sektor lain masing-masing, peternakan 131,47, tanaman pangan 117,00, perikanan 113,82 dan tanaman perkebunan rakyat 107,65. Meski demikian selama bulan November juga terjadi inflasi di daerah pedesaan NTB sebesar 0,57 persen.

Lihat juga...